• Latest
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”

Pembelajar yang “Belepotan” di Era Industri 4.0

Februari 8, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pembelajar yang “Belepotan” di Era Industri 4.0

Redaksiby Redaksi
Februari 8, 2025
Reading Time: 4 mins read
Tags: LiterasiPendidikan
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”
599
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Muhammad Afnizal, S.Sos, M.Sos

Era revolusi industri 4.0 merupakan istilah yang tidak asing lagi di telinga. Semua negara di dunia berusaha semaksimal mungkin mengadopsi era industri 4.0. Namun, di tengah maraknya era ini “sepertinya” banyak pihak bukan tidak tahu terkait kemunculan era industri 4.0 ini, melainkan lebih mengarah untuk “tidak mau tahu” akan keberadaannya. Sikap yang akan menyebabkan kondisibelepotan dalam menghadapi “new era” ini.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Padahal, ikut berperan aktif berbagai pihak, terkhusus para praktisi keilmuan merupakan langkah baik dalam membawa negeri ini ke arah kemajuan dan kesejahteraan. Sikap acuh tak acuh harusnya diganti dengan keinginan untuk “mau tahu” terhadap kondisi sekarang. Karena mau tidak mau,  kita hidup dan berjalan dalam eranya.

Maka dari itu untuk menjaga proses keterlibatan Bangsa, diperlukan kesadaran secara kolektif,  kemauan yang kuat dalam berpartisipasi dengan jiwa dan raga. Menilik pembelajar sebagai anutan yang harus memberikan teladan kepada masyarakat yang lebih luas.Hal ini dimaksudkan sebagai pembentukan karakter pada pribadi setiap pembelajar, supaya lebih konkret dalam bertindak dan berpikir, supaya fenomena belepotan dalam menghadapi era industri 4.0 tidak terjadi.

Tidak perlu menunggu nanti. Sekarang adalah momentum yang cocok untuk semua, terkhusus insan pendidikan supaya kembali berbenah diri, mewawancarai diri secara “ in-depth interview”. Apakah memilih tetap berusaha bertahan dalam zona nyaman-ketinggalan zaman, ataukah meralat diri bahwa sebagai pembelajar masih sangat “belepotan” dalam berpartispasi di era industry 4.0.

Konkretnya, fenomena “belepotan” yang disebutkan  di sini, acap kali muncul di sekitar kita. Sudah lebih dari satu dekade, sejak pertama kali istilah industry 4.0 muncul. Kesannya proses yang terjadi di sekeliling cenderung masih kian pasif, tidak serius dan “melompat-lompat”.

Belepotan diartikan sebagai kondisi yang berantakan, acak-acakan, carut-marut, tidak teratur. Ungkapan yang penulis anggap pas menggambarkan kondisi yang semrawut dalam menghadapi era industri 4.0 dewasa kini.

Bagi yang mengakui diri sebagai pembelajar dan diakui juga oleh sistem pendidikan secara formal maupun non formal, terdiri dari siswa dan guru serta berbagai subjek relasi belajar lainnya yang dianggap sebagai pembelajar. Termasuk pembelajar yang paling tinggi kastanya yaitu mahasiswa dan dosen, diharapkan menjadi“kiblat” dalam menghadapi era industri 4.0 ini.

Harapan tersebut tidak menjadi kewajiban mutlak tentunya karena tidak ada “dalil Tuhan” yang mengatur secara eskplisit tentang hal ini, tidak ada ancaman neraka yang pasti jika kita masih belepotan dalam menyikapi indsutri 4.0 ini. Tidak bermaksud normatif, namun ada perasaan malu dan bersalah ,setidaknya yang menjadi tolak ukur untuk serius mengadopsi industri 4.0 dalam ruh pembelajaran dan sendi kehidupan.

Semenjak sebelum corona virus disease 2019 (Covid-19) muncul untuk pertama kali di Wuhan, berbagai negara di belahan bumi telah hiruk-pikuk dengan industri 4.0 ini, bahkan ada yang negara yang sudah mendaklarasikan telah memasuki era society 5.0 sejak 2017 yang lalu.

Seolah menjadi jawaban atas harapan sebagian untuk terus maju dan berani, punya nyali untuk bangkit dari malas, karena penyakit sosial rata-rata bukan terletak pada kebodohan, tapi variabel terbesarnya adalah rasa “malas” untuk mengganti ceruk dalam otak yang berisi bagian bodoh dengan bagian pintarnya.

Bagai pungguk merindukan bulan, covid-19 melanda negeri dan semua “mau tidak mau”, siap tidak siap diharapkan pada pilihan harus mau dan siap, nyatanya tersaksikanlah pemandangan belajar daring. Proses pembelajaran jarak jauh menjadi jawaban ketika semua pembelajar harus berdiam diri di rumah  masing-masing. 

Belajar itu penting, namun menyelamatkan nyawa harus lebih penting. Karena belajar perlu fungsi fisik yang sehat dan bergizi, namun siapa yang bisa belajar tanpa memiliki nyawa.

Diakui, sulit untuk menghadapi perubahan sosial yang “mendadak-dangdut” tersebut. Keguncangan terasa amat kuat dalam pranata sosial masyarakat. 

Protes masyarakat mengalir deras dalam penerapan belajar dari rumah. Namun Kemendikbud kekeuh dengan penerapan“belajar dari rumah”, bantuan kuota diberikan, radio, televisi, menjadi media belajar atas jawaban ketimpangan ekonomi yang berlaku.

Namun mengapa terasa begitu cengengesan, seolah tidak serius dalam praktiknya. Pemanfaatan teknologi internet ketika belajar dari rumah hanya sebatas menjadi pilihan sulit, untuk segera ditinggalkan karena sarat akan masalah yang muncul. Alih-alih mencari solusi dan terus berbenah diri, tampaknya cara belajar tradisional lebih diterima.

Di sinilah fokus masalahnya, sampai kapan akan menahan diri untuk tidak bergelut dengan era industri 4.0. “Orang” sudah ke bulan kita masih berdebat bumi bulat apa datar, “orang” sudah menciptakan nuklir kita masih berbangga hati membahas mengusir penjajah dengan bambu runcing. Bukankah “kita” juga “orang seperti orang-orang?”.

Bukankah tingkat intelektual juga dilihat dari mana seseorang mampu menempatkan diri? Miris rasanya melihat “pembelajar” terkhusus di “Bumi Serambi Mekkah”masih “ramai” yang belum ikut ambil bagian dengan serius dalam menghadapi kenyataan, berpartisipasi dengan kecanggihan teknologi, industrialisasi. 

Mereka masih canggung dalam presentasi menggunakan power point, masih bingung dan gugup ketika dimintai untuk “share screen” dalam pengalaman belajar daring. 

Bukankah banyak video literasi, cara belajar otodidak, hampir tutorial belajar apapun ada videonya di internet. Semua konsep yang bernilai positif dan negatif ada linknya. 

ADVERTISEMENT

Namun kecenderungan yang ditonton bukanlah video yang mendukung studi, melainkan video asusila yang mempertontonkan aksi “belepotan-sensual” yang kononnya juga ada yang diperankan oleh “siswa”bahkan “guru”. 

Tidak bermaksud menjadi penilai etis, namun malu rasanya menyaksikan fenomena ini terjadi. Pembelajar adalah kunci dalam menghadapi era industri 4.0 berikut problematika dan tantangannya. Kesiapan para pembelajar secara fisik, keilmuan dan mental merupakan jalan yang harus ditempuh meski terjal dalam konteks menghadapi segenap problematika dan tantangan di era industri 4.0 ini. 

Kasus belepotan hanyalah menjadi fenomena “habitus” yang dapat dicegah dan tidak terjadi jika terdapat keperdulian secara kolektif, bahu membahu dalam menyonsong arah pembelajaran yang lebih baik, lebih bermartabat.

Dengan tetap menjunjung pada dua nilai kebudayaan yang membaur pada praktik Industrialisasi dan esensi kearifan lokal, sehingga karakter Pribadi bangsa terkhusus pembelajar tetap terakomodasi pada tatanan dan tuntunan dari hakikatnya Bangsa Indonesia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Harapan Besar Sri Eko Sriyanto Galgendu Kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto Dapat Segera Memulihkan Ekonomi Indonesia Yang Terpuruk

Ekspresi Kemarahan Warga Masyarakat Solo Karena Mentoknya Sikap Sabar dan Unggah-Ungguh Yang Membentur Tembok Kekuasaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com