Dengarkan Artikel
Melamun — meneguk kopi — melamun lagi — memandang ke sekitar — kemudian melamun lagi — meneguk kopi lagi — kembali melamun — memandang ke sekitar dan tak sengaja melirik seorang perempuan — akhirnya muncullah sebuah ide.
Saya pernah seperti itu; melamun panjang hanya untuk mendapatkan sebuah ide tulisan. Bahkan, meneguk secangkir kopi belum tentu memunculkan ide baru. Ini terjadi setelah biasanya saya banyak menulis dalam seminggu penuh sampai akhirnya saya buntu dan tidak tahu harus merangkai kata-kata apa.
Secara pribadi, mendapatkan ide tulisan kadang-kadang terasa cukup random. Saya pernah memantangi reels Instagram sambil membaca berbagai komentar netizen. Lalu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang terbesit di dalam pikiran — saya pun meluangkan waktu untuk menulis.
Terkadang, saya juga berhasil mendapatkan ide tulisan dari mendengarkan lagu, membaca, menonton cuplikan film di Youtube, saat bersepeda, terbengong-bengong, ketika sedang mandi atau bahkan saat tidak tahu harus menulis apa tapi ketidaktahuan itulah yang menjadi idenya.
Akan tetapi, ada kalanya saya buntu total yang membuat ide itu tak kunjung muncul meski sudah berusaha memikirkannya. Dan, biasanya, hal seperti ini terjadi jika saya terlalu kebut-kebutan menulis selama satu minggu hingga seolah-olah kuota idenya habis. Barangkali, pikiran saya terlalu lelah karena seperti tak henti-henti saya gunakan untuk menuangkan tulisan.
Buntunya pikiran saya akibat kelelahan cukup mempengaruhi ketenangan. Semua seperti serba salah. Saya memaksakan diri menulis hal-hal apa saja tapi rasanya seperti kurang. Dalam hati saya pasti berkata, “tulisan apa yang aku buat ini?”. Begitulah kira-kira perumpamaannya.
Lantas, ketika saya mengalami kejadian ini, pasti ada saja sesuatu yang di luar dugaan datang dan seolah-olah membisikkan ide. Salah satu contoh dari hal-hal yang tidak terduga itu adalah ketika saya secara tidak sengaja memandangi seorang perempuan.
Kok bisa?
Saya juga tidak tahu kenapa. Yang jelas, saat saya sudah mencoba segala cara mendapatkan ide dan berakhir gagal, lalu tiba-tiba tanpa sengaja melirik seorang perempuan yang kebetulan lewat di depan mata, kemudian dalam sekejap ide pun muncul. Semuanya terjadi begitu saja.
Lantas, ide seperti apa yang seketika muncul sesaat setelah saya tanpa sengaja melirik seorang perempuan? Seringnya, yang muncul itu adalah ide puisi. Ya, saya mulai menulis puisi tentang perempuan-perempuan yang gagal saya dapatkan untuk kemudian saya rangkai dalam sajak — baik yang beralur sedih atau bahagia — semua tergantung dari sudut pandang saya ketika melirik cewek secara tidak sengaja.
Nah, dari puisi itu; biasanya ketika berhasil mendapatkan ide dengan cara seperti itu, saya mulai menulis beberapa puisi. Dan, dari beberapa puisi itu akhirnya ada ide lain yang muncul — biasanya ide menulis cerpen atau melanjutkan bab-bab di dalam novel. Pikiran saya cukup lancar mengekspresikan kata per kata setelah menulis puisi yang awalnya muncul dari melirik seorang cewek secara tidak sengaja.
Namun demikian, tidak selalu kejadian tak sengaja itu berhasil menghadirkan ide baru di dalam kepala saya. Ada kalanya, setelah semua cara tidak berhasil, saya kembali membuka puisi-puisi lama, termasuk yang tertulis dari hasil melirik perempuan secara tidak sengaja. Nah, setelah membaca satu sampai tiga puisi, akhirnya ide berhasil muncul dan saya pun kembali lancar menulis.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa sepertinya ketika saya buntu total, bukan karena melirik perempuan secara tak sengaja yang membuat saya mendapatkan ide, tapi apa yang ada di balik saat saya melirik perempuan itulah yang membawa saya memikiki ide baru.
Apa maksudnya?
📚 Artikel Terkait
Maksudnya adalah ketika saya tiba-tiba mendapatkan ide setelah tak sengaja melirik cewek, lalu saya pun mulai menulis puisi dengan sangat lancar. Di sini, yang menjadi peran vitalnya adalah isi di dalam setiap sajak puisinya. Selalu saja saya menulis puisi tentang perempuan-perempuan yang pernah punya kenangan spesial di hati saya. Alurnya terserah — bisa sedih atau bahagia — yang terpenting adalah puisinya tentang sosok yang pernah meninggalkan jejak kekaguman panjang dalam diri saya. Dengan kata lain, melirik perempuan asing secara tidak sengaja sebenarnya malah membuat saya mengenang salah satu perempuan yang cukup membekas kenangannya di hati saya.
Dari sini saya mulai paham bahwa sosok yang pernah memberi kenangan tertentu di hati saya — dalam hal ini sosok perempuan — akan terus teringat di dalam benak saya. Apalagi jika saya menulis sosok itu ke dalam bentuk puisi, maka bisa dibilang seolah-olah dia menjadi abadi di setiap denyut nadi saya. Padahal, segelintir orang menganggap saya sebagai laki-laki pelupa karena memang sering lupa terhadap hal-hal penting.
Tapi sebenarnya, ada hal-hal kecil yang menurut sebagian orang itu tidak berkesan tapi malah berkesan di hati saya, maka ingatan itu akan terus melekat — tidak hanya di dalam kepala tapi juga di dalam batin.
Sebagai contoh; dulu, ada cewek namanya Bunga (nama samaran), teman kampus saya. Sejak semester satu, saya sudah mengaguminya dan rasa ini terus mekar hingga saya benar-benar menyukainya. Lalu, di suatu momen saat kami sedang berada di kantin, saya yang duduk di depannya sibuk menulis puisi di sebuah buku catatan. Lantas, ketika saya sudah selesai menulis, dia pun bertanya mengenai apa yang saya buat sejak tadi.
Saya menjawab seadanya dan dia kemudian membalas, “coba liat.”. Saat mendengar itu, saya tanpa ragu memberikan buku catatan berisi puisi tadi kepada Bunga dan melihatnya dengan seksama yang terus tersenyum ketika membaca puisi yang saya tulis. Saya tidak tahu apa makna di balik senyuman Bunga — tapi yang jelas, momen saat dia membaca puisi saya cukup berkesan. Mungkin, Bunga bersikap biasa-biasa saja. Tapi, di sisi saya, seakan-akan puisi itu telah menyatu di bibirnya sejak pertama kali dia membacanya. Dan, momen itu tentu saja menjadi sangat spesial bagi saya meski tidak berlangsung lama.
Saya masih ingat jelas momen tersebut yang terjadi sekitar tahun 2016 silam— dan sampai sekarang saya masih mengingatnya. Bahkan, bukan hanya itu, saya juga ingat dengan sangat jelas terhadap gelagat Bunga yang membaca membaca puisi saya — termasuk lelukan bibirnya ketika dia tersenyum. Saking terasa begitu spesialnya, saya sampai mengabadikan kenangan bersama Bunga itu ke dalam sebuah puisi yang berjudul Puisiku di Bibirmu.
Oleh karena kejadian bersama Bunga itu terasa cukup berarti hingga saya memutuskan untuk menyimpan kenangan itu sebaik mungkin, bahkan sampai menyimpannya di dalam bait puisi, lantas di saat saya benar-benar buntu terhadap ide tulisan dan kemudian tanpa sengaja melirik seorang wanita, dalam sekejap ide itu muncul melalui sebuah puisi. Namun, kemunculan ide sebenarnya bukan karena saya tanpa sengaja melirik seorang wanita asing tadi — kebenarannya adalah lirikan saya terhadap perempuan itu secara spontan membawa saya kembali mengingat kenangan dari wanita-wanita yang dulunya pernah menjadi sosok spesial di kehidupan saya, salah satunya adalah Bunga.
Barangkali, dari tulisan ini bisa mendeskripsikan saya sebagai laki-laki — seorang laki-laki umumnya dikenal cepat melupakan masa lalu, terutama yang berkaitan dengan cinta. Tapi, sebenarnya tidak seperti itu. Laki-laki tetap masih terngiang kejadian-kejadian di masa lampau, hanya saja terkadang mereka tak ingin mengekspresikannya — atau mereka punya cara tersendiri mengekspresikan kenangan di masa lalu — seperti cara yang saya lakukan yaitu berpuisi.
Laki-laki itu umumnya sulit mengekspresikan perasaannya di hadapan orang lain, lantas dia membuat dirinya biasa-biasa saja padahal hatinya sedang merasakan berbagai macam perasaan. Dan, untuk kenangan cinta, sebagian laki-laki masih menyimpan kenangannya dengan baik walaupun tidak ditampakkan. Saya pribadi masih ingat jelas bagaimana saat saya mengagumi teman SMA saya secara diam-diam.
Saya juga masih ingat satu momen spesial ketika dia memuji penampilan saya di hari perpisahan sekolah. Suaranya, lirikan matanya, senyumnya yang agak malu-malu itu sampai kemudian kami berdua berfoto bersama-sama — jelas saya masih bisa mengingatnya dengan cukup baik padahal itu terjadi di tahun 2014 silam — sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya.
Saya pikir, sebuah kenangan spesial yang pernah kita alami akan terus membekas dalam waktu yang panjang, baik dari sisi laki-laki ataupun perempuan. Kenangan spesial berarti sesuatu yang unik — bisa saja itu ingatan baik atau ingatan pilu — sebagian besar orang takkan melupakannya meski mereka bilang sudah tidak mengingatnya lagi. Tapi, di dasar hati, sebenarnya semua itu masih terlintas jelas.
Hanya saja, ada waktu-waktu tertentu yang membuat kenangan itu kembali hadir pada diri mereka. Dengan kata lain, tidak setiap harinya mereka teringat. Seperti saya yang kembali teringat kenangan lama ketika sedang buntu ide dan kemudian secara tak langsung malah melirik perempuan asing yang lewat begitu saja di hadapan saya.
Sulit melupakan sesuatu yang cukup berkesan di dalam kehidupan ini. Ketika kita berpikir bahwa kita sudah benar-benar melupakannya, ternyata kenangan itu malah kembali hadir di waktu-waktu tertentu secara tidak terduga. Lantas, apakah menjadi masalah? Sejauh yang saya tahu, itu semua tergantung dari sikap setiap orang. Jika kenangan itu tidak memperburuk kesehariannya, maka itu bukan suatu perkara yang mesti diperdebatkan. Sebaliknya, jika ingatan itu malah membuatnya terpuruk, sebaiknya jangan terlalu dipikirkan karena bisa memperparah situasi baik yang selaman ini sudah menjadi milik kita.
Hanya saja, momen-momen saat kita kembali terngiang terhadap kenangan lama, itu membuktikan bahwa kita sudah melalui banyak hal di belakang sana, baik yang berakhir bahagia ataupun yang berakhir sedih. Jika dikaitkan dengan kehidupan, kita seharusnya sudah menjelma lebih hebat di balik banyaknya kenangan yang membekas di dalam pikiran maupun hati.
Di balik sebuah kenangan spesial, ada beberapa di antaranya yang gagal kita dapatkan tapi masih membuat kita senyum-senyum saat mengingatnya. Hanya saja, karena situasi dan keadaannya sudah tidak memungkinkan lagi, maka ketika ada waktu-waktu tertentu kita kembali terngiang dengan ingatan masa lalu, hal yang bisa kita lakukan adalah menerima semuanya sebab kita sudah tak bisa lagi mengubah kenangan itu menjadi seperti yang kita inginkan.
Bunga dan teman SMA saya adalah contoh di mana saya gagal mendapatkan cinta dari salah satu mereka. Hal itu terjadi karena yang saya lakukan hanya mengagumi mereka secara diam-diam dan terus memendam perasaan sampai akhirnya mereka menjadi milik orang lain.
Meski saya punya keinginan besar untuk mengubah masa lalu untuk menjadikan salah satu dari mereka menjadi milik saya, pada akhirnya itu semua mustahil dilakukan. Yang terjadi adalah sebagian kenangan mereka masih bergentayangan di dalam benak saya tapi saya tetap tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya mengambil pelajaran agar di suatu hari nanti, ketika saya jatuh hati pada perempuan lainnya, saya harus menyatakannya agar yang bersangkutan peka. Andaipun nanti berakhir demgan ditolak, minimal saya punya kenangan baru lagi walaupun rasanya pahit.
Begitulah kejadian saat melirik perempuan secara tidak sengaja. Gelagat mereka terkadang membawa saya teringat kenangan tentang wanita-wanita yang dulu pernah saya kagumi namun gagal saya dapatkan. Meski begitu, kenangan itu malah berhasil memunculkan ide tulisan baru bagi saya yang sedang buntu.
Tapi, sekarang sudah agak beda. Saya merasa seperti sudah mampu menghadirkan ide-ide tulisan baru walaupun dalam keadaan buntu. Bisa dibilang, sekarang ini ada banyak ide di dalam kepala saya. Jadi, ketika saya buntu saat sedang menulis suatu topik, saya bisa mengganti ke topik lain sampai nanti ide yang lama kembali muncul. Hal ini terjadi mungkin karena saya sudah terbiasa menulis dan sudah terbiasa menghadapi kebuntuan dengan sikap yang tenang. Dengan demikian, saya tidak perlu berharap untuk melirik perempuan lewat secara tidak sengaja setiap saat saya lelah dan buntu ide.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






