• Latest

Melihat Perempuan Aceh Kini

Oktober 17, 2016
Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
IMG_0733

Berjuang Hingga Akhir

April 11, 2026
9edda383-f515-49a9-9938-8d5b8ebcf730

Sastra sebagai Cermin Kehidupan: Refleksi Perjalanan dari Panggung Teater ke Dunia Penelitian

April 11, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Melihat Perempuan Aceh Kini

Redaksi by Redaksi
Oktober 17, 2016
in Bidik
Reading Time: 4 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
ilustrasi /qureta.com

Oleh Audivia Monica

Perempuan, harusnya menjadi harta terindah di dunia. Ya, harusnya menjadi sebuah anugerah yang luar biasa dari sang Maha Kuasa. Namun, mengapa kini banyak perempuan malah menjadi racun dunia? Mengapa malah menjadi sumber dosa bagi kaum lainnya?

Baca Juga

phpThumb_generated_thumbnail

Perempuan Pelindung Laki-Laki

April 6, 2026
Melihat Perempuan Aceh Kini - CFDCC9DE 10AF 480D 9946 43AEFE60A1F2 | Bidik | Potret Online

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Maret 16, 2025
Melihat Perempuan Aceh Kini - B2464B0F 0AC4 401C B0C0 56120538F158 | Bidik | Potret Online

Bengkel Opini Rakyat

Maret 13, 2025

Perempuan

Baca Juga:
  • Perempuan Pelindung Laki-Laki
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
  • Bengkel Opini Rakyat

Perempuan di belahan dunia mana yang tak indah dilihat dengan mata?

Tidak ada.

Namun, seindah indahnya perempuan di pandangan kaum lainnya, apakah telah tentu indah ia di mata sang pencipta?

Selayaknya kita berfikir dan ingat bahwa yang terindah itu hanya “menjadi baik di mata Nya, Allah Swt.”

Perempuan di negara kita seringkali dipuji, karena kelembutannya, karena kesopanannya, kecantikan alaminya, dan adab serta adat istiadat yang menyelimutinya.

Sayangnya, perempuan di kota kita dahulu tak banyak disukai dunia, dunia yang sebagian besarnya menjajah indonesia.

Tapi itulah suatu kebanggaan yang kita miliki. Hanya perempuan di kota kita, Aceh yang berani menentang dunia. Berani membela kebenaran, demi persatuan, demi kesatuan, demi masa depan dan kehormatan bangsa.

Perempuan Aceh, tempo dulu

Ya, dulu

Yang tak kenal takut untuk menjunjung tinggi rasa cinta terhadap diri sendiri dan bangsanya. Yang tak kenal takut untuk memperjuangkan hak bersamaan dengan kewajiban yang juga ia jalankan. Yang tak pernah lalai berjihad di jalan Allah. Lagi lagi demi sebuah kebenaran, kenyamanan hidup juga kesejahteraan. Yang menjaga dirinya lebih dari menjaga apapun di hidupnya, yang menjaga kehormatannya demi tetap menjadi indah di mata sang pencipta. Yang bahkan bisa mempimpin dengan apik adil dan bijaksana mengalahkan pemerintahan kaum sebelumnya.

Yang menjadi sorotan para pengamat pengamat penting dunia, sampai dikutip dalam beberapa buku seperti “On The History of Acheen” oleh Thomas Braddel , “Een Mekkaansche Gezentschap Naar Atjeh in 1683” oleh Snouck Hurgronje, dan “Atjeh” oleh Zenttgraaf yang rata rata menyebutkan bahwa perempuan Aceh pada zaman tertulis ( Nurul ‘Alam, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia dan kawan-kawan ) adalah para pejuang hebat yang bahkan bisa mengalahkan kehebatan Rosa Luxemburg, Seorang perempuan Jerman yang pada awal abad ke 19 terkenal sebagai penganut radikal-Marxis dalam gerakan demokrasi sosial. Seperti singa betina yang sangat buas dan kejam, tapi memiliki kelembutan dalam melayani keluarga dan kerabatnya. atau setingkat lebih hebat dari Maria Stuart yang pernah sekaligus menjadi tokoh dua negara, yaitu sebagai Ratu Inggris (1662-1694) dan menjadi tokoh politik Skotlandia (1684-1694). Atau bahkan mungkin juga setingkat lebih hebat dari Cory Aquino dari Philipina atau Margaret Thatcher dan Elizabeth Taylor dari Inggris atau Benazir Bhutto dari Pakistan.

Luar biasa keberanian perempuan Aceh di mata dunia, tak heran jika perempuan kita ditakuti dan disegani. Namun, bagaimana dengan perempuan Aceh tempo sekarang? Perempuan Aceh masa kini

Yang sebagian telah lalai mementingkan dunianya untuk keluar dari Serambi Makkah ini. Selangkah melewati batas Aceh saja bahkan bisa terbang tudung yang menutupi kepalanya. Tak usah orang, bahkan saya sendiri juga dulu seperti itu.

Apa yang terjadi pada masa kini?

Apa globalisasi dan moderenisasi benar benar menghancurkan ahklak, akidah dan adat istiadat yang dulunya kental di kota kita ini? Yang dahulunya menggunakan celana dengan balutan rok lagi di luarnya, yang menggunakan baju lengan panjang serta jilbab yang menutupi auratnya? Yang hanya mengabdi di jalan Allah dan muhrimnya? Bukan seperti sekarang yang dengan bangga memamerkan auratnya, yang dengan bangga menampilkan rambut indahnya, yang dengan bangga menampakkan lekuk tubuhnya di balik balutan ketat baju dan celana jeans dengan jilbab yang hanya menutupi rambutnya saja.

Yang dengan bangga memamerkan dosa pada sosial media, yang dengan mudah melakukan zina hanya demi cinta buta yang lagi lagi belum tentu akan menjadi masa depannya. Yang hanya menikmati hedonisme dan meninggalkan aturan aturan Tuhan Yang Maha Esa.

Yang mengenyampingkan urusan akhirat demi dunia yang sementara. Yang tak perduli dengan qanun qanun dan mengabaikan apa yang benar benar harus dilakukannya.

Bahkan sampai dipandang sebelah mata oleh warga kota tetangga. Pengalaman pribadi saya saat berdesakan di kereta api tujuan Bekasi – Depok , ada yang bertanya pada saya “Asalnya darimana dek?” saya menjawab dengan singkat dan bangga, “Aceh”

Lalu, jawaban yang tak pernah saya sangka dikeluarkan lewat bibir pria yang sepertinya sudah menginjak umur 29an itu dengan sekelompok temannya

“wah, orang Aceh ya? Senang dong desak desakan di kereta sama cowok – cowok. Saya punya temen temen perempuan dari Aceh. Kayanya pada begitu rata rata. Kasihan sih di Aceh dibatasin pergaulan antara perempuan dan laki lakinya lebay banget. Jadi begitu keluar dari Aceh, kaya ayam lepas dari kandang deh liar banget.”

“ayam – lepas – dari – kandang”

Aku luarbiasa malu, marah, kesal, ingin menjawab dengan panjang lebar dan menjelaskan bahwa itu bukan watak perempuan Aceh yang aslinya. Bahwa kesalahan beberapa perempuan tidak seharusnya membuat seluruh perempuan yang berasal dari kotanya menjadi seperti itu juga. Bahwa pribadi setiap orang itu belum tentu mencerminkan kota tempat tinggalnya.

Apa yang harus kita lakukan demi kembali menggapai Serambi Makkah yang kita dambakan dahulu?

Kembali menegakkan peraturan peraturan ketat yang malah makin membuat “ayam lepas dari kandang” itu terlihat dimata masyarakat?

Tidak.

Yang harusnya dibenahi itu sebenarnya dari diri masing masing, dari hati masing masing. Bukan dari paksaan semata. Bukan dari ancaman manusia. Pada dasarnya, hukum Tuhan itu tertulis dengan jelas di Al quran. Jadi mungkin akan lebih baik, lebih berguna dan lebih manjur apabila pemerintah menekankan pelajaran agama lebih banyak sejak dini daripada harus terus menerus memaksa sampai sampai perempuan dari kota kita dijuluki “ayam lepas dari kandang” lagi.

Yang bahkan tak perduli dari mana ia berasal, yang penting ia bahagia. Tapi, apabila telah tertanam dari diri masing masing perempuan, mungkin mereka akan lebih baik dalam menjaga auratnya, sikapnya, adab, adat serta istiadatnya dalam menjalankan kehidupan yang islami tanpa harus takut dengan kencangnya arus globalisasi dan moderenisasi yang menerpa pemuda pemudi di manapun mereka menginjakkan kakinya.

SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya
Psikologi

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172
Iran

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db
Esai

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026
# Ironi

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
Next Post

Berfikir Nasionalis Untuk Majukan Perfilman Indonesia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com