Dengarkan Artikel
Oleh Albertus M. Patty
Margaret Mead, seorang antropolog terkemuka, pernah menyatakan bahwa “We make our own criminals, and their crimes are congruent with the national culture we all share” (1955). Pernyataan ini menyoroti bagaimana perilaku menyimpang dalam suatu masyarakat justru mencerminkan budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa tersebut.
Di Indonesia, fenomena korupsi merajalela di berbagai kalangan, terutama di kalangan elit politik. Transparency International menempatkan Indonesia di peringkat 99 dari 180 negara. Bandingkan dengan negara Singapore yang berada di urutan ke 3 sebagai negara yang paling tidak korup sedunia. Tingkat korupsi yang ada di Indonesia sejajar dengan Ethiopia. Tingkat korupsi di negara kita bahkan lebih tinggi dari Timor Leste (urutan 73). Memalukan!
Mentalitas Menerabas
Fenomena korupsi di Indonesia ini adalah cerminan dari mentalitas menerabas yang disebut oleh antropolog Koentjaraningrat. Mentalitas menerabas adalah nafsu untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa niatan untuk berusaha keras dari awal hingga akhir. Bila Mead dan Koentjaraningrat benar bahwa budaya menerabas atau budaya korupsi itu merupakan cerminan budaya bangsa maka betapa rapuhnya fondasi moral bangsa kita. Dan bagi Mead, dengan strategi ekonomi secanggih apa pun suatu bangsa tidak akan maju bila fondasi moralnya rapuh.
Elite politik kita yang adalah juga kaum terpelajar pasti sudah tahu tentang mentalitas menerabas ini. Meskipun demikian, alih-alih menjadi teladan yang melakukan transformasi dan mulai membangun budaya baru yang anti korupsi, elite politik kita justru melanggengkan budaya korupsi dengan mempraktikkan budaya korupsi dan manipulasi itu.
📚 Artikel Terkait
Efek dari praktek korupsi adalah terjadinya eksploitasi sumber daya alam, rusaknya hutan-hutan kita tanpa peduli dengan hak dan kesejahteraan masyarakat lokal. Saat ini, perilaku menyimpang seperti korupsi telah menjadi hal yang lumrah dan diterima secara sosial. Korupsi terjadi di hampir semua instansi pemerintah. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin melebar, dan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah menurun drastis
Lebih lanjut, Mead mengingatkan bahwa transformasi sosial yang positif memerlukan partisipasi aktif dari individu-individu yang memiliki komitmen moral. Tentu saja transformasi sosial itu harus dimulai dari para elite politik yang menjadi pemimpin bangsa. Mereka bertanggungjawab untuk membangun upaya kolektif dan menciptakan sistem yang transparan dan akuntabel untuk menegakkan nilai-nilai etika dan moralitas. Bila budaya korupsi ini terus berlangsung, rakyat jelata yang paling dirugikan. Sebaliknya para elite politiklah yang paling menikmati keuntungan.
Pengkhianatan Bangsa
Untuk merespons situasi yang semakin parah ini, diperlukan introspeksi mendalam dan komitmen bersama, terutama komitmen kaum elite politik, untuk membangun kembali fondasi moral bangsa. Pendidikan karakter, penegakan hukum yang adil, dan transparansi dalam pemerintahan harus menjadi prioritas utama dalam upaya memberantas korupsi demi memperbaiki kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang semakin terpuruk. Melanggengkan budaya korupsi adalah pengkhianatan terhadap bangsa dan terhadap nilai-nilai luhur agama dan kemanusiaan. Dan memang, pada masa kini pengkhianat bangsa adalah para koruptor yang dengan sengaja dan tanpa hati nurani melahap uang rakyat.
Kesimpulannya, seperti yang diungkapkan oleh Mead, perilaku menyimpang dalam masyarakat merupakan cerminan dari budaya dan nilai-nilai yang dianut. Bila suatu bangsa mau maju dan berkembang diperlukan upaya kolektif untuk memperkuat fondasi moral bangsa. Tanpa transformasi moral, janji-janji elite politik untuk membangun keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat adalah ilusi yang dibalut dengan kata-kata manis kebohongan .
Bogor,
1 April 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






