HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Aku Ingin Setiap Bulan Adalah Ramadan

Redaksi by Redaksi
Maret 25, 2025
in #Buka puasa Beraama, #Doa di Bulan Ramadan, Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
Aku Ingin Setiap Bulan Adalah Ramadan
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Satria Dharma

Ramadhan adalah bulan yang sangat Istimewa. Ada banyak orang yang berharap agar kalau bisa setiap bulan itu adalah Ramadhan. Mereka yang berharap itu adalah para anak yatim piatu, para fakir miskin, para penjual takjil, pemilik warung dan resto, para ustad pengisi mimbar-mimbar ceramah, para karyawan yang mendapat tunjangan, bonus dan THR dari kantornya.

Baca Juga

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026

Bulan ini adalah saat mereka merayakan Hari Raya sebelum lebaran tiba. Rejeki berdatangan dari berbagai arah dalam jumlah yang tidak disangka. Undangan bukber berdatangan dari berbagai arah. Bahkan ada Yayasan yatim piatu yang sudah tidak bisa lagi menerima undangan bukber dan aksi sosial karena sudah dibooking penuh selama satu bulan oleh berbagai lembaga dan perkumpulan. Sori ya… Silakan cari yayasan yatim piatu lain yang masih bisa menerima. Kami sudah kewalahan.

Di jalan-jalan setiap hari ada pembagian takjil dan nasi kotak yang bikin jalanan macet. Kalau lewat berbagai kampus menjelang maghrib pasti macet karena para mahasiswanya hampir setiap hari berbagi takjil di jalanan. Selalu ada mobil yang ngider membagi-bagi sembako atau nasi kotak.

Seorang tukang becak yang nongkrong di becaknya bisa didatangi oleh 3 atau 4 orang yang menyodorkan takjil dan nasi kotak untuknya. Dia tidak perlu menggenjot becaknya kalau sekadar untuk makan saja.

Ramadhan memang istimewa sekaligus anomali. Bagaimana tidak lha wong bulan Ramadhan yang semestinya orang itu berpuasa dan mengurangi makan tapi justru menjadi bulan yang paling banyak konsumsi dihabiskan. This is a month of consumption. Ramadhan adalah bulan ketika berbagai macam menu kuliner disajikan dan ditawarkan di berbagai media sosial. Sakjane ramadhan iki bulan puasa atau bulan kuliner sih…?! Bagaimana tidak? lha wong di masjid-masjid mereka malah menyediakan ratusan takjil dan nasi kotak bagi para jamaah.

Masjid-masjid besar itu bisa sampai menyediakan seribu lebih porsi takjil dan nasi kotak setiap malam. Masjid di kompleks perumahan saya bahkan menyediakan menu sahur bersama bagi ratusan jamaah yang mau iktikaf sejak 10 hari terakhir puasa. Sakjane iku duwit teko endi kok onok ae sing nyumbang…?!

Saya kemarin ikut buka bersama karena ikut istri yang diundang teman alumninya. Tempatnya di Resto Mang Engking Yani Golf Surabaya. Jadi tempatnya itu di tengah-tengah lapangan golf yang untuk menuju ke sana cukup jauh dan tidak ada angkutan umum. Tidak ada resto atau tempat makan lain, hanya Mang Engking sendirian.

Setelah sampai di sana saya kaget karena ternyata resto ini sangat besar dengan belasan gubug-gubug dan ruang terbuka yang bisa memuat ratusan pengunjung sekaligus. Yang membuat saya lebih heran adalah ternyata tempat ini sudah penuh dibooking oleh para bukberers (peserta bukber, maksudnya).

Bahkan ketika istri saya minta tambahan meja satu saja ternyata tidak bisa. Hebatnya adalah meski pun ada puluhan meja yang harus dilayani ternyata semua menu sudah siap santap sebelum maghrib tiba. Tinggal tunggu komando adzan saja maka semua menu akan langsung diserbu bersama.

Melihat situasi ini saya jadi geli juga. Lha wong makan saja kok ya nunggu komando…. Resto ini bukan warung murah tentu saja. Lha wong nambah gurami telor asin + es teler aja istri saya bayar 200 ribuan kok. Tapi toh harga tersebut tidak membuat gentar warga Surabaya. Wani tok isine…!

Kemarin saya juga menerima video tentang sebuah mall di Surabaya yang penuh sesak oleh pengunjung. Food courtnya sampai luber dan para pengunjung yang tidak dapat kursi dan meja terpaksa makan lesehan di lantai food court. Whaat…! Makan lesehan di lantai mall…?! Saya lalu berkomentar bahwa ternyata benar Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Lha wong mau makan di mall saja susah.

Dulu saya heran bahwa bulan Ramadhan yang semestinya orang menahan makan dan minum, tapi justru menjadi bulan makan dan minum alias bulan mbadog. Sekarang saya paham mengapa demikian. Bulan Ramadhan orang-orang mendapatkan rejeki berlebih dari kantor dan perusahaan masing-masing. Rejeki itu lalu mereka wujudkan dalam bentuk syukuran dan sedekah. Tentu saja hal pertama yang dibeli adalah makan, minum, dan jajanan.

Istri saya rutin membagikan parcel untuk teman-teman kami, keluarga dekat, dan satpam kompleks. Mostly isinya adalah makanan, minuman, dan kue-kue. Istri saya juga salah satu penyumbang acara makan di masjid kompleks kami.

ADVERTISEMENT

Hampir semua komunitas selalu ingin mengadakan bukber jika memungkinkan. Contohnya ya teman alumni istri saya itu. Kalau bukber tentu saja kita mengonsumsi lebih banyak daripada hari-hari biasa. Itu semacam pesta kuliner laiknya. Lho, katanya puasa? Ya memang puasa. Ini kan buka bersama (untuk merayakan puasa tadi seharian penuh). Masalah buat lo…?!

Jadi kalau melihat hal ini mau tidak mau, maka saya harus mengakui bahwa warga Indonesia itu kaya raya, bisa makan di resto mahal bolak-balik, bisa bersedekah, bisa berzakat, bisa membagikan parcel dan THR, dan sekaligus dermawan. Kapan lagi ada Yayasan yatim piatu yang sampai menolak undangan bukber dan aksi sosial saking penuhnya jadwalnya kecuali Ramadhan?

Jadi kalau ada yang bilang “Aku rindu Ramadhan…!” maka itu bukan basa-basi seperti yang diolok-olok oleh Cak Nun. Mereka memang ingin kalau bisa setiap bulan itu ya Ramadhan seperti ini. Maksudnya bukan rindu puasanya, Cak Nun. Mboten…! Mereka merindukan takjil dan nasi kotak gratisnya, THR-nya, bukbernya nang resto, parcelnya, preiannya, dan tentu saja mudik nang ndeso. Horeeee….! Aku ketemu emakku maneh…! Mereka tentu saja ingin agar setahun itu ada 12 bulan Ramadhan.

Mudah-mudahan para pengusaha dan lembaga yang harus menyediakan THR pada Ramadhan ini tidak mringis dan bilang, “Setahun pisan ae, bro. iki ae wis mencret nggolekno awakmu THR-an”. 🥺

Surabaya, 24 Maret 2025
Satria Dharma

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 280x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 158x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Hari Buruh

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026
Cerpen

Aku Merindu

Maret 17, 2026
Islam

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 17, 2026
Next Post
Relawan Tahalele

Relawan Tahalele

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com