POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menggapai Prestasi

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
February 9, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Reza Pahlevi

Tak ada yang tahu kisah perjalanan seseorang dalam menjalani kehidupan. Terkadang ada yang terlalu lama berada di atas, lalu tiba-tiba malah terjungkal. Kadang juga ada yang terlalu lama berada di bawah hingga tak terduga-duga dia sudah terbawa ke atas.

Hidup ini penuh misteri karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Dan, kehidupan seseorang adalah tanda tanya sebab kita tidak pernah tahu di titik mana dirinya berada di masa depan. Oleh karena itu manusia disuruh menjalani hidup ini dengan semestinya.

Bagaimana menjalani hidup dengan semestinya? Sejauh yang saya pahami, itu berarti kita terus berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa tanpa perlu terlalu ria jika hasilnya sesuai rencana — atau tanpa perlu menyesal secara berlebihan ketika tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Saya teringat kenangan di masa-masa perkuliahan. Saya kuliah di FKIP Bahasa Inggris USK, dan pada saat itu saya masih berjibaku dengan semester satu serta berusaha semaksimal mungkin beradaptasi terhadap perubahan antara dunia sekolahan dan ruang lingkup perkuliahan. Tapi, ini bukan kisah saya melainkan cerita teman saya. 

Saya dan si teman itu — sejak awal kami saling kenal— dia sudah berterus terang pada saya bahwa dirinya cukup kurang dalam hal berbahasa Inggris, dan tanpa malu dia menyebut diri tidak bisa Bahasa Inggris. Ungkapannya itu.

Bagi sebagian besar mahasiswa Bahasa Inggris akan dianggap sebagai aib sebab untuk apa kuliah di jurusan itu jika tidak mampu menggunakan bahasanya dalam percakapan sehari-hari. Tapi, di balik ungkapannya tadi, dia punya sebuah impian besar yaitu pergi ke luar negeri di mana negara tersebut menggunakan Bahasa Inggris.

Kata-kata teman saya yang mana ia mengutarakan dirinya tidak bisa Bahasa Inggris buka bualan semata. Saya adalah sosok yang lumayan lama satu kelas dengannya selama di kampus dan tahu betul karakternya sebagai mahasiswa. Jadi, suatu hari saat matakuliah speaking, dosen menyuruh kami berbicara di depan kelas baik secara monolog, dialog ataupun grup — tergantung kondisi dan situasinya — dan itu merupakan tugas wajib.

Oleh karena kami semua masih duduk di semseter satu, maka ada kemudahan — dosen memberi kesempatan kepada kami untuk mempersiapkan teksnya terlebih dahulu, baru kemudian di hapal sebelum menampilkannya di depan kelas. Saya sendiri sudah terbiasa dengan urusan hapal-menghapal, jadi tidak terlalu sulit lagi. Hanya saja, yang menjadi masalah bagi saya adalah urusan mental karena sejak dulu saya cukup takut jika harus berbicara di depan orang ramai, apalagi jika sendirian.

Perbedaan jelas tampak pada teman saya. Dia masih merasa kesulitan walaupun sudah menyusun teks dengan cukup rapi. Tidak hanya itu, ia pun juga terlihat sangat kesusahan saat menghapal. Berkali-kali dia meminta bantuan saya ketika sedang latihan agar saya memerhatikan teks saat ia sedang menghapal. Tapi, berulang kali juga dia lupa. Bahkan, saat waktunya tampil pun dia masih belum siap seratus persen.

Ketika tiba saatnya tampil , teman saya yang super tidak siap itu malah berani-beraninya mengajukan diri sebagai orang pertama yang maju ke depan kelas. Saya sempat meliriknya dan sedikit tersenyum — tapi bukan senyuman mengejek. Hanya saja, dalam hati diri saya sempat bergumam, “sialan anak ini! Keren juga dia”. Dan, ketika dia maju, sesuatu pun terjadi.

Dengan penuh percaya diri dia malah mencampur bahasa; bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Padahal, seharusnya hal itu mesti dihindari sebab pertama matakuliahnya adalah speaking dan sudah jelas harus berbicara dalam Bahasa Inggris — kedua, caranya yang mencampur dua bahasa itu malah menjadi bahan tertawaaan teman-teman lainnya.

Namun, dia tak peduli dan terus tampil dengan gayanya itu sampai selesai. Hal tersebut sampai membuat saya kembali membatin, “wow gila juga dia… kepercayaan dirinya di luar batasan kemampuan saya”. Saat dirinya kembali duduk, seiring dia berjalan saya menjadi orang yang lumayan bertepuk tangan dengan rasa bangga. Melihat dirinya yang berani itu membuat saya berpikir bahwa saya harus seperti dirinya juga.

Selama matakuliah speaking, teman saya itu terus tampil dengan gayanya sendiri; mencampur dua bahasa tanpa peduli ditertawai. Tapi, perlahan-lahan hasilnya mulai tampak. Seiring semester yang berganti, Bahasa inggris-nya pun mulai lancar sampai pada akhirnya ketika ada tugas presentasi, dia sudah tidak perlu lagi menyiapkan teks untuk berbicara di depan kelas — dia langsung bicara spontan saja dan itu sudah full English.

Dari yang tampil dengan dua bahasa dan sampai menjadi bahan tertawaan orang lain, kemudian berubah menjadi sosok yang cukup berprestasi di kampus. Begitulah teman saya. Dia memang terlihat kurang di satu sisi, tapi dia punya motivasi besar di balik impiannya yang ingin pergi ke luar negeri. Motivasi itu ia gunakan untuk mendorong dirinya menjadi salah satu mahasiswa aktif di bidang akademik.

Awalnya memang tertatih-tatih, namun ketika dia sudah berhasil mendapatkan celahnya, di situlah dia menjelma hebat dan sulit dihentikan. Sampai pada akhirnya, dia berhasil mewujudkan impiannya pergi ke luar negeri melalui beasiswa pertukaran pelajar. Saya lupa ke negara mana dia pegri, tapi yang jelas ia sudah berhasil menggapainya.

Dan, saat ini, dia sedang menempuh pendidikan S2 di Australia.

Bayangkan, awal perjumpaan saya dengan si teman itu, dia sudah berterus terang kalau dirinya tidak mahir berbahasa Inggris. Tapi, dengan tekad yang kuat, motivasi yang besar, dan rasa percaya diri yang bukan main-main, dia akhirnya berhasil menggapai mimpi pergi ke luar negeri.

Baginya, pergi ke luar negeri adalah sebuah prestasi yang dapat membangkitkan semangatnya selama kuliah, maka dari itu dia terus berusaha meski sempat ditertawai karena gayanya yang unik.

Lantas, apakah prestasi teman saya itu langsung terbentuk begitu saja? Tentu saja tidak. Ada tahap-tahap yang ia lalui untuk sampai ke puncak. Dia rela dirinya menderita di balik usaha. Tapi, dia tidak menderita tanpa alasan yang jelas — dia menderita untuk sebuah prestasi.

Sekarang, yang menjadi permasalahannya adalah seberapa siap seseorang untuk menderita demi sebuah prestasi? Mempersiapkan diri demi sebuah prestasi tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ada usaha-usaha yang mesti dilakukan berkali-kali — dan di balik usaha itu, ada berulang kali seseorang terjatuh bahkan sampai membuatnya ingin menyerah saja. Dengan kata lain, butuh waktu untuk membentuk diri sebagai persiapan menuju prestasi.

Saya sendiri sejak dulu punya impian kecil yaitu berbicara di depan orang ramai tanpa takut. Impian ini lantas menjadi sebuah prestasi besar semasa kuliah jika saya berhasil mewujudkannya. Dan, teman saya tadi mengajarkan banyak hal kepada saya secara tak langsung sehingga tanpa sadar saya juga mengikuti caranya; mengesampingkan overthingking dan fokus kepada tujuan. Ya, rasa takut saya setiap saat berbicara di depan orang ramai selalu muncul dari overthingking, sehingga saya pun gugup dan juga cemas. 

📚 Artikel Terkait

Di Pasar Malam

Gitar Kecilku

Momentum Untuk Kembali Kepada Kebaikan

Demokrasi dan Pendidikan

Lantas, untuk membawa prestasi ini menjadi nyata dalam diri saya, saya melawan rasa takut. Tidak mudah melakukannya karena saya orangnya mudah putus asa jika gagal. Di situlah saya jatuh berulang kali sampai akhirnya keberhasilan pun datang dan saya benar-benar bisa berbicara di depan orang banyak tanpa perlu takut lagi.

Jika ditelusuri ke belakakang semasa kuliah, butuh waktu sekitar tiga setengah tahun bagi saya untuk berusaha. Bayangkan, hanya untuk memberanikan diri berbicara di depan orang banyak, saya harus latihan keras selama bertahun-tahun demi sebuah prestasi.

Nah, dari dua pengalaman di atas, coba kita kaitkan dengan anak-anak sekolah. Sekarang, banyak sekali ajang perlombaan yang diadakan di setiap jenjang sekolah. Tujuannya untuk meningkatkan prestasi — atau juga untuk mendapatkan golden ticket sehingga siapa saja siswa yang ingin masuk ke sebuah jenjang sekolah, dia tidak perlu melalui tahapan tes, cukup menunjukkan bukti golden ticket itu.

Bagus sekali memang setiap sekolah berlomba-lomba membuat kompetisi demi meningkatkan prestasi anak-anak murid. Nah, di sini, sebenarnya saya punya pandangan lain terkait ajang perlombaan tersebut. Khususnya dalam hal prestasi, bagi saya prestasi itu bukanlah saat si murid memenangkan ajang perlombaan dan kemudian mendapatkan piala serta berbagai macam penghargaan lainnya. Justru, yang menjadi prestasi awal bagi para murid adalah kemauan mereka untuk ikut berpartisipasi.

Ya, ikut berpartisipasi menurut saya merupakan tonggak awal prestasi bagi siswa-siswi. Kenapa? Jawabannya karena banyak anak-anak yang kurang motivasi untuk mengikuti lomba atas beberapa alasan yang seharusnya tak patut dijadikan alasan. Kalau kita bilang takut kalah, maka jenis perlombaan mana yang tidak ada kalahnya? Oleh sebabnya saya katakan alasan seperti ini tidak logis dan tak patut dibenarkan.

Lantas, cara bagaimana mengubah pandangan siswa-siswi untuk mau ikut berkompetisi adalah pondasi awal. Ketika mereka sudah punya kemauan, maka sudah tertanam satu prestasi dalam diri mereka. Lalu, ketika pada akhirnya mereka gagal menang namun tetap ada motivasi untuk kembali bertarung di kesempatan lain, itu tandanya sudah ada prestasi kedua dalam diri siswa-siswi.

Kenapa saya katakan demikian? Saya sendiri sebenarnya merupakan salah satu pengajar di sekolah MIN 20 Aceh Besar. Selain itu, saya juga dipercaya menjadi pembimbing bagi murid-murid yang akan mengikuti lomba yang diadakan oleh sekolah lain.

Tahun lalu, sekitar bulan Februari dan Maret, saya berkesempatan membimbing seoramg siswi kelas enam, namanya Inayati. Selama proses bimbingan, terbesit dalam batin bagaimana nanti jadinya nasib sekolah ini ketika si siswi sudah tamat? Siapa sosok pengganti yang tepat untuk melanjutkan kiprahnya sebagai murid yang sudah berlangganan mengikuti lomba? Lantas, saya pun mencoba mencari bibit-bibit baru, terutama dari anak-anak di kelas saya mengajar.

Namun, hebatnya banyak dari siswa-siswi di kelas saya mengajar bakatnya bukan di bidang bahasa melainkan akademik, olahraga ataupun seni — sedangkan saya butuhnya di bidang bahasa, tepatnya Bahasa Inggris. 

Di suatu hari, ada guru Bahasa Inggris lain yang datang ke saya dan merekomendasikan seorang siswi di kelasnya untuk ikut lomba Spelling Bee. Saya pun langsung menemui anak yang saat itu masih duduk di kelas empat tersebut dan sempat berbicara sedikit mengenai dirinya sendiri. Saya juga sempat mencoba berbahasa Imggris dengannya dan dia bisa menjawab saya dengan baik sesuai kapasitas anak MIN.

Dari situlah saya berpikir, sepertinya anak bernama Adiza itu bisa menjadi penerus Inayati, siswi kelas enam tadi. Hanya saja, yang menjadi masalahnya adalah gadis cilik kelas empat itu terlalu mudah overthingking; mengira dia tidak bisa mengikuti ajang lomba Spelling Bee. Padahal, dicoba saja belum.

Di sinilah letak tugas saya sebagai sosok pendamping. Saya mencoba meyakinkan siswi kelas emapt itu agar paling tidak dia mau ikut lomba Spelling Bee. Salah satu cara yang saya lakukan adalah menghubungkannya dengan Inayati sehingga interaksi mereka terjalin baik dan si kakak kelas pun tanpa ragu membantu adik kelasnya, terutama dalam hal motivasi.

Singkat cerita, Adiza akhirnya mau dan saya pun merekomendasikan dia serta Inayati untuk terjun ke lomba Spelling Bee. Ada dua sekolah yang diikuti Adiza, sementara kakak letingnya hanya ikut di satu sekolah saja sebab tak lama lagi dia akan melakukan persiapan ujian akhir.

Adiza gagal di lomba pertamanya. Dia langsung tersingkir di babak penyisihan. Kegagalan itu ternyata sedikit membuatnya putus asa. Dia bahkan sampai tidak mau lagi berpartisipasi di ajang Spelling Bee lainnya — padahal dia sudah didaftarkan untuk ikut.

Di sini, saya pun berpikir keras — mencari cara supaya dia termotivasi lagi. Saya keluarkan semua kata-kata mutiara untuk membantunya pulih — termasuk menegaskan padanya bahwa nanti dia bisa menembus ke babak selanjutnya. Tidak hanya itu, saya bahkan juga meminta bantuan kepada ibu si siswi untuk meyakinkan sang anak sampai kemudian dia bangkit tapi masih belum yakin sepenuhnya.

Akhirnya, Adiza memutuskan kembali ikut serta dalam lomba Spelling Bee di sekolah lain. Meski sejak awal dia tidak begitu yakin, tapi siapa sangka ternyata dia berhasil tembus babak final. Memang, di final gadis cilik itu kalah dan gagal mendapatkan piala, tapi sebenarnya dia mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi dari sekedar piala yaitu motivasi. Dan, benar saja, selepas lomba keduanya itu, Adiza sempat beberapa kali bertanya pada saya kapan kompetisi Spelling Bee diadakan lagi. Mendengar itu sudah cukup membuat saya bahagia. Si gadis cilik sepertinya sudah berhasil mendapat sebuah prestasi yang tak terhitumg nilainya.

Lantas, di tahun ini, tepatnya beberapa ke belakang, Adiza kembali berpartisipasi dalam lomba. Kali ini, dia tidak hanya turut serta di ajang Spelling Bee, saya juga merekomendasikannya untuk mengambil bagian di kejuaraan pidato Bahasa Inggris. Dan, sebelum lomba, saya katakan padanya bahwa menang kalah itu tidak akan menjadi masalah — yang terpenting adalah ikuti lombanya sampai tuntas dan serahkan hasilnya pada Allah.

Di ajang Spelling Bee, Adiza sekali lagi harus memupus harapannya menjadi yang terbaik. Seperti tahun sebelumnya, dia mengikuti lomba itu di dua sekolah yang berbeda. Sekolah pertama dia langsung tumbang di babak penyisihan — sedangkan di sekolah lainnya dia kembali kalah di final dan harus menerima peringkat ke empat. Tapi, yang menjadi tolok ukur saya bukan sejauh mana pencapaiannya di ajang lomba itu melainkan bagaimana cara dia menyikapinya. Meski kalah, dia tidak terlalu kecewa seperti di tahun sebelumnya. Dan lagi, gadis itu terlihat lebih tenang saat menjalani proses lomba. Dengan kata lain, prestasi Adiza sudah meningkat.

Memang, Adiza kalah dalam ajang Spelling Bee. Tapi siapa sangka ternyata dia berhasil juara di kompetisi pidato Bahasa Inggris. Siswi itu mendapat juara dua dan membawa pulang sebuah piala serta sertifikat. Ya, dia berhasil melalukannya tepat di hari Jumat kemarin. Saya ingat betul bagaimana ekspresi si gadis cilik ketika saya datang ke kelasnya dan bilang kalau dia berhasil merengkuh juara kedua — terlihat wajahnya sangat bahagia. Bahkan, momen saat dia menerima piala itu… saya terus memerhatikannya seraya bergumam dalam hati, “kamu layak”.

Senang rasanya melihat gadis cilik bernama Adiza itu. Dia berhasil merengkuh prestasi yang luar biasa. Piala yang dia dapat itu adalah hadiah dari prestasi yang telah terbentuk selama satu tahun yaitu menanam rasa motivasi. Ya, saya percaya bahwa ia sudah berhasil mendapatkan prestasinya sejak pertama kali mengikuti ajang lomba Spelling Bee di tahun lalu.

Di waktu itulah karakternya mulai terbentuk; dia sempat kecewa karena kalah tapi kemudian memilih bangkit sampai akhirnya berhasil meraih sebuah piala melalui kejuaraan pidato Bahasa Inggris. Itulah prestasi sesungguhnya ketika ia memilih untuk tidak menyerah dan terus mencoba.

Dari kisah kecil Adiza ini, bisa kita jadikan referensi bahwa meraih prestasi itu bukan berawal dari dirinya mendapatkan piala atau penghargaan lain apa pun jenisnya — meraih prestasi itu berawal dari motivasi untuk tidak menyerah. Bagi orang tua yang sekarang anaknya sudah bersekolah, baik di tingkat SD, SMP atau SMA, anda punya pengaruh besar untuk menciptakan karakter anak anda menjadi sosok yang tangguh dan tahan banting — di sekolah, pekerjaan itu menjadi tanggung jawab guru.

Kelak, ketika waktunya tiba, peran anda sebagai orang tua akan digantikan oleh sang anak. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita saling bahu-membahu (antara orang tua dan guru) untuk membentuk karakter mereka entah itu melalui ajang lomba atau lainnya. Jika melalui ajang lomba, tak perlu risau jika si anak gagal mendapat juara. Atau, jika melalui proses belajar mengajar di sekolah, jangan pusing jika anak anda tidak mendapat rangking satu.

Tapi, khawatirlah jika dia akhirnya berhenti mencoba, yang mana hal itu bisa mempengaruhi masa depannya.

Saya sudah mengutarakannya di atas bahwa hidup ini penuh misteri; terkadang kita berada di titik terendah — kadangkala kita ada di puncak tertinggi. Berada di titik mana diri kita bukan sebuah perkara, tapi cara menyikapi diri sendiri terhadap keberadaan kita di ajtara salah satu titik itu menjadi hal cukup vital karena akan mempengaruhi arah kehidupan kita di masa depan.

Untuk itu, motivasi sangat berpengaruh sebab mau seberat apa pun rintangannya, kita tetap mencoba dan terus mencoba sampai akhirnya kita berhasil mendapatkannya. Namun, apabila tidak, kita tahu cara menyikapinya tanpa harus berputus asa atau kecewa secara berlebihan.

Begitulah pandangan saya terhadap prestasi — termasuk prestasi saya sendiri ketika akhirnya berhasil berbicara di depan orang banyak — atau prestasi teman saya yang mimpinya pergi keluar negeri terwujud — ataupun prestasi Adiza yang berhasil mendapat juara di ajang lomba pidato Bahasa Inggris.

Mendapatkan sesuatu yang kita kejar memang sebuah pencapaian yang luar biasa dan kita menyebutnya sebagai prestasi tertinggi. Tapi, di balik itu, cara kita dan juga jalan yang kita tempuh untuk mendapatkan sesuatu itu adalah prestasi yang tak terhitung nilainya — itulah yang namanya motivasi dan berusaha.

Dari kisah teman sekampus saya sampai kepada cerita Adiza, saya akhirnya menyadari satu hal yaitu; sesuatu yang belum berhak kita miliki takkan pernah menjadi milik kita walaupun kita sudah berjarak cukup dekat. Lalu, di saat sesuatu itu sudah saatnya menjadi milik kita, meskipun terasa mustahil untuk digapai, pada akhirnya kita tetap berhasil mendapatkannya.

Maka dari itu, bentuklah prestasimu dan rengkuhlah hasilnya di kemudian hari. Tidak perlu terburu-buru karena nanti kamu bisa kecewa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Membangun Karakter di Era Digital

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00