POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Air Mata Seorang Pendekar

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
February 8, 2025
Tags: #EssayOlah raga
Air Mata Seorang Pendekar
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Sebuah video amatir memperlihatkan Mega terbaring usai laga. Video itu tak ada di televisi. Terus terang, saat menonton video itu, saya meneteskan air mata. Tukang ngopi kok menangis. Tangis haru melihat sang pendekar kita berlinang air mata.

Langit malam menaungi stadion yang baru saja bergetar oleh sorak kemenangan. Cahaya lampu menerangi wajah-wajah berseri, senyum-senyum mengembang, dan tangan-tangan terangkat ke udara, merayakan kejayaan yang telah diraih dengan darah dan keringat. Nama Megewati Hangestri Pertiwi dielu-elukan, bagaikan pahlawan yang baru saja kembali dari medan perang dengan pedang berlumur darah lawan.

Ia telah menumbangkan Hyundai Hillstate, sang juara bertahan, di hadapan ribuan pasang mata yang menyaksikan duel hidup dan mati itu. Di lapangan, ia adalah pendekar, seorang kesatria tanpa rasa gentar, yang bertempur seakan tak mengenal lelah. Ketika kemenangan akhirnya menjadi miliknya, seharusnya ia berdiri tegap, menerima sorak-sorai dengan dada membusung.

Namun di sudut lapangan yang remang, jauh dari kilatan kamera dan teriakan euforia, Mega tergeletak diam. 

Wajahnya tersembunyi di balik handuk, tubuhnya tak bergerak, hanya napasnya yang naik turun dalam ritme tak beraturan. Ia tak ikut berpesta. Ia tak tersenyum lebar. Ia memilih tenggelam dalam kesunyian. Penterjemahnya duduk di samping. Tak mau mengusik Mega dalam balutan handuk.

Seorang pelatih, anak buah Ko Hee-jin, melihat pemandangan itu. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Kemenangan seharusnya penuh suka cita, tapi mengapa sang pemenang justru terbaring tak bersuara? Perlahan, ia mendekat, lalu berjongkok di samping Mega. Dengan hati-hati, ia menepuk bahunya, mencoba membangunkannya dari keheningan yang begitu mencekam.

Mega menggerakkan tangan, menyingkap handuk yang menutupi wajahnya. Saat itulah, dunia seakan berhenti berputar. Ia menangis.

Mata itu, mata yang tadi penuh api saat bertarung, kini basah dan merah. Air matanya mengalir tanpa suara, jatuh ke handuk yang sudah kuyup oleh keringat dan kelelahan. Sang pelatih tertegun. Ia mengira Mega kesakitan, mungkin tubuhnya remuk setelah pertarungan panjang yang luar biasa sengit. Dengan refleks, ia mulai memijat punggungnya, mencoba meredakan pegal yang mungkin mendera.

Namun Mega tetap menangis. Ini bukan tangis kelelahan. Ini bukan tangis rasa sakit. Ini adalah tangis yang lahir dari luka yang tak terlihat.

📚 Artikel Terkait

Kopi, Si Hitam Yang Manis

Menyiapkan Lulusan BK yang bernaluri bisnis

Sampah, Tanggung Jawab Bersama untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

From Local Brand to Smart Entrepreneur

Lalu, Park Eun-jin datang, sahabatnya. Ia berlutut di samping Mega, menyentuh lengannya, berusaha menghiburnya. Tak lama, seorang ibu, ibu yang selama ini setia merawat para pemain dengan penuh kasih—menghampiri. Seorang ibu selalu tahu, bahwa ada tangis yang tak membutuhkan kata-kata.

Ia meraih tangan Mega, mengusap rambutnya dengan lembut, seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya yang baru saja bangun dari mimpi buruk. Perlahan, senyum itu muncul di wajah Mega. Samar, lemah, tapi nyata.

Kenapa Mega menangis?

Tak ada pernyataan resmi. Tak ada alasan yang diungkapkan. Tapi dunia bisa menebak.

Ia telah dihina. Ia telah dijatuhkan. Dua kekalahan sebelumnya membuatnya menjadi bulan-bulanan kebencian. Kata-kata kasar menghujaninya, luka yang tak tampak di tubuhnya, tapi merobek jiwanya tanpa ampun. Ia diserang, dihujat, dimaki, seakan-akan kekalahan adalah dosa yang tak terampuni.

Namun hari ini, ia menang. Ia membuktikan dirinya. Ia bukan hanya mengalahkan Hyundai Hillstate. Ia mengalahkan ketakutan, cemoohan, dan semua kebencian yang pernah dilemparkan kepadanya.

Tapi, pendekar terkuat pun tetap manusia. Di balik semua ketangguhannya, ada hati yang mudah terluka, ada jiwa yang masih bisa tergores oleh kata-kata.

Malam itu, di tengah kemenangan yang gemilang, Mega menangis bukan karena ia lemah, tetapi karena ia akhirnya tahu, bahwa ia telah bertarung dengan segalanya, dan ia menang.

Kadang, kemenangan yang paling besar bukanlah saat kita menjatuhkan lawan, tetapi saat kita berhasil menang melawan luka di dalam diri kita sendiri.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: #EssayOlah raga
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”

Pembelajar yang “Belepotan” di Era Industri 4.0

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00