HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Buku Harian Yang Hilang

Reza Fahlevi by Reza Fahlevi
Maret 11, 2025
in Puisi
Reading Time: 3 mins read
0

Ilustrasi oleh Microsoft

588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Lihatlah di wajahnya
Tatap sebaik mungkin
Tatap sampai kau menyadari satu hal
Satu hal tentang…
Hilangnya cahaya dari wajahnya

Meskipun ada senyuman
Meskipun ada tawa
Tapi sebenarnya
Bekas luka trauma
Masih terpampang secara tersirat di setiap ukiran wajahnya
Yang mencoba menjadi baik-baik saja

Baca Juga

Pada Secangkir Cinta

Pada Secangkir Cinta

Maret 9, 2026
Pesta Kematian Tuhan

Pesta Kematian Tuhan

Maret 7, 2026
Wafatnya Khamenei: Senjakala Globalisasi dan Eskalasi Perang Dunia III yang Terfragmentasi

Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

Maret 1, 2026

Berbagai lika-liku dilalui
Banyak rintangan yang membuatnya merasa…
Merasa seolah-olah hidup ini terlalu berat
Merasa bagaikan hidup ini sedikit pun tak adil

Namun
Dia tidak bercerita
Bukan karena terlalu suka memendamnya
Bukan karena dia terlalu percaya diri bahwa ia sanggup menghadapinya
Tapi karena sebagian orang menganggap sepele terhadap apa yang sedang ia alami

Dia tidak bercerita
Karena mereka sama sekali tidak peduli
Dan dia mulai berhenti bercerita
Karena merasa tak ada seorang pun yang ‘kan mendengar
Tentang semua jebakan di dalam kehidupannya

Berjalan terseok-seok
Bahkan sampai merangkak
Dia berjuang untuk hidup
Di balik luka batin
Semakin menusuk hatinya
Semakin terpuruk jiwanya
Dia berharap ketidakpastian
Dia berharap dengan segala kehampaan

Hingga sampai dirinya beranjak dewasa
Ia tahu bahwa ada sesuatu yang hilang
Sesuatu yang lenyap
Sesuatu yang takkan pernah bisa ia dapatkan kembali
Itulah kebahagiaan

Maka
Segala cerita tawa di masa lalu
Segala senyumannya di waktu itu
Semuanya takkan datang untuk memberi secuil hiburan
Dia hanya memaksa diri bahagia
Dengan memalsukan semua kepedihan

Karna
Di balik dirinya yang tertawa itu
Ada suara jeritan yang tak terdengar
Kau takkan mendengarnya
Kecuali jika menyimak bahasa tersirat dari wajahnya

Sebab
Di balik keceriannya hari ini
Ada bekas luka batin
Kau takkan bisa menyadarinya
Kecuali jika kau membaca gelagatnya saat sedang sendirian

Dia yang merasa kesepian di tengah keramaian
Dia yang terus mencoba baik-baik saja di tengah bekas luka dan rasa trauma
Kau mungkin takkan mengerti bagaimana perasaannya
Yang terus berjuang melawan rasa sakit
Tak kunjung pulih
Tak kunjung hilang

Dari kecil hanya sebatang kara
Sebab kedua orang tua yang terlalu egois memikirkan urusan pribadi
Dia tidak terurus dan diabaikan
Dia tidak terarah dan tersesat

Kemudian, lingkungan mengubah segala persepsi
Dia mendapat sesuatu yang belum pernah ia dapatkan
Ejekan, pukulan, pelecehan dan bahkan sampai ancaman pembunuhan
Semua itu membuatnya mati dari dalam
Jiwanya bagaikan debu yang terbang melayang tak bertujuan

Lantas
Apa lagi yang tertinggal?
Bahkan Kisah-kisahnya di dalam buku harian hanya berupa cerita yang sudah kusam
Auranya sebagai seorang manusia kini hanya berupa angan-angan yang tak pernah bersambut

Sampai pada akhirnya
Dia mulai berpuisi
Melampiaskan semua keresahan
Menulis sajak-sajak luka nan kepiluan
Lalu, semua orang terkesima karna kehebatannya dalam meracik kata-kata
Tanpa mereka ketahui bahwa
Bahwa dia hanyalah seorang yang sudah tidak berjiwa
Rapuh dan berada di ambang kematian

Puisi membawanya menjadi sosok terkenal
Banyak dari mereka yang bernasib sama sepertinya berhasil pulih
Pulih dari mimpi buruk
Pulih dari luka batin
Pulih juga dari niat bunuh diri
Tapi… bagaimana dengan dirinya sendiri?
Dia… tak kunjung sembuh
Sama sekali tidak

ADVERTISEMENT

Karna
Semakin dia berpuisi
Semakin membawanya merasa pengalaman yang menyedihkan di masa lalu
Tapi
Jika pun tidak ia lampiaskan
Itu juga sama saja
Dia tetap terjebak di dalam lingkaran yang telah membunuh jiwanya

Pada akhirnya
Bersama harapan yang terus lenyap
Bersama cahaya batin yang padam
Dia… sudah semakin tidak tertahankan
Dan… pada esok harinya
Sepucuk berita menggema
“Sang Penyair Menyerah Pada Dunia”

Dia menutup mata dengan keterpaksaan
Dia mengembuskan napas terakhir meski tak ingin
Dia meninggalkan sejuta mimpi yang takkan pernah bisa terwujud secara nyata
Dan… dia juga meninggalkan kebahagiaan di depan sana yang sebenarnya sudah menyapanya
Saat ia masih tak tahu caranya bangkit

***

“Maka, sebelum semuanya terlambat… sebelum semuanya membuatmu lebih mati dari dalam… coba bertahanlah sedikit saja. Karna… memang dunia terasa tak adil bagi sebagian orang. Tapi, bukan berarti keberadaanmu hanya tentang kesia-siaan. Bertahanlah sedikit saja sebab mengakhiri kehidupan secara terpaksa tidak pernah menyelesaikan semua rasa sakit di masa lalu.”

Hiduplah meski jiwamu telah mati
Tapi bagiku, kau tidak mati
Hanya cahayamu saja yang redup

Dan, jika kau ingin kembali seperti sedia kala
Memang terasa sangat mustahil
Namun, bukan berarti kehidupanmu akan tetap sama

Mereka yang dulu tak pernah ada saat kau terpuruk dan terluka
Sebenarnya sudah digantikan dengan mereka yang selama ini selalu bersamamu
Sosok-sosok itulah yang menerima segala bentuk kekuranganmu
Tanpa pernah mengusik masa lalumu

Lihatlah lebih dalam
Karna kesendirian yang dulu menjadi mimpi burukmu
Sudah berakhir
Kau… memiliki sosok yang sangat peduli
Dan untuk menyadarinya
Jangan hanya sekedar melihatnya dari mata
Tapi rasakan juga dari hatimu

Kau… ada untuk menghadapi segala luka
Karna… kau adalah seseorang yang sudah dipilih

Maka, bertahanlah
Walau hanya sedikit
Kau tak boleh mati sia-sia

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 335x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 300x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 260x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 173x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #Puisi#sastra
SummarizeShare235
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Baca Juga

Puisi

‎Kulihat Indonesia di Balik Jendela Sekolah

September 28, 2025
Puisi-Puisi Sigit Prasojo
# Tadarus Puisi

Jejak Luka di Jalan Binatang

September 8, 2025
Merangkai Kata, Menghidupkan Rasa: Cipta Puisi & Wawasan Kebangsaan Republik Rakyat Literasi RRL Kreatif Menggetarkan Hati & Jiwa
# Bedah Puisi

Merangkai Kata, Menghidupkan Rasa: Cipta Puisi & Wawasan Kebangsaan Republik Rakyat Literasi RRL Kreatif Menggetarkan Hati & Jiwa

Agustus 29, 2025
Puisi

Buktinya Adalah Sepiku

Juli 30, 2025
Next Post
SANG TOKOH

SANG TOKOH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com