Dengarkan Artikel
Oleh: Rizal Tanjung
Kami orang Papua,
hitam kulit, keriting rambut,
berjalan di atas tanah emas,
berdiri tegak dalam merah putih,
menyanyikan lagu kebangsaan
dengan suara paling nyaring,
paling lantang, paling membahana.
Kami orang Papua,
berdiri di gerbang republik
sebagai anak kandung yang lahir sah,
menghafal sila-sila Pancasila
dengan lidah paling fasih,
paling tulus, paling bergetar.
Tapi, ah…
kenapa tanah kami terus diambil,
gunung-gunung kami digali,
hutan-hutan kami dijarah,
laut kami dikotori,
dan kami sendiri dihitung hanya sebagai angka?
Mengapa kami ini
dibutuhkan hanya saat pemilu tiba,
saat kursi-kursi yang diduduki perlu suara,
saat politisi ingin tampak peduli?
Kami mencintai republik ini,
tapi republik ini membalas cinta
dengan moncong senjata.
Kami mencintai republik ini,
tapi republik ini menjawab
dengan stigma dan curiga.
Katanya, kami separatis!
Katanya, kami pemberontak!
Padahal, kami hanya ingin
sekolah tanpa rasa takut,
rumah tanpa rasa cemas,
jalan tanpa rasa teror,
hidup tanpa terus dihitung sebagai ancaman.
Lihatlah kami,
anak-anak Papua yang berusaha sekolah
dengan buku yang sobek,
guru yang pergi entah ke mana,
dan janji pembangunan yang hanya jadi igauan.
Lihatlah kami,
ibu-ibu Papua yang menganyam noken,
tapi anaknya tak bisa berobat,
karena rumah sakit kami lebih sering kosong,
karena jalan menuju puskesmas penuh lumpur dan darah.
📚 Artikel Terkait
Oh republik,
kami hanya ingin dicintai kembali,
tanpa harus mencium sepatu tentara,
tanpa harus takut bicara di jalanan,
tanpa harus terus membuktikan
bahwa kami juga manusia,
bahwa kami juga bagian dari merah putih
yang kalian kibarkan dengan bangga.
Kami orang Papua mencintai republik ini,
tapi sepertinya republik ini
hanya mencintai tanah kami,
hanya menginginkan emas kami,
hanya mau menguasai laut dan gunung kami,
tapi tidak benar-benar mencintai kami.
Ah, barangkali kami keliru?
Barangkali republik ini mencintai kami
dengan cara yang berbeda,
cara yang penuh todongan senjata,
cara yang penuh rasa curiga,
cara yang penuh pengabaian.
Kami orang Papua tetap mencintai republik ini,
meski cinta kami sering bertepuk sebelah tangan.
Meski merah putih berkibar di langit kami,
kami masih bertanya-tanya:
Apakah republik ini benar-benar rumah,
atau hanya kandang tempat kami ditawan?
2025
* Tulisan ini telah dimuat di Suara Anak Negeri, Papua
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






