• Latest
Saksi Bisu - 1000525727_11zon | Jalan-jalan | Potret Online

Saksi Bisu

April 23, 2025
Saksi Bisu - 1001353319_11zon | Jalan-jalan | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Saksi Bisu - 1001361361_11zon | Jalan-jalan | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
de2293cc-7c03-4d26-8a68-a4db3f4d65b4

Sinergi Fiskal Syariah: Navigasi Zakat Perdagangan di Era Mata Uang Modern

April 21, 2026
4fb2b103-7d0d-484c-ba9b-02ec8de8ff7a

Perempuan Hebat, Perjuangan Tak Terlihat: Refleksi Hari Kartini dalam Cahaya Islam

April 21, 2026
819dc996-4ffe-43e0-a861-db43521da05d

Dr. Damanhur Yusuf Abbas: The Living Reference tentang Syariat Islam di Kota Lhokseumawe

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Saksi Bisu

Redaksi by Redaksi
April 23, 2025
in Jalan-jalan
Reading Time: 3 mins read
0
Saksi Bisu - 1000525727_11zon | Jalan-jalan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh : Saiful Bahri

Akulah Saksi Bisu!

Baca Juga
  • Walikota Malang Doyan Kopi Aceh
  • Untaian Puisi Anies Septivirawan

Di segala terang, di segala gelap, di segala gerak, di segala diam, di segala zuhud, di segala buruk dan caci-maki, hadir adaku hanyalah saksi bisu. Maka, kusaksikanlah berlaksa-laksa dengki dan tipu-tipu yang ditebar dari pesona yang dikemas dengan sungguh sangat mempesona. Kulaluilah jalan engkau dan jalan-jalan mereka yang hakikatnya bertebar duri, tetapi teringkari dengan empuknya rentang permadani.
Seketika itu juga kusesal segala harap, kutepis segala rindu, kubungkam segala pilu, kutindih-tindih segala janji, lalu kupendam segalanya di liang-liang sempit batu karang hati, yang mati riak ombaknya dari dada laut engkau dan laut-laut mereka. Dipicu segala sesat itu, di akhir sisa-sisa sadar engkau dan sadar mereka, sempat-sempatnya engkau dan mereka bersepakat untuk jadikan aku saksi! Saksi Bisu!

Akulah Saksi Bisu!

Baca Juga
  • Ekonomi Keuangan Syariah Terus Meningkat Dalam 5 Tahun Terakhir
  • Menggali Makna Laylatul Qadr Dengan Filsafat (11)

Begitulah adaku. Hanya saksi. Dan sungguh bisu. Hanya mempersaksi-saksikan saja. Sungguh sangat leceh dan remeh ulah-ulah yang terus engkau dan mereka lakonkan. Fitnah, kianat, bohong, picik, sirik, munafik, amarah, gorok-gorok, tumpah darah, lalu makan daging sesamamu dengan semangat purba begitu lihai dan asyik engkau dan mereka tekuni. Maka, berbanggalah engkau! Berbanggalah mereka! Tersanjunglah harkat dan martabat engkau dan mereka. Semakin angkuhlah engkau dan mereka, serentak bersorak dan bertepuk-tepuk dada yang sempit, seolah-olah semesta ini punyanya engkau dan mereka. Aku hanya mempersaksi-saksikan saja. Aku hanya saksi! Dan sungguh aku sangat bisu!

***

Baca Juga
  • Jambo Hatta, Kenangan Sejarah yang Terabaikan
  • Menyinggahi  Kaki Gunung Raung di Kabupaten Banyuwangi di Hari Nan Fitri

Sebagai saksi bisu, pagi ini aku sungguh merasa sangat berbahagia. Bahagiaku terbersit karena ini adalah pagi yang lain, pagi sempurna dari segala pagi, ketika statusku sebagai saksi bisu kini sudah dicabut. Aku tak lagi bisu. Aku kini jadi saksi hidup.

Maka, sebagai saksi hidup aku akan bersaksi atas segala yang kusaksikan atas segala engkau dan segala mereka. Aku akan jujur bersaksi atas segala ketelanjuran jujur-jujur semu yang pernah engkau dan mereka sumpahkan demi tegaknya keadilan dan pembangkangan-pembangkangan yang diagung-agungkan.

Aku, catatan perjalanan hidup diri dari sekujur jasad engkau dan mereka, akan naik saksi atas segala benar dan salahnya engkau dan mereka dengan sebenar-benarnya, sejujur-jujurnya dan polos utuh apa adanya.

“Cukup! Stop ocehan tak bermanfaat itu!”koar mulut ceriwis engkau dan mereka serentak, masih dengan suara tinggi dan sombong.

Aku tak peduli. Aku terus membeberkan kesaksian-kesaksian atas engkau dan mereka, karena bungkam bisu bukan milikku lagi. Kececar semua sanggah dan kutebar semua detil tentang segala engkau dan mereka. Tak satupun kulewatkan. Sungguh aku kini merasa sangat merdeka. Sungguh aku nikmati kemerdekaan ini.

“Bohong itu semua!”hardik mulut engkau dan mereka masih menyanggah, terus mencoba membela diri.

Aku semakin tak peduli, karena kini bukti-bukti mulai ditunjukkan. Dokumen rekaman biografi perjalanan hidup engkau dan mereka mulai diputar. Sungguh sangat terang tampilan gambar di film dokumenter itu. Tak ada sedikit pun trik atau efek kamera yang memanipulasi adegan per adegan dalam film itu. Begitu bersahaja. Apa adanya.

Dalam takzim unjuk kesaksian, engkau dan mereka terbelalak-belalak menonton film dokumenter itu. Terkaget-kaget bercampur heran menyaksikan diri yang begitu lihai dan profesional memerankan dan menyutradarai sendiri film dokumenter yang engkau dan mereka produksi sendiri. Indah sekali skenario dan jalan ceritanya, sampai-sampai aku, engkau dan mereka sama-sama terpana. Lalu terpekur dalam-dalam, menyesali sesal yang selalu hinggap di ujung jalan.

Banda Aceh, 21 September 2007

Bio Data :

SAIFUL BAHRI, lahir di Banda Aceh, 29 Juli 1969. Alumnus Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta, Jurusan Politik Pemerintahan (1998).Menulis sejak masih di bangku SMU. Aktif dalam berkesenian sehingga dipercaya menjadi Pengurus Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) sudah dua periode (1999 – 2003 dan 2004 – 2007), Tergabung dalam sebuah lembaga kebudayaan Lapena (Institute for Culture and Society) serta menye-mangati kaum muda untuk kreatif melalui lembaga AMuK Community (Komunitas Aceh Muda Kreatif). Menulis cerpen dan novel, esai, artikel serta tulisan budaya lainnya di media lokal dan nasional sejak tahun 1989. Sebuah novelnya Terbuai Mimpi  diterbitkan Balai Pustaka Jakarta  tahun 1991. Cerpen-cerpennya termuat dalam Titian Laut III (Dewan Bahasa dan Pustaka – Malaysia, 1991)  Antologi Sastra Seulawah (Yayasan Nusantara Jakarta, 1995), Antologi Cerpen HAM Remuk (Dewan Kesenian Banda Aceh, 2000) dan Antologi Sastra Putroe Phang (Dewan Kesenian Aceh, 2002). Hikayat Sang Gila (Fima Rodheta Jakarta, 2005) adalah novelnya yang berbau surealis. Terakhir mengagas dan menekuni penulisan serta menulis cerpen mini di Aceh. Alamat terakhir Gampong Gue Gajah  Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Saksi Bisu - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Jalan-jalan | Potret Online

Dimana Letak Suara Kita dalam Pembangunan Bangsa?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com