• Latest

Ketika Perempuan Aceh Berdaya, Menembus Sekat Patriarki

April 25, 2025
Ketika Perempuan Aceh Berdaya, Menembus Sekat Patriarki - 754B442E 63B1 4486 A85F 1FC79850CE02 | #Perempuan Hebat | Potret Online

Memilih Pendidikan, Memilih Masa Depan

April 20, 2026
IMG_0871

Demokrasi yang Takut Penontonnya

April 20, 2026
IMG_0870

Demokrasi, Islam, dan Keindonesiaan: Etika yang Terlupa dalam Ruang Kekuasaan

April 20, 2026
Untitled design

Anak Pertama: Benarkah Selalu Lebih Mandiri dan Dewasa?

April 20, 2026
Ketika Perempuan Aceh Berdaya, Menembus Sekat Patriarki - 1001377472_11zon 1 | #Perempuan Hebat | Potret Online

Ketika Sungai Mengalirkan Lebih dari Sekadar Air

April 20, 2026

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ketika Perempuan Aceh Berdaya, Menembus Sekat Patriarki

Redaksi by Redaksi
April 25, 2025
in #Perempuan Hebat, Flower Aceh, Gender, Perempuan Aceh
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

BANDA ACEH – Perempuan Aceh mulai mengambil peran strategis di ruang-ruang publik. Namun, dominasi budaya patriarki masih menjadi tantangan besar.

Selama 34 tahun terakhir, Flower Aceh hadir untuk memperluas ruang gerak perempuan, membangun kesadaran kritis, dan menciptakan ekosistem yang lebih setara.

Didirikan pada 23 September 1989, Flower Aceh merupakan organisasi perempuan pertama di Aceh yang muncul saat konflik masih berlangsung. Pendekatan awal mereka mencakup isu lingkungan, kesehatan, dan ekonomi.

Seiring waktu, jangkauan dan isu yang diangkat pun berkembang, termasuk pendampingan korban kekerasan, kampanye kesehatan reproduksi, dan pelatihan kepemimpinan perempuan.

“Dulu perempuan tidak terlibat dalam rapat gampong. Sekarang, mereka mulai hadir, bahkan ikut menentukan arah kebijakan desa,” kata Elvida, Ketua Pengurus Flower Aceh.

Ia menyebut perubahan ini tak lepas dari proses panjang pendidikan dan pendampingan di komunitas.

Flower Aceh saat ini mendampingi 175 perempuan akar rumput di tujuh kabupaten/kota. Mereka berperan sebagai tuha peut, kader kesehatan, kepala urusan desa, penggerak PKK, hingga tokoh adat dan agama.

Menurut Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, pendekatan yang digunakan bersifat komprehensif, membangun kapasitas, memperkuat kesehatan, dan memperluas dukungan sosial.

“Ketika perempuan sehat, sadar, dan didukung, mereka mampu menjadi agen perubahan yang kuat,” jelasnya.

Kesadaran kritis tidak lahir dalam satu dua kali pertemuan. Perlu proses panjang melalui pengorganisasian, edukasi, dan kolaborasi lintas pihak.

Tantangan budaya yang masih kuat membuat keterlibatan laki-laki menjadi bagian penting dari strategi Flower Aceh.

Dalam konteks Aceh yang kental dengan nilai keislaman, Flower Aceh juga terus berdialog agar narasi keagamaan tidak menjadi penghalang, tetapi jembatan bagi keterlibatan perempuan dalam pembangunan.

“Nilai kepemimpinan sejati adalah tentang semangat membawa perubahan dan keadilan,” tambahnya

“Kehadiran perempuan bukan ancaman, tapi kekuatan untuk pembangunan yang lebih adil dan inklusif,” kata Riswati.

Koordinator Divisi KPP Flower Aceh, Hendra Lesmana, menegaskan bahwa kesetaraan bukan semata isu perempuan, melainkan persoalan keadilan sosial yang menyentuh semua lapisan masyarakat.

“Keterlibatan laki-laki sangat penting untuk menghapus bias dan stereotip. Tanpa dukungan semua pihak, perjuangan kesetaraan tidak akan berjalan efektif,” ujar Hendra.

Di momen Hari Kartini, Hendra mengajak para laki-laki di Aceh untuk turut menciptakan ruang yang setara dan saling menghargai.

“Perjuangan untuk kesetaraan bukan hanya tugas perempuan. Ini tugas kita bersama. Kesetaraan gender bukan berarti perempuan mengambil alih peran laki-laki, tapi berjalan bersama, saling mendukung, dan bertumbuh bersama,” ucapnya.

Perempuan Aceh terus bergerak menembus sekat-sekat budaya patriarki yang telah lama membatasi ruang partisipasi mereka. Hari Kartini menjadi momentum bagi perempuan Aceh untuk menunjukkan kontribusinya dalam berbagai bidang. Baik itu di tingkat gampong, komunitas, atau organisasi, perempuan kini lebih berani dan mampu mengambil peran strategis (*)

(*)

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Ketika Perempuan Aceh Berdaya, Menembus Sekat Patriarki - bk | #Perempuan Hebat | Potret Online

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com