• Latest
Air Mata Seorang Pendekar

Air Mata Seorang Pendekar

Februari 8, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Air Mata Seorang Pendekar

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Februari 9, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: #EssayOlah raga
Air Mata Seorang Pendekar
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Sebuah video amatir memperlihatkan Mega terbaring usai laga. Video itu tak ada di televisi. Terus terang, saat menonton video itu, saya meneteskan air mata. Tukang ngopi kok menangis. Tangis haru melihat sang pendekar kita berlinang air mata.

Langit malam menaungi stadion yang baru saja bergetar oleh sorak kemenangan. Cahaya lampu menerangi wajah-wajah berseri, senyum-senyum mengembang, dan tangan-tangan terangkat ke udara, merayakan kejayaan yang telah diraih dengan darah dan keringat. Nama Megewati Hangestri Pertiwi dielu-elukan, bagaikan pahlawan yang baru saja kembali dari medan perang dengan pedang berlumur darah lawan.

Ia telah menumbangkan Hyundai Hillstate, sang juara bertahan, di hadapan ribuan pasang mata yang menyaksikan duel hidup dan mati itu. Di lapangan, ia adalah pendekar, seorang kesatria tanpa rasa gentar, yang bertempur seakan tak mengenal lelah. Ketika kemenangan akhirnya menjadi miliknya, seharusnya ia berdiri tegap, menerima sorak-sorai dengan dada membusung.

Namun di sudut lapangan yang remang, jauh dari kilatan kamera dan teriakan euforia, Mega tergeletak diam. 

Wajahnya tersembunyi di balik handuk, tubuhnya tak bergerak, hanya napasnya yang naik turun dalam ritme tak beraturan. Ia tak ikut berpesta. Ia tak tersenyum lebar. Ia memilih tenggelam dalam kesunyian. Penterjemahnya duduk di samping. Tak mau mengusik Mega dalam balutan handuk.

Seorang pelatih, anak buah Ko Hee-jin, melihat pemandangan itu. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Kemenangan seharusnya penuh suka cita, tapi mengapa sang pemenang justru terbaring tak bersuara? Perlahan, ia mendekat, lalu berjongkok di samping Mega. Dengan hati-hati, ia menepuk bahunya, mencoba membangunkannya dari keheningan yang begitu mencekam.

Mega menggerakkan tangan, menyingkap handuk yang menutupi wajahnya. Saat itulah, dunia seakan berhenti berputar. Ia menangis.

Mata itu, mata yang tadi penuh api saat bertarung, kini basah dan merah. Air matanya mengalir tanpa suara, jatuh ke handuk yang sudah kuyup oleh keringat dan kelelahan. Sang pelatih tertegun. Ia mengira Mega kesakitan, mungkin tubuhnya remuk setelah pertarungan panjang yang luar biasa sengit. Dengan refleks, ia mulai memijat punggungnya, mencoba meredakan pegal yang mungkin mendera.

Namun Mega tetap menangis. Ini bukan tangis kelelahan. Ini bukan tangis rasa sakit. Ini adalah tangis yang lahir dari luka yang tak terlihat.

Lalu, Park Eun-jin datang, sahabatnya. Ia berlutut di samping Mega, menyentuh lengannya, berusaha menghiburnya. Tak lama, seorang ibu, ibu yang selama ini setia merawat para pemain dengan penuh kasih—menghampiri. Seorang ibu selalu tahu, bahwa ada tangis yang tak membutuhkan kata-kata.

Ia meraih tangan Mega, mengusap rambutnya dengan lembut, seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya yang baru saja bangun dari mimpi buruk. Perlahan, senyum itu muncul di wajah Mega. Samar, lemah, tapi nyata.

Kenapa Mega menangis?

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Tak ada pernyataan resmi. Tak ada alasan yang diungkapkan. Tapi dunia bisa menebak.

Ia telah dihina. Ia telah dijatuhkan. Dua kekalahan sebelumnya membuatnya menjadi bulan-bulanan kebencian. Kata-kata kasar menghujaninya, luka yang tak tampak di tubuhnya, tapi merobek jiwanya tanpa ampun. Ia diserang, dihujat, dimaki, seakan-akan kekalahan adalah dosa yang tak terampuni.

Namun hari ini, ia menang. Ia membuktikan dirinya. Ia bukan hanya mengalahkan Hyundai Hillstate. Ia mengalahkan ketakutan, cemoohan, dan semua kebencian yang pernah dilemparkan kepadanya.

Tapi, pendekar terkuat pun tetap manusia. Di balik semua ketangguhannya, ada hati yang mudah terluka, ada jiwa yang masih bisa tergores oleh kata-kata.

Malam itu, di tengah kemenangan yang gemilang, Mega menangis bukan karena ia lemah, tetapi karena ia akhirnya tahu, bahwa ia telah bertarung dengan segalanya, dan ia menang.

Kadang, kemenangan yang paling besar bukanlah saat kita menjatuhkan lawan, tetapi saat kita berhasil menang melawan luka di dalam diri kita sendiri.

ADVERTISEMENT

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”

Pembelajar yang “Belepotan” di Era Industri 4.0

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com