Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Sebuah video amatir memperlihatkan Mega terbaring usai laga. Video itu tak ada di televisi. Terus terang, saat menonton video itu, saya meneteskan air mata. Tukang ngopi kok menangis. Tangis haru melihat sang pendekar kita berlinang air mata.
Langit malam menaungi stadion yang baru saja bergetar oleh sorak kemenangan. Cahaya lampu menerangi wajah-wajah berseri, senyum-senyum mengembang, dan tangan-tangan terangkat ke udara, merayakan kejayaan yang telah diraih dengan darah dan keringat. Nama Megewati Hangestri Pertiwi dielu-elukan, bagaikan pahlawan yang baru saja kembali dari medan perang dengan pedang berlumur darah lawan.
Ia telah menumbangkan Hyundai Hillstate, sang juara bertahan, di hadapan ribuan pasang mata yang menyaksikan duel hidup dan mati itu. Di lapangan, ia adalah pendekar, seorang kesatria tanpa rasa gentar, yang bertempur seakan tak mengenal lelah. Ketika kemenangan akhirnya menjadi miliknya, seharusnya ia berdiri tegap, menerima sorak-sorai dengan dada membusung.
Namun di sudut lapangan yang remang, jauh dari kilatan kamera dan teriakan euforia, Mega tergeletak diam.
Wajahnya tersembunyi di balik handuk, tubuhnya tak bergerak, hanya napasnya yang naik turun dalam ritme tak beraturan. Ia tak ikut berpesta. Ia tak tersenyum lebar. Ia memilih tenggelam dalam kesunyian. Penterjemahnya duduk di samping. Tak mau mengusik Mega dalam balutan handuk.
Seorang pelatih, anak buah Ko Hee-jin, melihat pemandangan itu. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Kemenangan seharusnya penuh suka cita, tapi mengapa sang pemenang justru terbaring tak bersuara? Perlahan, ia mendekat, lalu berjongkok di samping Mega. Dengan hati-hati, ia menepuk bahunya, mencoba membangunkannya dari keheningan yang begitu mencekam.
Mega menggerakkan tangan, menyingkap handuk yang menutupi wajahnya. Saat itulah, dunia seakan berhenti berputar. Ia menangis.
Mata itu, mata yang tadi penuh api saat bertarung, kini basah dan merah. Air matanya mengalir tanpa suara, jatuh ke handuk yang sudah kuyup oleh keringat dan kelelahan. Sang pelatih tertegun. Ia mengira Mega kesakitan, mungkin tubuhnya remuk setelah pertarungan panjang yang luar biasa sengit. Dengan refleks, ia mulai memijat punggungnya, mencoba meredakan pegal yang mungkin mendera.
Namun Mega tetap menangis. Ini bukan tangis kelelahan. Ini bukan tangis rasa sakit. Ini adalah tangis yang lahir dari luka yang tak terlihat.
📚 Artikel Terkait
Lalu, Park Eun-jin datang, sahabatnya. Ia berlutut di samping Mega, menyentuh lengannya, berusaha menghiburnya. Tak lama, seorang ibu, ibu yang selama ini setia merawat para pemain dengan penuh kasih—menghampiri. Seorang ibu selalu tahu, bahwa ada tangis yang tak membutuhkan kata-kata.
Ia meraih tangan Mega, mengusap rambutnya dengan lembut, seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya yang baru saja bangun dari mimpi buruk. Perlahan, senyum itu muncul di wajah Mega. Samar, lemah, tapi nyata.
Kenapa Mega menangis?
Tak ada pernyataan resmi. Tak ada alasan yang diungkapkan. Tapi dunia bisa menebak.
Ia telah dihina. Ia telah dijatuhkan. Dua kekalahan sebelumnya membuatnya menjadi bulan-bulanan kebencian. Kata-kata kasar menghujaninya, luka yang tak tampak di tubuhnya, tapi merobek jiwanya tanpa ampun. Ia diserang, dihujat, dimaki, seakan-akan kekalahan adalah dosa yang tak terampuni.
Namun hari ini, ia menang. Ia membuktikan dirinya. Ia bukan hanya mengalahkan Hyundai Hillstate. Ia mengalahkan ketakutan, cemoohan, dan semua kebencian yang pernah dilemparkan kepadanya.
Tapi, pendekar terkuat pun tetap manusia. Di balik semua ketangguhannya, ada hati yang mudah terluka, ada jiwa yang masih bisa tergores oleh kata-kata.
Malam itu, di tengah kemenangan yang gemilang, Mega menangis bukan karena ia lemah, tetapi karena ia akhirnya tahu, bahwa ia telah bertarung dengan segalanya, dan ia menang.
Kadang, kemenangan yang paling besar bukanlah saat kita menjatuhkan lawan, tetapi saat kita berhasil menang melawan luka di dalam diri kita sendiri.
#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






