POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Kampus

Kebijakan dan Praktik Diskriminatif dalam Pendidikan Tinggi

Ketimpangan Struktural antara PTN dan PTS di Indonesia

Redaksi by Redaksi
Desember 18, 2025
in Kampus, Perguruan tinggi, Perspektif
0

Pendidikan tinggi merupakan instrumen strategis negara dalam menjalankan amanat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, dalam praktiknya, kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia menunjukkan ketimpangan struktural yang serius antara perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS). Ketimpangan ini tidak hanya bersifat administratif atau fiskal, melainkan telah berkembang menjadi praktik diskriminatif sistemik yang merusak ekosistem pendidikan tinggi nasional.

Pernyataan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang menyatakan bahwa persoalan kuota mahasiswa PTN “tidak perlu dipermasalahkan”, justru memperlihatkan lemahnya sensitivitas kebijakan terhadap realitas sosial-ekonomi dan dampak struktural kebijakan negara di lapangan. Pernyataan normatif tentang “memperluas peluang belajar” gagal menjawab problem utama: ketiadaan keadilan dalam distribusi sumber daya negara.

Baca Juga
  • 01
    BUMN
    Tata Nilai UI yang Sedang Dilecehkan Kolektif.
    21 Jul 2021
  • Kebijakan dan Praktik Diskriminatif dalam Pendidikan Tinggi - 2025 08 26 06 15 35 | Kampus | Potret Online
    Aceh
    Menyiapkan Pemimpin Politeknik Aceh yang Visioner
    26 Agu 2025

PTN, Pendanaan Negara, dan Privilege Ganda

Sejak awal berdirinya Republik, PTN memperoleh pembiayaan penuh dari negara: mulai dari pembangunan infrastruktur, penggajian dosen dan tenaga kependidikan, penyediaan laboratorium, hingga subsidi operasional. Pendanaan tersebut bersumber dari pajak rakyat dan telah berlangsung lebih dari setengah abad.

Baca Juga
  • ad316ef9-75db-489f-af65-e87f3ed3768c
    Kajian
    Menimbang Yunani di Timbangan Ulama: Dialektika Al-Ghazali dan Al-Jili
    06 Apr 2026
  • Kebijakan dan Praktik Diskriminatif dalam Pendidikan Tinggi - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Kampus | Potret Online
    # Ironi
    Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
    16 Apr 2025

Namun, dalam dua dekade terakhir, PTN juga diberikan keleluasaan untuk menarik dana langsung dari masyarakat melalui uang kuliah dan skema penerimaan mahasiswa baru dalam jumlah besar. Akibatnya, PTN menikmati privilege ganda: dana publik dari negara dan dana privat dari masyarakat secara simultan.

Sementara itu, PTS—yang sebagian besar lahir dari inisiatif masyarakat sipil, organisasi keagamaan, dan yayasan pendidikan—harus membangun institusinya secara mandiri tanpa dukungan anggaran negara. Padahal, kontribusi PTS dalam sejarah pendidikan nasional sangat signifikan, bahkan mendahului lahirnya negara, seperti Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Nasional (Unas).

Baca Juga
  • Kebijakan dan Praktik Diskriminatif dalam Pendidikan Tinggi - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Kampus | Potret Online
    #Pendidikan
    Kampus: Pabrik Gelar atau Pencetak Kader Bangsa? Saatnya Berhenti Menjual Mimpi
    30 Jul 2025
  • a94b2e7b-9a15-4874-921b-98e123348821
    Artikel
    Antara Kafe dan Kelas: Saatnya Kampus Aceh Keluar dari Kekakuan
    05 Apr 2026

Kegagalan Daya Saing Global dan Distorsi Kebijakan Domestik

Ironi terbesar dari sistem ini adalah kenyataan bahwa PTN Indonesia, meskipun dibiayai besar-besaran oleh negara, tetap gagal menembus jajaran universitas elite Asia dan global. Dibandingkan dengan universitas di Singapura dan Malaysia, PTN Indonesia tertinggal dalam kualitas riset, tata kelola, dan reputasi internasional.

Alih-alih melakukan konsolidasi mutu dan reformasi struktural, PTN justru memperluas kuota mahasiswa sebagai strategi bertahan finansial. Strategi ini bukan hanya tidak menyelesaikan persoalan kualitas, tetapi juga menciptakan persaingan destruktif (cutthroat competition) dengan PTS, yang tidak memiliki bantalan fiskal dari negara.

Negara, dalam konteks ini, gagal menjalankan perannya sebagai wasit yang adil. Kebijakan dibiarkan bekerja secara liar, menekan PTS hingga banyak yang gulung tikar, terutama di daerah. Dampaknya, peran masyarakat sipil dalam pendidikan tinggi terkikis secara perlahan.

Diskriminasi Anggaran dan Pelanggaran Asas Kesetaraan

Distribusi anggaran pendidikan tinggi yang hanya berpihak pada PTN merupakan bentuk diskriminasi kebijakan yang bertentangan dengan asas kesetaraan (equality). Pajak dipungut dari seluruh warga negara tanpa membedakan latar belakang institusi pendidikan, namun hasilnya hanya dinikmati oleh PTN.

Dalam perspektif keadilan fiskal dan konstitusional, tidak ada justifikasi yang kuat untuk menolak pembagian anggaran negara secara proporsional kepada PTS. Keduanya sama-sama menjalankan fungsi publik, mencerdaskan bangsa, dan melayani kepentingan nasional.

Oleh karena itu, usulan pemotongan 50 persen anggaran negara untuk PTN dan pendistribusiannya secara proporsional kepada PTS patut dipertimbangkan sebagai kebijakan korektif. Terlebih, fakta menunjukkan bahwa banyak PTN saat ini memperoleh hingga 70–80 persen pendanaannya dari masyarakat. Dengan demikian, pemotongan tersebut secara riil hanya berdampak sekitar 10–15 persen terhadap total pendapatan PTN.

Alternatif Kebijakan: Pembatasan Kuota dan Skema Subsidi Silang

Jika pembagian anggaran negara tidak dimungkinkan secara politik, maka alternatif kebijakan yang lebih adil adalah pembatasan penerimaan mahasiswa berbiaya mandiri di PTN. PTN seharusnya memprioritaskan mahasiswa dari kelompok kurang mampu dengan pembiayaan penuh negara.

Mahasiswa dari kelompok mampu dapat diterima melalui skema subsidi silang (cross subsidy), di mana mahasiswa kaya secara langsung menopang pembiayaan mahasiswa miskin. Skema ini menegakkan asas proporsionalitas dan mencegah PTN menjadi institusi komersial terselubung yang bersaing tidak adil dengan PTS.

Ketimpangan antara PTN dan PTS bukanlah persoalan teknis, melainkan masalah keadilan struktural dalam kebijakan negara. Selama negara terus memelihara diskriminasi anggaran dan membiarkan PTN menguasai sumber daya publik dan privat sekaligus, maka ekosistem pendidikan tinggi nasional akan terus timpang dan rapuh.

Jika negara sungguh-sungguh ingin menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945, maka reformasi pendanaan pendidikan tinggi berbasis asas kesetaraan dan proporsionalitas adalah keniscayaan, bukan opsi.

Previous Post

Merenung di Pinggir Lajunya Air Hitam

Next Post

Bendera GAM, PBB, sampai Bendera Putih Berkibar di Aceh

Next Post
Kebijakan dan Praktik Diskriminatif dalam Pendidikan Tinggi - 01d8eb51 20d1 41a1 b2ef 560fffef5257 | Kampus | Potret Online

Bendera GAM, PBB, sampai Bendera Putih Berkibar di Aceh

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah