POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kisah Seorang Ibu, Anaknya “Dikebiri” dan Cucu Tanpa Nisan

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
April 18, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Seorang follower saya, namanya Siti Fatimah, umur 57 tahun. Ia curhat lewat email perihal anak dan cucunya yang malang. Ia frustrasi sudah ngadu ke sana ke mari. Ia hubungi saya dengan harapan ceritanya bisa dibaca publik. Saya coba narasikan kisah sedihnya dengan gaya “aku”.

Aku hanya seorang perempuan tua yang setiap hari bangun pukul enam pagi, menyingsingkan lengan meski sendi-sendi tubuhku telah menjerit, dan kembali ke rumah pukul enam sore dengan tubuh seperti keranda yang dipikul sendiri.

Aku berusia 57 tahun. Pada usia ini, aku kira sudah pernah merasakan pahit getir hidup. Tapi ternyata Tuhan, atau barangkali sistem yang mengaku Tuhan, masih punya cara baru untuk mencabik-cabik hatiku.

Anakku… anak perempuanku… dia perempuan manis yang punya riwayat jantung. Seorang yang lemah secara medis, tapi tangguh dalam hidup. Ketika tahu dirinya hamil, ia tidak gentar. “Biarlah, Bu,” katanya padaku, “ini rezeki dari Allah.”

Kami tahu itu berisiko. Tapi kehamilan itu adalah anugerah. Jika harus pergi karena mengandung nyawa baru, ia siap. Aku pun siap. Bukankah surga itu di bawah telapak kaki ibu?

Tapi rupanya… di negeri ini, “rahim perempuan bisa disita tanpa surat, tanpa diskusi, tanpa ampun.

Kami pergi ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Rumah sakit besar. Ternama. Katanya penuh dokter hebat. Penuh prosedur. Penuh aturan. Tapi kami lupa, kami orang kecil. Di hadapan sistem yang mengutamakan efisiensi dari empati, orang kecil tidak dihitung sebagai manusia.

Anakku mengalami terminasi kandungan. Anakku kehilangan bayinya. Cucu yang kami tunggu, wafat. Tapi belum cukup sampai di situ.

Tanpa izin dari kami, tanpa tanda tangan, tanpa persetujuan, tanpa sekadar menatap mata kami, mereka memutuskan untuk mensterilkan anakku.

Perempuan yang kehilangan anak, lalu bangun dari operasi dan tahu bahwa rahimnya kini hanya rongga kosong yang tak akan pernah dihuni lagi. Ia tidak bisa hamil lagi. Ia tidak bisa memberi cucu lagi. Ia… diputus dari kodratnya oleh orang-orang yang mengaku menolong.

📚 Artikel Terkait

Affirmez la Survie – Review Artikel

Monitoring Data Covid dan Zonasi, Kecamatan Meuraxa Bentuk Posko PPKM

SMAN 1 Teupah Barat Sekolah di Kepulauan Luluskan 25 Siswanya di Jalur SPAN-PTKIN

Mawar Yang Tak Lagi Mekar

Dan kami?

Kami tidak diberi tahu.

Aku Berlari Mencari Keadilan

Aku sudah datang ke:

  • RSUD Dr. Soetomo
  • Kantor Kepolisian sampai Mabes
  • Kantor Gubernur Jawa Timur
  • Majelis Disiplin Profesi

Setiap surat kubuat dengan uang hasil kerja banting tulang. Setiap pintu kudatangi dengan kaki renta dan harapan yang makin hari makin menyusut. Tapi tak satu pun memberi jawab.

Seolah-olah… anakku bukan korban, melainkan gangguan. Seolah-olah… kami tidak layak didengarkan karena kami bukan siapa-siapa.

Aku tidak datang untuk menuntut balas. Aku tidak ingin penjara. Aku tidak ingin uang ganti rugi. Aku hanya ingin kebenaran diakui. Aku ingin mereka yang menyentuh tubuh anakku tanpa hak mengakui kesalahan. Aku ingin cucuku, yang pergi sebelum sempat menangis pertama kali, mendapat keadilan yang tak bisa kuberi dalam bentuk kubur. Aku ingin anakku tahu, bahwa tubuhnya bukan milik negara. Bukan milik rumah sakit. Bukan milik siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Aku Menulis Ini… Karena Aku Tahu Suaraku Tak Lagi Cukup

Aku menulis kepada Bang Ros. Seorang yang mungkin suaranya lebih keras dari langkahku yang pincang. Aku menulis karena aku tidak bisa lagi mengetuk pintu-pintu yang digembok oleh birokrasi dan kekuasaan.

Aku bukan pahlawan.
Aku bukan martir.
Aku hanya seorang ibu yang kehilangan segalanya, tapi tetap memohon agar anak-anak orang miskin tidak lagi dijadikan objek percobaan, atau lebih buruk: korban yang diredam.

Kepada Para Pembaca:

Jika kalian membaca ini, jangan abaikan. Jangan anggap ini cerita lain dari sudut kota. Ini adalah kenyataan. Ini adalah luka yang menganga. Ini adalah cerita tentang bagaimana sistem yang dibangun atas nama kemanusiaan bisa berubah menjadi mesin pencabut hak-hak dasar perempuan.

Hari ini anakku yang dikebiri tanpa izin.
Hari ini cucuku yang dikubur tanpa nisan.
Tapi besok… bisa jadi giliran anakmu.

camanewa

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ditendang dari Panggung, Tapi Balik Lagi Bawa Palu Godam

Ditendang dari Panggung, Tapi Balik Lagi Bawa Palu Godam

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00