POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menanam Cerita di Tanah Jati:Menumbuhkan Inspirasi dari Hutan Blora

RedaksiOleh Redaksi
April 20, 2025
Menanam Cerita di Tanah Jati:Menumbuhkan Inspirasi dari Hutan Blora
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Luhur Susilo
(Guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Sambong, Blora)

Di jantung Jawa yang tenang, hutan jati Blora berdiri kokoh sebagai penjaga ingatan. Di balik batang-batang tuanya yang menjulang, tersimpan cerita tentang ketekunan hidup, harapan yang tak padam, dan hubungan manusia dengan alam. Namun kini, saat dunia makin sibuk di layar ponsel, cerita-cerita dari akar budaya dan lanskap lokal makin jarang digali. Padahal, hutan jati bukan sekadar bentang alam—ia adalah sumber inspirasi yang belum habis ditulis.

Cerpen yang berlatar hutan jati bisa menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk merangkai dunia fiksi yang hidup dan bermakna. Hutan tak lagi hanya menjadi latar, tetapi bisa menjadi tokoh utama—yang tumbuh, yang diam-diam menyimpan luka, atau yang memberi petunjuk diam-diam kepada manusia. Bayangkan kisah tentang seorang remaja Blora yang menemukan arah hidup setelah tersesat di rimba jati. Atau kisah perempuan penjaga hutan yang menyimpan kenangan masa lalu dalam wangi kayu tua. Cerita-cerita seperti itu bukan hanya menghibur, tapi juga mengakar dalam jiwa.

Minat menulis cerpen dengan latar hutan jati bisa tumbuh dari hal yang sederhana: rasa penasaran. Ajak diri berjalan ke rimba, menyentuh kulit pohon yang kasar, mencium aroma tanah setelah hujan, atau mendengarkan desir angin di sela daun. Itu semua adalah pintu menuju imajinasi. Hutan bukan tempat yang asing—ia adalah ruang batin yang bisa dijelajahi. Ketika penulis berasal dari lingkungan yang dekat dengan hutan jati, cerita yang lahir akan terasa lebih jujur dan penuh kepekaan.

Agar imajinasi makin kaya, bacaan lokal juga perlu diperbanyak. Dongeng Blora, legenda jati bersuara, atau kisah-kisah dari masa kolonial yang terkait industri kayu bisa menjadi bahan mentah cerita. Penulis bisa bermain-main dengan fakta dan fiksi, menggabungkan sejarah dan emosi, lalu melahirkan dunia yang otentik. Ketika kisah lokal bertemu dengan kreativitas penulis muda, lahirlah cerita yang tak bisa ditiru dari tempat lain.

📚 Artikel Terkait

Sikapi UU Nomor 18 Tentang Alat Kontrasepsi, Sejumlah Tokoh Perempuan Aceh Lakukan Pertemuan

SDIT MUHAMMADIYAH MANGGENG-ABDYA PEDULI JANDA DHUAFA 3 ANAK

BERDIET SAMBIL BERIBADAH

KIDUNG ALAM

Namun menulis tak melulu soal teknik. Menulis juga soal keberanian. Banyak calon penulis ragu karena takut jelek, takut dikritik, atau merasa belum layak. Padahal, cerita yang datang dari pengalaman nyata dan perasaan tulus justru sering lebih menyentuh. Tak perlu menunggu jadi hebat dulu. Tulis saja cerita dari hal yang akrab: hutan yang dilihat tiap hari, pohon yang pernah dipanjat masa kecil, atau tanah yang selalu jadi tempat pulang.

Komunitas menulis dan ruang berbagi punya peran besar dalam menumbuhkan semangat berkarya. Lewat workshop, diskusi santai, atau lomba cerpen lokal, ide-ide bisa tumbuh bersama. Ketika satu cerita dibacakan, yang lain bisa tergerak untuk menulis juga. Menulis tidak harus jadi aktivitas sepi—ia bisa menjadi budaya yang hidup dalam semangat kebersamaan.

Dukungan dari sekolah dan pemerintah daerah juga sangat dibutuhkan. Jika pelajaran menulis kreatif masuk ke kurikulum, jika pelatihan menulis disesuaikan dengan kearifan lokal, dan jika karya siswa diberi ruang publikasi, maka potensi penulis muda akan makin berkembang. Bayangkan jika setiap sekolah SD-SMA di Blora menerbitkan buku cerpen bertema hutan jati—betapa luas imajinasi yang bisa disemai dari sana.

Menulis cerpen dengan latar hutan jati juga menjadi cara untuk menjaga warisan. Kita tidak hanya menyimpan kenangan dalam bentuk cerita, tapi juga menegaskan bahwa jati bukan cuma kayu komoditas. Ia bagian dari identitas dan kebudayaan Blora. Di tengah ancaman deforestasi dan krisis iklim, cerita bisa menjadi cara lembut untuk menyuarakan perlindungan. Kata-kata bisa jadi pagar yang melindungi pohon.

Akhirnya, menulis cerpen adalah seperti menanam pohon dalam benak pembaca. Ia bisa tumbuh perlahan, berakar dalam, dan suatu saat berbuah dalam bentuk kesadaran. Hutan jati Blora masih menyimpan banyak cerita yang belum ditulis. Dan kita, generasi muda Blora, adalah orang yang paling berhak untuk menuliskannya. Bukan karena paling pandai, tapi karena paling dekat. Tinggal satu hal: berani mulai menulis. (*)

Blora, 19 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Hosnatun, Seniman dan Guru Tari yang Berdaulat, Tanpa Mengharapkan Bantuan Pemerintah Daerah‎

Hosnatun, Seniman dan Guru Tari yang Berdaulat, Tanpa Mengharapkan Bantuan Pemerintah Daerah‎

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00