Dengarkan Artikel
“Rintik hujan kecil yang membawaku kembali mengingatmu”
“Akhyar…” ujar seorang wanita. Suaranya terdengar dari arah belakang, membuatku spontan menoleh.
Saat kedua mata menangkap seorang wanita anggun yang sedang berjalan cepat menuju ke arahku, dalam sekejap jantungku berdetak kencang. Wanita itu bernama Aisyah, teman semasa SMA-ku. Ini pertama kalinya aku bersua dengannya setelah sepuluh tahun berlalu, tepatnyat ketika hari perpisahan sekolah. Dan, melihatnya lagi bersama tas jinjing, pemandangan ini seketika membuatku terpana. Gayanya sejak SMA ternyata masih belum berubah sampai sekarang.
“Apa kabar?” tanya Aisyah begitu dirinya tiba di hadapanku.
“Baik…”jawabku yang seketika berhenti dan memandangi kedua mata Aisyah. Bola matanya masih terpancar indah seperti terakhir kali aku melihatnya — pancaran yang dulu membuatku jatuh hati padanya.
Saat aku sadar sudah agak lama menatap Aisyah, diriku spontan mengajukan pertanyaan.
“Wow… lama banget kita udah ga jumpa, ya. Kamu sendiri apa kabar, Ai?”
“Baik, kok.”
Pertemuan yang tidak sengaja dengan Aisyah membuatku cukup bahagia. Entah kenapa rasa bahagia itu datang begitu saja tanpa kupinta. Dalam hati, aku merasa sangat lega bisa menatap wanita yang dulunya kukagumi meski sampai sekarang perasaan itu tak pernah terungkap dari mulutku.
📚 Artikel Terkait
Kami lantas mulai berbicara panjang lebar. Aisyah banyak mengajukan pertanyaan
kepadaku — sepertinya dia sedikit penasaran terhadap aktivitasku selama ini. Dan, aku hanya menjawab seadanya saja tanpa perlu kujelaskan serinci mungkin mengenai pekerjaanku saat ini.
“Mutar-mutar?” tanya Aisyah. Kulihat dia sedikit mengernyitkan dahinya.
“Iyaa.”
“Ihhh serius doong…”
“Emang kamu sendiri kerja apa sekarang, Ai?”
“Aku? Di rumah aja.”
“Di rumah?”
“Iyaa. Kenapa? Penasaran, ya?” Tanya Aisyah sembari tersenyum. Sepertinya dia sengaja menjawab seadanya juga untuk membalas ucapanku tadi.
Ketika sedang asyik mengobrol, mataku tak sengaja menatap langit yang mulai ditutupi oleh awan hitam nan tebal. Tapi, aku sama sekali tidak peduli dan kembali melirik Aisyah. Kutatapi wajahnya — sesekali juga menyorot bibir wanita itu yang mengumbar senyuman sambil terus berbicara.
Entah berapa lama aku menikmati kehadiran Aiysah sampai kemudian gerimis pun mulai merintik kecil, membuat kami berdua spontan menengadahkan pandangan ke langit. Kulihat awannya memang cukup mendung, tapi di kejauhan sana terdapat secercah cahaya dari matahari sore yang menghadirkan biasan pelangi samar-samar.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






