Dengarkan Artikel
Oleh Azharsyah Ibrahim
Pernahkah kamu mendengar istilah Hukum Taklifi? Ini adalah aturan dari Allah yang mengatur tindakan kita sehari-hari. Bayangkan seperti rambu-rambu lalu lintas yang membantu kita mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hukum Taklifi memberi kita panduan tentang apa yang harus dikerjakan dan apa yang sebaiknya ditinggalkan.
Tingkatan Hukum Taklifi
Dalam Hukum Taklifi, ada lima jenis aturan yang perlu kita ketahui. Yang pertama adalah wajib – ini seperti PR yang harus dikerjakan. Kalau dikerjakan dapat nilai bagus (pahala), kalau tidak akan dapat nilai jelek (dosa). Contohnya shalat lima waktu. Lalu ada sunah, ini seperti nilai tambahan – kalau dikerjakan dapat bonus pahala, tapi kalau tidak dikerjakan juga tidak apa-apa. Mirip seperti mengerjakan soal bonus dalam ujian.
📚 Artikel Terkait
Selanjutnya ada haram, yang berarti dilarang keras. Ini seperti lampu merah di jalan raya yang tidak boleh dilanggar. Ada juga makruh, yang sebaiknya dihindari tapi tidak sampai berdosa kalau dilakukan – seperti saran orang tua untuk tidak jajan sembarangan. Terakhir ada mubah, yaitu hal-hal yang boleh kita pilih sendiri mau melakukannya atau tidak, seperti memilih mau makan nasi atau roti untuk sarapan.
Contoh Penerapan
Contoh menarik penerapan Hukum Taklifi bisa kita lihat dalam urusan bank syariah. Misalnya soal bonus tabungan yang menggunakan akad wadiah (titipan). Kalau bonus itu sudah dijanjikan di awal, itu tidak boleh (haram). Tapi kalau bonus diberikan tanpa perjanjian sebelumnya, itu boleh-boleh saja (mubah). Ini menunjukkan bagaimana Hukum Taklifi membantu kita menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Islam.
Dengan memahami Hukum Taklifi, kita jadi lebih mudah menentukan mana yang baik dan tidak baik untuk dilakukan. Seperti punya kompas yang menunjukkan arah yang benar, Hukum Taklifi membantu kita menjalani hidup sesuai dengan aturan Allah. Wallahualam.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






