POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Melihat Perempuan Aceh Kini

RedaksiOleh Redaksi
October 17, 2016
🔊

Dengarkan Artikel

ilustrasi /qureta.com

Oleh Audivia Monica

Perempuan, harusnya menjadi harta terindah di dunia. Ya, harusnya menjadi sebuah anugerah yang luar biasa dari sang Maha Kuasa. Namun, mengapa kini banyak perempuan malah menjadi racun dunia? Mengapa malah menjadi sumber dosa bagi kaum lainnya?

Perempuan

Perempuan di belahan dunia mana yang tak indah dilihat dengan mata?

Tidak ada.

Namun, seindah indahnya perempuan di pandangan kaum lainnya, apakah telah tentu indah ia di mata sang pencipta?

Selayaknya kita berfikir dan ingat bahwa yang terindah itu hanya “menjadi baik di mata Nya, Allah Swt.”

Perempuan di negara kita seringkali dipuji, karena kelembutannya, karena kesopanannya, kecantikan alaminya, dan adab serta adat istiadat yang menyelimutinya.

Sayangnya, perempuan di kota kita dahulu tak banyak disukai dunia, dunia yang sebagian besarnya menjajah indonesia.

Tapi itulah suatu kebanggaan yang kita miliki. Hanya perempuan di kota kita, Aceh yang berani menentang dunia. Berani membela kebenaran, demi persatuan, demi kesatuan, demi masa depan dan kehormatan bangsa.

Perempuan Aceh, tempo dulu

Ya, dulu

Yang tak kenal takut untuk menjunjung tinggi rasa cinta terhadap diri sendiri dan bangsanya. Yang tak kenal takut untuk memperjuangkan hak bersamaan dengan kewajiban yang juga ia jalankan. Yang tak pernah lalai berjihad di jalan Allah. Lagi lagi demi sebuah kebenaran, kenyamanan hidup juga kesejahteraan. Yang menjaga dirinya lebih dari menjaga apapun di hidupnya, yang menjaga kehormatannya demi tetap menjadi indah di mata sang pencipta. Yang bahkan bisa mempimpin dengan apik adil dan bijaksana mengalahkan pemerintahan kaum sebelumnya.

📚 Artikel Terkait

Di Balik Langkah Guru Nias

Pujangga Lama dan Pujangga Baru Punah, Karena Tidak Mendapat Tempat Dalam Negara Sistem Republik

Saksi Bisu

Puisi-Puisi Oka Swastika Mahendra

Yang menjadi sorotan para pengamat pengamat penting dunia, sampai dikutip dalam beberapa buku seperti “On The History of Acheen” oleh Thomas Braddel , “Een Mekkaansche Gezentschap Naar Atjeh in 1683” oleh Snouck Hurgronje, dan “Atjeh” oleh Zenttgraaf yang rata rata menyebutkan bahwa perempuan Aceh pada zaman tertulis ( Nurul ‘Alam, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia dan kawan-kawan ) adalah para pejuang hebat yang bahkan bisa mengalahkan kehebatan Rosa Luxemburg, Seorang perempuan Jerman yang pada awal abad ke 19 terkenal sebagai penganut radikal-Marxis dalam gerakan demokrasi sosial. Seperti singa betina yang sangat buas dan kejam, tapi memiliki kelembutan dalam melayani keluarga dan kerabatnya. atau setingkat lebih hebat dari Maria Stuart yang pernah sekaligus menjadi tokoh dua negara, yaitu sebagai Ratu Inggris (1662-1694) dan menjadi tokoh politik Skotlandia (1684-1694). Atau bahkan mungkin juga setingkat lebih hebat dari Cory Aquino dari Philipina atau Margaret Thatcher dan Elizabeth Taylor dari Inggris atau Benazir Bhutto dari Pakistan.

Luar biasa keberanian perempuan Aceh di mata dunia, tak heran jika perempuan kita ditakuti dan disegani. Namun, bagaimana dengan perempuan Aceh tempo sekarang? Perempuan Aceh masa kini

Yang sebagian telah lalai mementingkan dunianya untuk keluar dari Serambi Makkah ini. Selangkah melewati batas Aceh saja bahkan bisa terbang tudung yang menutupi kepalanya. Tak usah orang, bahkan saya sendiri juga dulu seperti itu.

Apa yang terjadi pada masa kini?

Apa globalisasi dan moderenisasi benar benar menghancurkan ahklak, akidah dan adat istiadat yang dulunya kental di kota kita ini? Yang dahulunya menggunakan celana dengan balutan rok lagi di luarnya, yang menggunakan baju lengan panjang serta jilbab yang menutupi auratnya? Yang hanya mengabdi di jalan Allah dan muhrimnya? Bukan seperti sekarang yang dengan bangga memamerkan auratnya, yang dengan bangga menampilkan rambut indahnya, yang dengan bangga menampakkan lekuk tubuhnya di balik balutan ketat baju dan celana jeans dengan jilbab yang hanya menutupi rambutnya saja.

Yang dengan bangga memamerkan dosa pada sosial media, yang dengan mudah melakukan zina hanya demi cinta buta yang lagi lagi belum tentu akan menjadi masa depannya. Yang hanya menikmati hedonisme dan meninggalkan aturan aturan Tuhan Yang Maha Esa.

Yang mengenyampingkan urusan akhirat demi dunia yang sementara. Yang tak perduli dengan qanun qanun dan mengabaikan apa yang benar benar harus dilakukannya.

Bahkan sampai dipandang sebelah mata oleh warga kota tetangga. Pengalaman pribadi saya saat berdesakan di kereta api tujuan Bekasi – Depok , ada yang bertanya pada saya “Asalnya darimana dek?” saya menjawab dengan singkat dan bangga, “Aceh”

Lalu, jawaban yang tak pernah saya sangka dikeluarkan lewat bibir pria yang sepertinya sudah menginjak umur 29an itu dengan sekelompok temannya

“wah, orang Aceh ya? Senang dong desak desakan di kereta sama cowok – cowok. Saya punya temen temen perempuan dari Aceh. Kayanya pada begitu rata rata. Kasihan sih di Aceh dibatasin pergaulan antara perempuan dan laki lakinya lebay banget. Jadi begitu keluar dari Aceh, kaya ayam lepas dari kandang deh liar banget.”

“ayam – lepas – dari – kandang”

Aku luarbiasa malu, marah, kesal, ingin menjawab dengan panjang lebar dan menjelaskan bahwa itu bukan watak perempuan Aceh yang aslinya. Bahwa kesalahan beberapa perempuan tidak seharusnya membuat seluruh perempuan yang berasal dari kotanya menjadi seperti itu juga. Bahwa pribadi setiap orang itu belum tentu mencerminkan kota tempat tinggalnya.

Apa yang harus kita lakukan demi kembali menggapai Serambi Makkah yang kita dambakan dahulu?

Kembali menegakkan peraturan peraturan ketat yang malah makin membuat “ayam lepas dari kandang” itu terlihat dimata masyarakat?

Tidak.

Yang harusnya dibenahi itu sebenarnya dari diri masing masing, dari hati masing masing. Bukan dari paksaan semata. Bukan dari ancaman manusia. Pada dasarnya, hukum Tuhan itu tertulis dengan jelas di Al quran. Jadi mungkin akan lebih baik, lebih berguna dan lebih manjur apabila pemerintah menekankan pelajaran agama lebih banyak sejak dini daripada harus terus menerus memaksa sampai sampai perempuan dari kota kita dijuluki “ayam lepas dari kandang” lagi.

Yang bahkan tak perduli dari mana ia berasal, yang penting ia bahagia. Tapi, apabila telah tertanam dari diri masing masing perempuan, mungkin mereka akan lebih baik dalam menjaga auratnya, sikapnya, adab, adat serta istiadatnya dalam menjalankan kehidupan yang islami tanpa harus takut dengan kencangnya arus globalisasi dan moderenisasi yang menerpa pemuda pemudi di manapun mereka menginjakkan kakinya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Berfikir Nasionalis Untuk Majukan Perfilman Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00