Keutamaan 10 Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Oleh: Munawarsyah, MA.
Allah Swt menjadikan keberkahan pada sebagian waktu dibandingkan waktu-waktu lainnya. Allah Swt bahkan sampai bersumpah dengan menyebutkan sesuatu, baik itu tempat, waktu atau sesuatu yang memiliki keutamaan. Isyarat sumpah ini guna menunjukkan satu pesan penting akan keutamaan yang terkandung di dalamnya.
Seperti firman Allah Swt pada surat al-Fajr ayat 2 Allah Swt berfirman:
“Demi malam yang sepuluh,”
Pada ayat ini Allah bersumpah dengan menyebutkan bilangan 10 malam. Terdapat 355 malam selama setahun dalam penanggalan Hijriyah, dan Allah Swt hanya mengkhususkan 10 malam. Muncul pertanyaan di benak kita, kapan dan apa keistimewaan malam-malam ini?.
Ibnu al-Jauzi dalam kitab tafsirya Zadul Masir menyebutkan ada empat penafsiran tentang waktu yang dimaksud dalam 10 malam dalam ayat di atas. Pertama, yang dimaksud adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Kedua, 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ketiga, 10 hari pertama di bulan Ramadhan, dan keempat, 10 hari pertama di bulan Muharam.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menguatkan pendapat pertama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat kedua surat al-Fajr ini adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Pendapat ini diperkuat dengan hadits riwayat Ibnu Abbas Ra. Nabi Saw bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal shaleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun dari itu (yakni gugur syahid dan di jalan Allah).” (Hr. Bukhari)
Riwayat lain yang juga menguatkan pendapat ini datang dari Imam Ahmad Ra. dari sahabat Jabir bin Abdillah Ra. Nabi Saw bersabda:
“Sesungguhnya ‘yang 10 adalah 10 hari Idul Adha (Dzulhijjah), yang ganjil hari Arafah, dan yang genap adalah hari Nahr (Idul Adha).” (HR. Ahmad).
Saat ini kita berada di 10 awal hari di bulan Dzulhijjah yang istimewa. Keistimewaan hari-hari ini disebabkan terkumpulnya ibadah-ibadah utama bagi seorang hamba; shalat, puasa, sedekah, qurban dan haji. Di mana semua keutamaan ini tidak didapati pada bulan lainnya. Sehingga pilihan cerdas bagi kita tidak lain adalah memperbanyak amal-amal ketaatan pada hari-hari ini merupakan sebaik-baik kesibukan, dan selayaknya kesempatan ini tidak dilewatkan dengan perbuatan yang sia-sia, apatah lagi berbuat dosa. Inilah kesempatan mengumpulkan pundi pahala sebanyak-banyaknya.
Ada beberapa amalan yang bisa kita lakukan dan perbanyak di hari-hari mulia ini. Di antaranya:
1. Menjaga Amalan Fardhu & Menambah amalan Sunnah.
Tidak ada yang lebih penting bagi seorang hamba melebihi apa yang telah Allah Swt wajibkan atasnya dan setiap amalan-amalan yang membuat dia semakin dekat pada-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadis Qudsi:
“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (Hr. Bukhari)
Karenanya, amalan yang diwajibkan Allah Swt jangan sampai dilalaikan, dan setiap amalan yang disunnahkan hendaknya diperhatikan, baik itu shalat-shalat sunnah, sedekah sunnah, membaca al-Quraan, berbuat kebajikan dst.
2. Memperbanyak Zikir
Termasuk amalan ringan dilakukan adalah amalan lisan, berzikir kepada Allah. Zikir adalah ekspresi membesarkan dan mengagungkan Allah Ta’ala sembari merendahkan diri. Nabi Saw bersabda:
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh-Nya untuk beramal di dalamnya selain hari-hari 10 ini (Dzulhijjah). Maka perbanyaklah di dalamnya tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)
3. Berpuasa.
Puasa termasuk amalan sunnah yang ditekankan selama hari-hari ini. Terkhusus puasa di tanggal 9 di hari Arafah. Secara khusus Nabi Saw sabdakan bahwa puasa sunnah ini ganjarannya adalah dapat menghapus dosa selama dua tahun, Nabi Saw bersabda:
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.” (Hr. Muslim).
4. Segera bertaubat.
Tidak ada manusia yang tidak berdosa, ada khilaf yang sengaja atau tidak disengaja, yang tampak atau tersembunyi, maka sebaik-baik hamba yang telah berdosa adalah yang bertaubat dan kembali kepada Allah.
Inilah hari-hari terbaik untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah Ta’ala, dan itu dilakukan dengan taubat nasuhah. Taubat yang dilakukan penuh kesadaran diri, segenap keikhlasan, penuh harap meraih peluang memperoleh pengampunan dan pembebasan dari Allah Ta’ala. Nabi Saw bersabda:
“Tidak ada satu hari pun di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka daripada hari Arafah. Dan sungguh Dia mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang diinginkan oleh mereka ini?’‘ Saksikanlah wahai para malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.”. (HR. Muslim)
5. Ibadah Qurban.
Penyembelihan Qurban adalah syariat Allah Swt yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha, Allah Swt telah memerintahkan kita menyembelih hewan qurban.
“Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan engkau (Muhammad) nikmat yang banyak, maka shalatlah kamu karena Tuhanmu dan sembelihlah (kurbanmu). (Q.S. al-Kautsar:1-2).
Pada ayat lainnya, Allah Swt menegaskan kepada kita akan syariat qurban, firman-Nya:
“Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserah dirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). (QS. Al-Hajj: 34).
Karenanya, bagi yang telah Allah Swt lapangkan rezekinya, tidak boleh tidak mestilah ia berkurban. Jangan tahan dan bakhil dengan harta yang telah dimiliki. Ingatlah bahwa semua harta yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah Swt. Setahun sekali Allah syariatkan penyembelihan qurban kepada kita, berita gembira syariat ini telah ditunaikan kepada kita oleh Rasulullah Muhammad Saw. maka melaksanakannya adalah ungkapan ketaatan, rasa syukur dan kerendahan hati kita.
Akhirnya, senantiasa kita memaksimalkan peluang yang telah ditawarkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Tidak lain dimaksudkan untuk kebaikan dan kemuliaan kita, selamat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H.











