• Latest

Posisi Mahasiswa Pada Pilkada Aceh 2017

Februari 14, 2017
651a665d-a972-4237-889b-3f896bd0ff78

Komitmen dan Konsistensi Sebagai Penakar Etika, Moral dan Akhlak Mulia Yang bersifat Ilahiyah

April 12, 2026
1ac9c27f-7427-4c6a-b3f3-76cd09bc22ae

Selangkangan Borjuis

April 12, 2026
dc7b6933-d445-40b2-9886-71a08edbedd9

Menghalau Petaka Intelektual: Refleksi Sains dan Iman ala Al-Ghazali.

April 12, 2026
IMG_0751

Macet Menulis? Jangan Paksa! Lakukan Ini Saja (Resep dari Larry L. King)

April 12, 2026
de17d6a0-a45b-4472-ab39-12da2eea3a53

Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

April 12, 2026
ilustrasi stereotip budaya komunikasi Aceh

Benarkah Orang Aceh Kasar? Tinjauan Psikologi dan Budaya

April 12, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Antara Efek Jera dan Keadilan

April 12, 2026
Illegal mining and corruption in Indonesia

Tambang Ilegal dan Absennya Negara

April 12, 2026
  • #22859 (tanpa judul)
  • Al-Qur’an
  • Disclaimer
  • Home
  • Kirim Naskah
  • Penulis
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • ToS
Senin, April 13, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Posisi Mahasiswa Pada Pilkada Aceh 2017

Redaksi by Redaksi
Februari 14, 2017
in Bidik
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Andi Kurniawan
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Sekjend di Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) Berdomisili di Banda Aceh

Pilkada Aceh 2017 yang berlangsung beberapa bulan Februari 2017 ini menjadi pesta demokrasi kali ke 3 di bumi Aceh. Ajang 5 tahun-an ini merupakan butir dari UUPA di antara banyaknya butir-butir penting lainnya yang harus dilaksanakan sebagai wujud perdamaian yang menyejahterakan rakyat, termasuk mahasiswa. Oleh sebab itu, mahasiswa harus ikut berperan.

Bagaimana mahasiswa seharusnya mengambil peran dalam menyikapi segala persoalan yang timbul dalam perjalanan proses pilkada Aceh. Apakah dengan masuk ke dalam salah satu timses, atau menonton saja sambil berkomentar di warung kopi?

🔥 Artikel Terkait
1
Membaca Jejak Gerakan Literasi di Aceh Barat Daya
November 10, 2016
phpThumb_generated_thumbnail 2
Perempuan Pelindung Laki-Laki
April 6, 2026
CAK MAHFUD - B2742660 90D1 4BE2 8480 E560C9319BF1 | Analisis | Potret Online 3
CAK MAHFUD
Maret 29, 2023
4
BINGUNG? TENTANG HUKUM YANG BAGUS SEMAKIN MENJAUH
Agustus 3, 2021

Mahasiswa adalah manusia terdidik dalam lingkungan Perguruan Tinggi. Keseharian kita berteman dengan masalah, sehingga sering bermusuhan dengan pembuat kebijakan yang menindas kaum yang langsung kepada pengambil kebijakan yang menyejahterakan rakyatnya.

Kekuatan kita adalah persatuan yang merujuk pada sila ke 3 Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. Bersatu menjadikan mahasiswa, semakin matang dalam membangun pergerakan di kampus. Pergerakan di sini, jangan dipandang untuk menyerang Rektorat, Dekan bahkan menjatuhkan Presiden. Bukan mahasiswa tidak mampu, tetapi jika semuanya berjalan sesuai dengan amanah dan fungsi, tak perlu menghabiskan energi untuk itu. Pergerakan di sini, kita maksudkan mendalami berbagai disiplin ilmu pilihan. Sesekali kita bersatu untuk mendiskusikan suatu topik yang dapat dikaji dari berbagai disiplin ilmu berbeda.

Bukankah ilmuan Islam abad ke-8 s.d 11 M, seperti Al- Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Haitham, Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina serta yang lainnya itu menguasai lebih dari satu disiplin ilmu?. Abu Ali Muhammad al-hassan Ibnu Al haitam adalah seorang Ilmuan Islam yang ahli dalam bidang Sains, Falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Beliau dilahirkan di Basrah pada tahun 354 H atau 965 M. Kecintaan beliau kepada ilmu pengetahuan menggerakkannya untuk berhijrah ke Mesir. Tokoh-tokoh pemikir tersebut patut dicontoh oleh mahasiswa yang akan menjadi cikal bakal ilmuan Indonesia nantinya.

Dari perjalanan sejarah hidup tokoh tersebut, dapat kita ambil pelajaran untuk kita yang hidup di zaman saat ini. Kita hanya perlu meneruskan apa yang sudah dimulai oleh mereka. Dengan membuka diskusi ringan yang bermodalkan uang Rp. 20.000 untuk membeli kopi dan pisang goreng, sudah cukup mengenyangkan perut dan menyegarkan pikiran. Hal ini jika dilakukan secara terus menerus dengan tujuan pendalaman ilmu pengetahuan dan bersifat independen serta terbuka tentu banyak manfaatnya.

🔥 Artikel Terkait
1
Membaca Jejak Gerakan Literasi di Aceh Barat Daya
November 10, 2016
phpThumb_generated_thumbnail 2
Perempuan Pelindung Laki-Laki
April 6, 2026
CAK MAHFUD - B2742660 90D1 4BE2 8480 E560C9319BF1 | Analisis | Potret Online 3
CAK MAHFUD
Maret 29, 2023
4
BINGUNG? TENTANG HUKUM YANG BAGUS SEMAKIN MENJAUH
Agustus 3, 2021

Selain mampu mengimbangi kelompok yang ingin meracuni pikiran mahasiswa untuk terjun kepada even 5 tahun-an Pilkada. Ditambah tawaran yang menggiurkan pasca selesai kuliah akan ditempatkan pada instansi pemerintah dengan posisi yang strategis dan bagi yang ingin melanjutkan studi disediakan kendaraan beasiswa. Secara tidak langsung KKN telah tertanam dan akan mengakar dalam diri tunas bangsa. Bukan tidak boleh berpolitik. Kampus malah menyediakan ladang bagi mahasiswa untuk menerima pendidikan politik. Akan tetapi bukan politik praktis.

Ah barangkali itu hanya pikiran buruk saya saja. Dengan semakin maju teknologi dan perkembangan media sosial serta pengguna smartphone, tentu semua menjadi serba mudah. Tahapan publikasi dan penyebaran informasi diskusi berjalan dengan cepat. Referensi yang dibutuhkan seketika hadir dengan mengakses di google. Tak ada alasan bagi kita untuk tidak memulainya. Kecuali tidak didasari dengan niat memperdalam ilmu pengetahuan. Seperti sabda rasulullah, “ Menuntut Ilmu diwajibkan atas orang islam laki-laki dan perempuan”. Maka itu baik orang yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan .

Masyarakat pada umumnya masih menaruh harapan yang besar terhadap kita, di mana saat banyaknya kelompok yang memanfaatkan keluguan masyarakat demi kepentingan pribadi dan kelompok. Saat inilah peran mahasiswa sebagai kaum terpelajar untuk berada di tengah masyarakat guna membantu mereka agar terlepas dari keluguan tersebut. Bukan masyarakat tak pintar memilah mana yang baik dan buruk, namun kecurangan dalam mengambil jalan pintas pada faktanya selalu merugikan masyarakat. Kita menjaga agar masyarakat tidak trauma akan hal yang demikian itu.

Inovasi diskusi lainnya sesekali juga bisa dilakukan dengan membuka diskusi pada sebuah grup di medsos, bahkan hal ini sudah berlangsung jauh-jauh hari. Dengan menetapkan jadwal pertemuan, peraturan diskusi dan yang terpenting ada yang memandu diskusi, sehingga menjadi terarah. Metode ini sepertinya tidak cocok bagi mahasiswa, karena kita memiliki banyak waktu kosong. mahasiswa lebih banyak menghabiskan di warung kopi dan tempat tongkrongan lainnya. Sekali lagi bukan tak boleh, tapi jika satu jam saja waktu tersebut digunakan untuk berdiskusi akan membawa perubahan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Perubahan itu sejatinya harus dimulai dari diri sendiri, dengan mulai membuat peraturan-peraturan dengan diri sendiri agar mampu menstabilkan diri. Karena manusia selain memiliki akal untuk berpikir, juga hati dalam pengambilan keputusan. Keduanya harus diseimbangkan dalam pemenuhan nutrisinya. Jika akal sudah kita isi dengan kajian diskusi, maka hati juga butuh disirami dengan beramal.

Diskusi-diskusi yang dilakukan mahasiswa diharapkan berbuah nyata dalam aplikasinya di lingkungan sekitarnya dengan diniatkan hasil karya tersebut bermanfaat bagi orang lain, sehingga menjadi amal. Dengan begitu antara akal dan hati dapat seimbang.

Sehinngga kita mahasiswa menjadi orang yang tercerdaskan dan mampu mencerdaskan orang sekitar. Dalam menghadapi pilkada yang tinggal menghitung hari, kita sudah siap dengan segala konsekwensi atas tindakan yang kita ambil tentu atas pertimbangan dari diskusi antara akal dan hati, baik itu masuk ke dalam salah satu timses, paslon gubernur/walikota/bupati ataupun hanya menonton saja sambil berkomentar di warung kopi. Jika ada pilihan lain yang diambil berarti anda lebih cerdas dari saya.

Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Awan pun Turut Memuji Tuhan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com