HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Wonderful Indonesia, Beauty of Paradise

Redaksi by Redaksi
Oktober 16, 2017
in Artikel, Jalan-Jalan, Pariwisata
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dinda Triani
Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh
Melestarikan Akar Budaya Warisan, Budaya Dunia

Berbicara tentang keindahan alam, jangan lagi ragu dengan pesona wisata Indonesia yang beberapa daerahnya sering juga disebut sebagai surganya dunia. Diawali dari ujung barat Indonesia, Kota Sabang, Bali, Bangka Belitung, Lombok, hingga Raja Ampat di Ujung Timur Indonesia membentang luas karya Tuhan tanpa cacat. Nikmat yang harusnya disyukuri tanpa henti manusia.

Karenanya tak heran Indonesia menjadi salah satu daerah favorit yang dikunjungi wisatawan mancanegara dari sekian banyak negara lainnya di Asia. Hal itu dibuktikan baru-baru ini dengan dinobatkannya negara berjuluk jamrud katulistiwa ini dalam World Halal Tourism Award, dengan memborong 12 Kategori dari 16 kategori yang ada. Di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab 2016 lalu. Berkaca dari hal yang cukup membanggakan tersebut, tidak sulit tampaknya Indonesia berdiri menjadi pusat pariwisata dunia.

Baca Juga

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026

Menelisik penghargaan tentang wisata halal, maka perlahan kita pasti akan digiring pada daerah yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekah, kedekatannya dengan sejarah dan hubungannya dengan Islam di masa lalulah yang membumbungkan namanya dari sekian banyak provinsi lainnya di Indonesia.

Belum lagi secara geografis Provinsi Aceh, yang sempat dikenal sebagai Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dan titik permulaan Indonesia ini di posisi yang strategis. Dalam promosi besar-besaran pariwisata Aceh, “The Light of Aceh” Hadir sebagai semboyan yang turut mengantarkan daerah berotonomi khusus ini memperoleh dua kategori wisata halal sekaligus, yaitu World’s Best Airport for Halal Travellers: Sultan Iskandar Muda International Airport, dan World’s Best Halal Curtural Destination: Aceh. Hal ini dinilai sesuai mengingat Aceh merupakan daerah dengan penduduk muslim terbesar di Indonesia.

Pulau Weh, Kota Sabang, kepulauan Banyak, Aceh singkil dan potensi besar negeri diatas awan belum lagi negeri seribu bukit. Deretan nama tersebut hanyalah sebagiah kecil dari pesona alam Aceh, belum lagi budaya yang akan mengantarkan kita pada pesona tak benda daerah Aceh. Seperti didong gayo bahkan Tari Saman yang telah mendunia, dan dicatat dalam daftar representatif budaya takbenda warisan manusia di Bali pada 24 November 2011 lalu oleh UNESCO.

Tari yang sering disebut sebagai the dance of thousand hands ini dalam beberapa literatur disebut merupakan permainan rakyat yang oleh Syekh Saman dari Gayo dikembangkan menjadi media dakwah, dan terus berkembang menjadi kesenian seperti sekarang. Belum puas dinobatkan sebagai warisan tak benda, baru-baru ini Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat pemecahan rekor Tari Saman masal di Lapangan Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues dengan total 12.262 penari pada Agustus 2017 lalu. Sedang sebelumnya di tahun 2014 Tari saman masal memecahkan rekor MURI dengan 5.054 lebih dulu.

Tanah Gayo termasuklah tiga kabupaten di dalamnya (Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues) hadir sebagai salah satu pemasok kopi terbaik Indonesia yang namanya mulai harum di belahan bumi lainnya. Hasil komoditi dengan total 38 varietas tanaman kopi yang tumbuh di tanahnya. Bukan hanya sebagai pendukung utama perekonomian masyarakat, di sisi lain hal ini juga dapat menjadi potensi agrowisata.

“Heavy body and light acidity” istilah keunikan kopi gayo yakni sensasi rasa keras saat kopi diteguk, dan aromanya yang menggugah semangat. Christopher Davidson salah seorang cupper internasional (ahli penilaian rasa dan aroma kopi) yang mengatakan bahwa kopi gayo memiliki keunikan tersendiri yang tidak tergantikan oleh jenis-jenis kopi lainnya.

Tidak berhenti sampai di situ. Sebenarnya Aceh dan tiap-tiap kabupatennya memiliki pesona wisata masing-masing. Dari yang belum terjamah seperti Pulau Banyak Aceh Singkil, yang sudah terkenal seperti Sabang, maupun yang dalam pembenahan dan promosi oleh pemerintah, Tanah Gayo contohnya.

Dari sudut pandang ini, pemerintah terlihat seolah berusaha keras membangun potensi tersembunyi daerah Aceh. Namun yang sedikit mengganjal dari sekenario ini ialah lalainya pemerintah terhadap hal-hal sederhana yang jauh lebih penting dari sekedar promosi ke tingkat dunia, dari sekedar menghabiskan begitu banyak dana pada promosi berbasis media semata. Di satu sisi pemerintah lupa bahwa kekayaan itu bukan hanya pada alam dan budaya, namun juga pada manusianya. Tanpa mereka tidak aka nada yang melestarikan budaya tanpa mereka tidak aka nada yang memperkenalkan kita pada pesonal alam tersebut.

Oleh karena itu berdasarkan sedikit pengalaman saya selama menetap dalam pengabdian sebulan lamanya, di salah satu kabupaten di Tanah Gayo. Kita akan sedikit miris melihat bahwa mereka, penduduk asli masih begitu minim pengetahuannya tentang potensi wisata daerah mereka sendiri. Meski sebenarnya yang harusnya lebih mengenal potensi daerah mereka adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakat lokal harus berusaha menjadi pelopor dengan mempromosikan daerah wisatanya, sejarah, komoditi kopi, hingga budaya seperti saman dan didong. 

Yang dengan begitu kecintaan masyarakat lokal terhadap budaya dan daerahnya tidak akan terbantahkan lain. Kemudian mengetahui efek besar yang dapat ditimbulkan dari suksesnya promosi pariwisata terhadap daerah mereka dari berbagai bidang, tentunya dengan senang hati masyarakat lokal akan menerima pengunjung dengan keramahtamahan, dengan rasa bangga akan kekayaan budaya mereka.

Semua fakta di atas, khususnya pemaparan tentang potensi Aceh sebagai daerah wisata bisa jadi membawa kita pada euphoria yang tinggi. Meninabobokkan kita realitas yang ada, bahwa promosi pariwisata di seluruh daerah berpotensi di Indonesia baru saja memasuki babak awal, yaitu dengan lebih dulu menanamkan kecintaan dan pengetahuan lokal untuk mencintai alam dan budaya mereka. bersama menjaganya untuk Indonesia yang lebih baik. Dan kemudian barulah Indonesia bioleh sombong, menegadahkan kepala dan mengangkat dagu. Bahwa inilah “Wonderful Indonesia” dengan segala pesonanya yang luar biasa.

Sudah saatnya kita berhenti mengurusi hal-hal yang tidak penting. Kita memahami bahwa bukan bumi tandus persoalan nya, atau miskin karya yang menjadi masalah, Indonesia yang dianugerahi air yang melimpah, tanah yang subur, sinaar matahari disetiap tahunnya, bahasa yang dan suku serta etnis yang beragam, dan karya luar bisa yang menjadikan kita tak ternilai harganya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 218x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 142x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 123x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Doa di Bulan Ramadan

Malam Lailatul Qadar

Maret 15, 2026
Agama

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Next Post

HOBI YANG MENGHASILKAN UANG

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com