POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menyelami Rasa Banda Aceh dan Pesona Sabang

Siti HajarOleh Siti Hajar
February 15, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

 Oleh: Siti Hajar

Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah, dengan keindahan alam yang sangat memesona. Daerah ini juga memiliki ragam kuliner yang sangat diminati oleh wisatawan lokal, nasional,bahkan luar negara. Padahal, saat konflik dulu Aceh pernah menjadi daerah yang menakutkan bagi orang luar. 

Namun, kini hal horor itu sudah tak bersisa. Aceh menjadi daerah Islami yang ramah dengan pendatang. Aceh menjadi destinasi wisata yang dikenal di tingkat dunia. Berita tentang Aceh yang sangat ramah bagi pendatang tersebar dari mulut ke mulut. 

Keberadaan media sosial yang mudah diakases oleh setiap lapisan masyarakat, menyebabkan Aceh semakin termasyhur. Salah satunya adalah Kota Banda Aceh dan Sabang.

Jika Indonesia memiliki Bali, Papua memiliki Raja Ampat sebagai tempat wisata yang dikagumi,  karena alam lautnya yang indah, Aceh memiliki Sabang atau yang juga dikenal dengan pulau Weh. 

Weh berarti pergi. Konon katanya pulau Sabang itu dulu menyatu dengan pulau Sumatera, tetapi akibat gempa bumi, Sabang menjadi terpisah dari pulau yang bersisian dengan Samudera Hindia ini. 

Perjalanan dari ibukota Jakarta ditempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam menuju Kota Banda Aceh,  jika melalui jalur udara. Sementara jika  berangkat melalui jalur darat dari Medan Sumatera Utara, dapat menggunakan bis malam yang menghabiskan waktu 10-12 jam perjalanan. 

Artinya, jika berangkat jam delapan malam  dari Medan kemungkinan sampai di Banda Aceh sekitar jam enam atau jam delapan pagi.  Setibanya di Banda Aceh disarankan untuk bersantai dulu. Setidaknya satu hari untuk berkeliling Kota Banda Aceh, sembari menikmati kulinernya.  

Pagi hari untuk sarapan  bisa menikmati segelas kopi ditemani dengan aneka kue, khas Aceh. Kue tradisional semisal timphan, pulut ketan, atau nasi gurih. Bagi yang menyukai lontong, hampir semua warung kopi ada rak yang menjual nasi guri dan lontong. Ini dapat menjadi pilihan bagi  yang menginginkan sarapan dengan menu yang agak berat.

Kuah Beulangong serta aneka kari ayam dan bebek bisa menjadi pilihan untuk bersantap siang hari. Saat ini kuah beulangong menjadi menu andalan di Aceh. Tidak hanya di Kota Banda Aceh, di wilayah Aceh yang lain seperti Sigli, Biruen, Lhokseumawe, Langsa, Takengon, dan Tamiang serta wilayah Barat Selatan dengan mudah dapat dijumpai warung yang menyediakan kuah beulangong.

Kuah beulangoh sendiri adalah kuah kari kambing atau daging sapi yang kaya dengan bumbu rempah khas Aceh, yang biasanya tidak menggunakan santan. Namun, demikian tidak semua tempat memiliki rasa yang sama. Namun, ada juga orang sebagian orang Aceh yang menambahkan santan dalam racikannya. 

Rasanya yang gurih sedikit pedas serta berwarna merah menambah selera siapa saja yang sedang merencanakanm akan siang yang lezat. Ketika jalan-jalan di kota Banda Aceh, tempat yang menarik dan perlu dikunjung adalah  Museum Tsunami yang berada tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Mesjid kebanggaan masyarakat Aceh yang berada di pusat kota. 

Museum Tsunami dibangun untuk mengenang musibah besar gempa dan tsunami di Aceh yang menelan ribuan nyawa warga Aceh pada akhir Desember 2004, 20 tahun yang lalu. Museum ini adalah karya arsitek ternama Kang Emil-Ridwan Kamil yang pernah menjabat sebagai Walikota Bandung dan Gubernur Jawa Barat ini.

Banyak pengunjung merasa terkesan dengan bangunan yang berbentuk oval ini, tidak hanya mengingatkan kita pada kejadian yang memporak-porandakan Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Namun, juga mengingatkan betapa kita dekat sekali dengan kematian. Kematian bisa terjadi kapan saja, jika Allah sudah berkehendak, maka saat itu juga semua akan terjadi, sesuai dengan keinginan Allah-sang pemilik segalanya. 

Di dalam bangunan ini ada sebuah tempat berbentuk terowongan melingkar dengan suara air di bagian luarnya. Pada dindingnya dipenuhi dengan tulisan nama-nama korban tsunami yang jumlahnya diperkirakan mencapai 23 ribu orang lebih. Tempat ini dinamai sumur doa. Lantunan zikir yang diperdengarkan, membuat kita seolah-olah tidak mau berhenti untuk turut mengucapkan zikir dan doa-doa kepada Allah. 

Teringat dengan anggota keluarga sendiri yang juga korban tsunami. Perasaan haru tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jika memiliki banyak waktu,  cobalah untuk menelusuri semua bagian dari museum ini. Jangan ada yang  dilewati, karena semuanya akan menjadi pengalaman baru bagi kita.

Sore dan malam hari bisa menikmati aneka mie Aceh. Berbagai bentuk atau ragam dalam menyajikan mie yang kini mendunia. Pilihannya ada mie goreng, mie tumis dan mie rebus.  Mie Aceh kerap ditambahkan daging, udang, kepiting ataupun ikan, sesuai dengan permintaan pelanggan. Ini akan menjadi cara lain menikmati mie Aceh di tanah Aceh sendiri. Tidak perlu khawatir dengan harganya. Semua makanan di Aceh masih tergolong standar dan sangat terjangkau. Dengan kisaran Rp12.000  s/d 30.000 saja, sudah bisa menikmati  hidangan gurih nan lezat ini.

Menuju Sabang

📚 Artikel Terkait

Panglima Tibang Vs Habib Abdurahman

Untuk Kamu Yang Ingin Menetap

Hamdani Sumbangkan Buku untuk MTsS Panga Pucok

Kelas Digital SMP Mulia: Mendidik Generasi Qurani dan Melek Teknologi

Dari Banda Aceh melalui pelabuhan Ulee-lheu, dengan menggunakan kapal Ferry seperti  armada Aceh Hebat 2 atau KMP Pulau Rondo bisa ditumpangi untuk menyeberang ke Pulau Weh, kota Sabangnya. Perjalanan ini hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam menuju pelabuhan Balohan Sabang. Bila dengan kapal cepat, hanya 45 menit.

Hal yang menarik adalah saat menyebrangi lautan ini para penumpang disuguhkan dengan keindahan laut yang dikelilingi daratan. Dari jauh nampak kota Banda Aceh yang ditinggalkan dan juga pulau-pulau kecil yang berdekatan dengan Kota Sabang. 

Jika beruntung,  akan  bisa menikmati langit biru dan gerombalan lumba-lumba yang berenang seolah berlomba dengan kapal layar yang ditumpangi. Di sini saja sudah merasa seperti disambut oleh alam Sabang yang menyimpan keindahan yang tiada tara.

Begitu kapal mendarat dan turun dari kapal, akan disambut oleh abang-abang yang menawarkan jasa angkutanmenuju kota Sabang.  Mereka menyediakan mobil dan sepeda motor sewaan. Di sini bisa bebas memilih untuk mau rental mobil atau kenderaan roda dua, sesuaikan dengan jiwa petualangdan isi ATM yang dimiliki. Tidak perlu berlama-lama di pelabuhan, bisa tembak langsung menuju kota Sabang. 

Mulai dari Balohan  bisa langsung merasakan betapa pulau ini  terasa santai. Aktivitas warga tidak terlihat mencolok kecuali bapak-bapak pekerja di pelabuhan dan penjual aneka oleh-oleh dari pulau yang menyimpan sejuta sejarah ini. 

Selebihnya warga setempat lebih memilih di dalam rumah sampai dengan sore hari. 

Sore baru terlihat mereka keluar rumah untuk sekadar jalan-jalan bersama keluarga ke arah kota atau hanya berkeliling saja. 

Pernah ada vlogger yang mengabadikan momen sepi ini dengan tiduran di tengah jalan raya, sanking sepinya. Tidak perlu terkejut. Kemungkinan ada yang merasakan bahwa ini adalah tempat yang diinginkan. Datang ke Sabang untuk menyepi sesaat dari hiruk pikuk aktivitas harian di kota besar tempat asal. Tentu ini membuat jenuh. Kini saatnya bersantai dan menikmati alam, Guys.

Nah, kalau ke Sabang, ada banyak tempat yang wajib dikunjungi di pulau Weh itu.  Ada dua pilihan lokasi untuk tempat menginap selama tinggal di pulau Weh. Pertama adalah di Pusat kota dan sekitarnya. Bagi yang suka menikmati kopi di malam hari, bagus menginap di Kota Sabang saja. Di sini ada beberapa cafe yang mulai dibuka sore hari sampai dengan tengah malam. 

Lokasi ini juga terletak di pinggir laut. Selain menikmati secangkir kopi dan minuman kesukaan, juga dapat menikmati semilir angin tepi laut dengan pemandangan kelap-kelip lampu nelayan di kejauhan.

Tempat kedua adalah di kawasan Iboh. Iboh menyediakan banyak villa yang sangat ramah di kantong. Lagi-lagi ini sangat bergantung dari rupiah yang dialokasikan untuk liburan kali ini. Kisaran harga sewa vila dan bungalow antara Rp300.000 sampai dengan 5.000 .000 per malamnya. 

Semakin tinggi harganya tentu fasilitas yang bakalan didapatkan juga semakin baik. Vila dengan view langsung mengarah ke laut tentu ini yang banyak dipilih oleh pengunjung. Silakan pilih sendiri. Bisa juga membuka situs traveloka misalnya, untuk sekadar mengintip penginapan yang tersedia di Pulau Weh.

Sudah banyak yang berkata, ”belum ke Sabang kalau  belum Iboh.” Iboh adalah nama desa. Selain pemandangan pulau dan laut birunya. Pantai Iboh pengunjung ditawarkan untukmenikmati laut yang sangat eksotik. Pemandangan asli laut dan pulau kecil. 

Nah, penasaran dengan alam bawah laut? Hayuk ambil tawaran snorkling. Pasti akan dipuaskan dengan tapilan bawah laut, pasir, terumbu karang dan aneka ikan hias warna-warni. 

Ya, tenang saja, bagi yang baru pertama kali mencoba kegiatan ini tidak perlu takut karena akan didampingi oleh abang-abang profesional yang akan menuntun, mulai dari persiapan menyelam sampai ke bawah laut. 

Mereka yang menyediakan fasilitas snorkling juga akan membantu mengambil gambar dan video saat kamu menyelam. Ini sudah include dengan harga sewa boat, alat menyelam dan foto dokumentasi. 

Mereka tentu saja akan membuat kita merasa aman menikmati layanan snorkling yang tidak boleh diabaikan ini.   Kilometer Nol hanya berjarak sekitar 6 KM dari Desa Iboh dan 29 KM dari Kota Sabang. Jadi kalau sudah ke Sabang, harus bisa ke Kilometer Nol. Ini adalah titik 0 kilometer Indonesia. Ini adalah penanda titik terjauh di ujung Barat Indonesia. Berfoto dengan latar Tugu Kilometer Nol tentu akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan. 

Orang-orang senang memamerkan hasil jepretan mereka saat berada di Nol kilometer Indonesia, melalui media sosial yang mereka miliki. Siapa saja tentu akan berdecak kagum. Tentu saja mereka akan iri dan diam-diam merencakan liburannya ke Sabang bersama teman dan keluarga. 

Sore hari bagi para pemburu sunset jangan buru-buru untuk kembali ke Kota Sabang atau tempat menginap. Tunggu saja langit jingga perlahan meredup berganti dengan gelap malam di sana. Momen ini kemudian akan membuat kota terketuk hati untuk bersyukur atas segala yang telah Allah limpahkan kepada hambaNya. Betapa alam indah ini adalah anugerah Sang Pencipta yang luar biasa. 

Selain Iboh dan Kilometer Nol perjalanan bisa dilanjutkan ke gua sarang. Tempat ini sangat eksotis. Ada banyak pulau kecil dengan bebatuan di sini. Laut yang tenang dengan airnya berwarna biru kehijauan atau hijau toska. Setelah memarkirkan kenderaan, kita  harus berjalan turun ke bawah. 

Dari sanalah kita bisa memandang sepuas hati ke arah laut dan pulau-pulau mini yang tidak berpenghuni. Kita dapat menapaki bibir pantai dengan batu karang. Ini akan menjadi tantangan tersendiri saat menapaki batu-batu tersebut. Awas hati-hati jika terpeleset, tidak hanya akan jatuh ke air, kepala  juga bisa cedera. 

Dengan tantangan seperti ini tentu tidak disarankan untuk orang tua dan anak-anak untuk berjalan di atas batu-batu karang ini. Di bibir pantai saja,  sudah dapat mengambil gambar yang cantik.

Setelah puas di Gua Sarang, bisa kembali ke Kota Sabang dan melanjutkan keliling-keliling tempat-tempat indah di sana. Sumur Tiga, ujung karang serta Danau Aneuk Laot, Sabang Fair, dan Paradiso adalah tempat-tempat yang banyak dikunjungi wisatawan. 

Oh, iya. Di Kota Sabang ada namanya sate gurita yang gurih dan lezat. Ini adalah kuliner khas Kota Sabang. Rasanya yang gurih, teksturnya yang kenyal ditambah dengan bumbu kacang sebagai pelengkap, menambah menu satu ini menjadi kaya rasa. Tentu wajib dicoba ya, kalau ke Sabang.

Inilah sepenggal cerita tentang Banda Aceh dan Sabang. Semoga suatu hari para pembaca dapat berkunjung ke sini ya. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Gerimis

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00