POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Teungku Chik Tanoh Abee; Ulama Mujahid dan Qadhi Rabbul Jalil Aceh

Nurkhalis MuchtarOleh Nurkhalis Muchtar
April 23, 2025
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc. MA

Teungku Chik Tanoh Abee, berasal dari keturunan ulama dan pejuang. Asal muasal keturunan Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee berasal dari Timur Tengah, tepatnya di Baghdad Irak. Teungku Chik Abdul Wahab merupakan generasi kelima dari Syekh Fairus al-Baghdadi, seorang ulama besar  Baghdad yang hijrah ke Aceh pada masa kesultanan Sultan Iskandar Muda. 

Syekh Fairus berangkat ke Aceh, ketika di Baghdad berkuasa pemimpin yang berbeda pemahaman agama dengannya. Tiba di Aceh, melihat keilmuan dan keulamaannya, maka Sultan Iskandar Muda mengangkat Syekh Fairus sebagai Qadhi Rabbul Jalil yaitu penasehat agama untuk Panglima Sagi satu tingkat di bawah Qadhi Malikul Adli yang dikenal dengan Syekhul Islam atau penasehat kerajaan yang masyhur dengan istilah Mufti seperti Syekh Abdurrauf al-Singkili.

Syekh Fairus memiliki anak, namanya Teungku Chik Nayan al-Fairusi yang merupakan murid dari Syekh Baba Daud Rumi, pengarang kitab Masailal Muhtadin, seorang ulama berdarah Turki, murid dari Syekh Abdurrauf Singkel yang kedua-duanya berkubur di Kuala. Disebutkan bahwa Syekh Nayan al-Fairusi diperintahkan oleh gurunya Syekh Daud Baba Rumi setelah menyelesaikan pendidikan di Dayah Leupeu Peunayong, untuk membangun lembaga pendidikan sendiri di Tanoh Abee. Sehingga generasi selanjutnya setelah Syekh Nayan yang memimpin lembaga pendidikan Tanoh Abee atau Dayah Tanoh Abee disebut dengan Teungku Chik di Tanoh Abee. 

Pelanjut Dayah Tanoh Abee setelah Syekh Nayan al-Fairusi merupakan Teungku Chik Abdurrahim al-Hafidz yang generasi berikutnya dipimpin oleh Teungku Chik Muhammad Saleh al-Fairusi. Beliau pengarang Kitab Asrarul Hudud yang juga menjabat sebagai Qadhi Rabbul Jalil ayah dari Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee, yang merupakan karib dari Teungku Chik Di Tiro Pahlawan Nasional. 

Teungku Chik Abdul Wahab wafat di tahun 1894 dalam pengasingannya. Sebelumnya di tahun 1891 telah wafat terlebih dahulu Teungku Chik Di Tiro setelah memimpin perang selama sepuluh tahun 1881-1891. Masa perang yang paling kelam dalam peperangan Belanda, di mana mereka hanya mampu bertahan di benteng-benteng mereka. 

📚 Artikel Terkait

1000 Sepeda untuk Masyarakat Aceh : Pentingkah?

Musim Sepeda (Jangan) Berakhir?

Balai Guru Penggerak Gelar Rakor Program Prioritas dengan Disdik Aceh, Cabdisdik dan Disdisbud

Serakah Teguk Derita

Karena pada masa ini banyak Teungku Chik atau ulama besar yang ikut memperkuat perjuangan Teungku Chik Di Tiro seperti: Teungku Chik Pantee Kulu, Teungku Chik Dirundeng, Teungku Chik Oemar Diyan, Teungku Haji Muda Kruengkalee, Teungku Chik Ahmad Buengcala, Teungku Chik Pentee Gelima dan banyak para ulama dan bangsawan lainnya. 

Setelah wafatnya Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee, beberapa ulama yang menjadi sasaran penangkapan oleh Belanda hijrah ke Yan Keudah,  Malaysia di antaranya Teungku Chik Oemar Diyan dan Teungku Chik Muhammad Arsyad Diyan yang membentuk generasi ulama sesudahnya seperti Teungku Haji Hasan Kruengkale, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, Teungku Abdullah Lam U, Teungku Muhammad Saleh Lambhuk dan ulama lainnya. 

Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee kemungkinan besar sezaman dengan ulama dari Banten Syekh Nawawi al-Bantani, pengarang banyak kitab. Karena Teungku Chik Abdul Wahab ketika di Mekkah berguru kepada Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan mufti dalam Mazhab Syafi’i pada zamannya, dan juga merupakan guru dari Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Sayyid Bakri Syatta pengarang Kitab Hasyiah I’anatuththalibin. 

Tahun lahir Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee tidak diketahui, namun Syekh Nawawi Banten lahir di tahun 1813 dan wafat di tahun 1897 dalam usia sepuh 84 tahun. Adapun Syekh Sayyid Bakhri Syatta lahir tahun 1844 dan wafat di tahun 1896 beliau merupakan guru dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, ulama Padang yang pernah menjadi Imam, Khatib, Mufti Syafi’i pada kurun terakhir di Mekkah. 

Dapat dipastikan Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee seusia dengan Syekh Nawawi al-Bantani. Disebutkan bahwa Teungku Chik Tanoh Abee adalah ulama yang membaiat para teuku dan hulu balang yang akan mengikuti perjuangan di bawah komando Teungku Chik Di Tiro dengan disaksikan oleh Teuku Panglima Polem, ulama dan Ulee Balang Aceh. 

Selain sebagai ulama, Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee juga seorang kolektor terkenal yang banyak mengoleksi manuskrip kuno tulisan dan kitab-kitab ulama terdahulu termasuk karya dari Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Samsuddin Sumatrani dalam kajian tasauf. 

Awalnya manuskrip tersebut sampai 10.000 naskah, namun pada masa peperangan dengan Belanda banyak yang dibakar hingga tersisa 3000 manuskrip, yang juga masih besar untuk ukuran Asia Tenggara. Manuskrip kuno tersebut dijaga oleh keturunan beliau hingga pada masa Abu Dahlan Tanoh Abee, ulama kelahiran 1943 cicit dari Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee. Koleksi Manuskrip Dayah Tanoh Abee terbuka untuk umum setelah Tsunami 2006, mengingat manuskrip di Aceh lainnya hilang bersama gelombang Tsunami. 

Sehingga keberadaan Manuskrip Tanoh Abee merupakan warisan intelektual yang sangat berharga bagi Aceh secara khusus dan Indonesia secara Umum. Sebagai seorang ulama pimpinan dayah, tokoh masyarakat, pejuang dan Qadhi Rabbul Jalil, tentu kiprah Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee sangatlah besar peranannya, dan khusus untuk koleksi manuskrip kuno beliaulah satu-satunya ulama yang memilikinya, bahkan beliau juga menulis mushaf Al-Qur’an dengan taangannya. Setelah pengabdian yang panjang dan besar, maka wafatlah ulama tersebut di tahun 1894. Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Walid KW Super Muncul di Lombok

Walid KW Super Muncul di Lombok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00