POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan

RedaksiOleh Redaksi
January 22, 2025
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRETPerempuan
Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi esai ini terinspirasi dari pengalaman Penulis saat mengalami hari pertama menstruasi, serta pengalaman para perempuan di seluruh dunia).
***

Penelitian UNICEF di Indonesia, di Indonesia Timur khususnya, menyebutkan 1 dari 7 perempuan yang mengalami menstruasi tidak pergi ke sekolah selama menstruasi berlangsung, meninggalkan kelas dan berujung tidak naik kelas, bahkan putus sekolah.
***

Kring… kring… kring…
Lonceng emas di sudut sekolah berbunyi,
Pertanda jeda dari pena dan kertas.
Pintalan karet-karet gelang telah siap di laci bangku.
Aku dan temanku tak sabar bermain lompat tali di lapangan sekolah.

“Ecce, ada darah di rokmu,” teriakan itu menghentikanku.
Nina memegang tanganku, Lalu memeriksa rok putihku.
Hari itu, bukan merah putih yang kupakai. Tapi seragam batik dengan rok putih tulang.

“Darah apa? Saya tidak sakit apa-apa,” agak heran, tapi santai saja aku menjawabnya.

“Oh, accera’moko (1) kapang.”
“Baru kelas 5 SD accera’mi,
Edede…jabena (2)
Teriakan-teriakan teman sekelas menusuk, menghantam dinding telingaku.

Bocah laki-laki tak mau ketinggalan.
Bak bertemu mangsa daging gemuk nan segar,
segera ia menerkam.
“Jabena inne bainea (3).
Nia’mo kapang (4) cowokna,”
Terbahak-bahak mereka.

Bergemuruh hatiku.
Belum juga aku mencerna asal-muasal cairan merah ini,
sekonyong-konyong stempel “jabe” menempel di jidatku.
Bagai noda hitam, kelam, busuk.

Aku tahu betul,
Jabe adalah cap negatif yang selama ini dilekatkan pada perempuan.
Perempuan jabe jauh dari kesucian,
lumbung nafsu dan birahi,
Kepada tuan-tuan,
tubuh dijajakan gratis.

📚 Artikel Terkait

Terima Kasih Guruku Ustazah Halimah Alaydrus Tersayang, Telah Berkunjung ke Ranah Minang

Discount 19% Dari Trump, Banyak Memuji Prabowo

Sekolah Adiwiyata di Blora: Menyemai Kesadaran, Menumbuhkan Harapan

Ketika Jalanan Menjadi Mimbar Demokrasi: Suara Rakyat yang Tak Boleh Dibungkam

Bercak-bercak merah membentuk bulatan kokoh di rokku,
Memintal-mintal tali stigma.
Stigma tentang perempuan yang tidak benar, nakal, centil, kegatelan, kotor, menjijikkan.

Bangsat!
Tolol!

Hei, sadarlah bro!
Bisikan-bisikan syetan terlalu meninabonokkanmu.
Katanya, darah perempuan haram mengalir di rumah Tuhan.
Katanya, perempuan berdarah baik diasingkan ke gunung Himalaya.

Hei, bangun dong Sist!
Syetan-syetan itu terlalu melenakanmu.
Menenggelamkan wahyu Tuhan,
yang penuh kasih membuka rumah-Nya
untuk semua umat manusia.

Tak tahukah mereka darah yang mengalir dari vagina itu adalah wahyu Tuhan?
Bukan perempuan punya mau.
Tak pernah pula perempuan memintanya.

Pura-pura butakah mereka menyaksikan dahsyatnya rasa sakit perempuan,
hingga tak sadarkan diri,
karena darah merah itu?
Roda kehidupan terhenti,
Sekolah, bekerja, bahkan makan pun tak lagi mampu.

Sekali sebulan,
perempuan dengan ikhlas menerima dan menjalani takdir menstruasi itu dari Pencipta-Nya.

Tak tahukah mereka darah yang mengalir dari vagina itu yang menguatkan dinding rahim,
tempat para manusia penghuni dunia dilahirkan?
Darah merah itulah yang meng “adakan” milyaran khalifah di hamparan dunia yang fana ini.

Darah merah itu,
Adalah bahasa Tuhan menghamparkan simbol Ketuhanan-Nya,
Simbol kekuatan perempuan,
Yang mustahil ada pada makhluk lainnya.

“Darah perempuan ada, maka manusia ada.”
Jika bukan karena darah merah yang mengalir itu,
Keberadaan para lelaki,
hanyalah mimpi di siang bolong.

Darah perempuan ada, maka peradaban ada.”
Jika bukan karena darah merah yang mengalir itu,
Peradaban kuno di Yunani hingga revolusi Industri di Inggris,
hanyalah dongeng belaka.

 

*CATATAN*

1. Accera’ dalam bahasa Makassar berarti berdarah atau menstruasi. Accera’moko kapang: mungkin kamu sudah menstruasi.
2. Edede, dalam bahasa Makassar berarti: ya ampun. Jabena, dalam bahasa Makassar berarti: kecentilan dalam arti negatif.
3. Jabena inne bainea, dalam bahasa Makassar berarti: centil banget nih perempuan
4. Nia’mo kapang cowoknya: mungkin dia sudah punya pacar. Kalimat yang mengarah pasa stigma perempuan yang nakal dan centil pada laki-laki.
5.https://hellosehat.com/wanita/menstruasi/darah-haid-itu-darah-kotor/

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRETPerempuan
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Peunajoh Prang

Peunajoh Prang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00