Moderasi di Tengah Sejarah Revolusi: Refleksi PRRI, Natsir, dan Tan Malaka

Oleh : Novita Sari Yahya
Pandangan saya terhadap perdebatan mengenai Mohammad Natsir dan Tan Malaka tidak lahir dari ruang kosong. Saya tumbuh dalam lingkungan keluarga Minangkabau yang memiliki pengalaman langsung dengan pergolakan sejarah Indonesia, khususnya peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Sumatera Barat.
Karena itu, ketika mendengar ceramah Ustadz Jel Fathullah yang membandingkan jasa Mohammad Natsir dengan Tan Malaka, saya memahami sudut pandang tersebut bukan sekadar sebagai perdebatan ideologi, melainkan sebagai bagian dari pengalaman sejarah yang hidup di tengah masyarakat Minang.
Ayah saya, dr. Enir Reni Sagaf Yahya, merupakan bagian dari Tentara Mahasiswa PRRI dalam Pasukan Mawar. Ia terlibat dalam pergolakan tersebut hingga akhirnya menerima amnesti bersama banyak tokoh dan pejuang Minangkabau lainnya pada awal dekade 1960-an. Semasa hidupnya, ayah saya sering menceritakan suasana menjelang berakhirnya konflik itu.
Salah satu kisah yang paling membekas bagi saya adalah ketika Sjafruddin Prawiranegara berbicara kepada para pejuang yang tersisa bahwa mereka kembali kepada Republik dan menerima amnesti demi mengakhiri luka panjang di Sumatera Barat. Kisah tersebut saya pahami sebagai bagian dari memori keluarga dan pengalaman lisan generasi yang mengalami langsung masa pergolakan tersebut.
Ayah saya mengenang bahwa suasana saat itu sangat emosional. Banyak orang menangis, bukan semata karena kekalahan politik, tetapi karena besarnya penderitaan yang telah dialami masyarakat. Konflik PRRI meninggalkan trauma sosial yang panjang di Minangkabau. Banyak keluarga kehilangan ayah, anak, saudara, serta masa depan mereka. Dalam sejarah Indonesia, PRRI bukan sekadar konflik politik antara pusat dan daerah, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang membekas dalam memori kolektif masyarakat Sumatera Barat.
Sebagai anak yang tumbuh dari cerita-cerita itu, saya memahami bahwa konflik ideologi dapat membawa luka yang sangat dalam ketika tidak lagi diimbangi dengan nilai kemanusiaan. Ayah saya sering bercerita bagaimana pada masa pergolakan tersebut berbagai kelompok dengan semangat revolusioner yang keras ikut memengaruhi situasi sosial-politik di daerah.
Dalam percakapan generasi tua Minangkabau, nama-nama tokoh revolusioner dari berbagai gerakan di Indonesia sering disebut sebagai contoh bagaimana semangat perubahan yang ekstrem dapat berubah menjadi kekerasan ketika kehilangan kendali moral dan spiritual.
Karena itu, saya melihat sejarah Indonesia memberikan pelajaran penting bahwa setiap gerakan politik baik yang berbasis agama, nasionalisme, maupun revolusi sosial dapat bergeser menuju radikalisme apabila kehilangan keseimbangan kemanusiaan, moral, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia.
Saya tidak mengatakan bahwa gagasan perubahan itu salah. Bangsa membutuhkan perubahan, kritik, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan. Namun sejarah dunia juga menunjukkan bahwa revolusi yang kehilangan nilai kemanusiaan sering kali berubah menjadi kekerasan baru atas nama ideologi.
Dalam konteks inilah saya memahami mengapa banyak ulama Minangkabau lebih menghargai pendekatan Mohammad Natsir dibandingkan jalur revolusi radikal. Bagi sebagian masyarakat Minang, Mohammad Natsir bukan hanya seorang politisi, tetapi simbol jalan tengah: seorang intelektual Muslim yang memperjuangkan Indonesia melalui pendidikan, dakwah, konstitusi, dan persatuan nasional. Perannya dalam Mosi Integral tahun 1950 menjadi tonggak penting karena berhasil mengembalikan bentuk negara dari Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui mekanisme parlementer yang relatif damai.
Sementara itu, saya juga mengakui bahwa Tan Malaka memiliki jasa besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemikirannya tentang republik, anti-kolonialisme, dan kemerdekaan memberi pengaruh besar pada gerakan nasional Indonesia.
Buku-bukunya seperti Madilog dan Naar de Republiek Indonesia menunjukkan kapasitas intelektual yang luar biasa pada zamannya. Karena itu, saya memandang Tan Malaka tetap memiliki tempat penting dalam sejarah Indonesia, meskipun pendekatan pemikirannya berbeda dengan tradisi Islam moderat yang berkembang kuat di Minangkabau.
Saya pribadi pernah menyampaikan pandangan ini secara terbuka kepada Buya Mas’oed Abidin dan sejumlah ulama dari Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah. Saya mengatakan bahwa sosialisme maupun komunisme memiliki cita-cita besar mengenai keadilan sosial, tetapi dalam praktik sejarahnya beberapa negara mengalami persoalan ketika negara berusaha menyeragamkan kehidupan manusia secara terlalu ketat. Menurut pandangan saya, manusia tidak mungkin dikendalikan sepenuhnya karena setiap individu memiliki ego, naluri, ambisi, dan keinginan yang berbeda. Ketika sebuah sistem politik memaksakan keseragaman total, maka kekerasan dapat muncul sebagai alat mempertahankan ideologi tersebut.
Pandangan ini merupakan refleksi filosofis pribadi saya, bukan klaim akademis mutlak. Saya juga menyadari bahwa dalam sejarah modern terdapat berbagai bentuk sosialisme demokratis yang berkembang melalui sistem parlementer dan tetap menghormati hak-hak sipil masyarakat. Karena itu, bagi saya, persoalan utamanya bukan hanya terletak pada ideologi, tetapi pada bagaimana kekuasaan dijalankan serta bagaimana nilai kemanusiaan dijaga.
Karena itu pula saya pernah menyampaikan bahwa karya seperti Madilog sebaiknya dipelajari ketika seseorang sudah cukup matang secara intelektual dan emosional, terutama agar pemikiran revolusioner dapat dipahami secara kritis dan tidak ditafsirkan secara ekstrem. Bukan karena buku itu harus ditolak, melainkan karena setiap pemikiran besar memerlukan kedewasaan dalam membacanya.
Di sisi lain, saya juga melihat bahwa warisan pemikiran Mohammad Natsir memiliki pengaruh nyata dalam pembangunan sosial di Sumatera Barat. Salah satu peristiwa penting yang menurut sejumlah catatan lokal berkaitan dengan penguatan pembangunan nagari adalah kepulangan Natsir ke Sumatera Barat pada masa pasca-pergolakan daerah.
Dalam berbagai tulisan dan catatan budaya Minangkabau, pembangunan nagari dipahami bukan hanya sebagai sistem administratif, tetapi juga sebagai pusat pendidikan moral, kebudayaan, ekonomi rakyat, dan solidaritas sosial masyarakat Minangkabau.
Dalam sejumlah catatan lokal dan cerita keluarga, nama Achirul Yahya juga disebut sebagai salah satu tokoh daerah yang mendukung penguatan pembangunan sosial masyarakat Minangkabau pada masa tersebut. Namun bagian ini saya pahami lebih sebagai memori sosial dan sejarah keluarga yang masih memerlukan dokumentasi lebih luas apabila ingin ditempatkan sebagai kajian sejarah akademik.
Pemikiran itulah yang kemudian menginspirasi gagasan filantropi yang saya bawa hari ini: “dari desa menuju dunia digitalisasi.” Saya percaya pembangunan Indonesia tidak boleh hanya berpusat di kota besar. Desa dan nagari harus menjadi fondasi pembangunan manusia Indonesia di era digital. Dalam gagasan ini, saya banyak terinspirasi oleh perpaduan konsep pembangunan nagari menurut Mohammad Natsir dan sosialisme kerakyatan Mohammad Hatta.
Bagi saya, Bung Hatta menunjukkan bahwa keadilan sosial dapat dibangun tanpa harus jatuh ke dalam ekstremisme ideologi. Koperasi, pendidikan rakyat, dan ekonomi berbasis gotong royong merupakan bentuk keadilan sosial Indonesia yang tetap menghargai agama, budaya, dan kebebasan manusia.
Sebagai perempuan Minang, saya melihat sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi pelajaran moral bagi masa depan. Pengalaman PRRI mengajarkan bahwa luka ideologi dapat menghancurkan persaudaraan bangsa. Karena itu, Indonesia membutuhkan generasi muda yang kritis tetapi tetap humanis, progresif tetapi tetap moderat, serta berani berubah tanpa kehilangan nilai agama dan kemanusiaan.
Saya percaya moderasi bukan tanda kelemahan. Justru moderasi adalah bentuk kedewasaan peradaban. Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling keras meneriakkan revolusi, tetapi bangsa yang mampu menjaga keadilan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
— Novita Sari Yahya
Daftar Pustaka
Bahar, S. (2015). Etnik, Elite dan Integrasi Nasional: Minangkabau 1945-1984. Yogyakarta: Gre Publishing. (Buku sejarah berbasis riset akademik).
Expos Sumbar. (2025). Tan Malaka Namanya Kian Nyaring dari Dalam Kubur. Expos Sumbar
Jurnal IAI Sambas (via Neliti). (2015/2020). Gagasan Pemikiran dan Gerakan Dakwah M. Natsir di Indonesia. Neliti
Kemendikdasmen. Tan Malaka Tokoh yang Diasingkan Sejarah Namun Berdampak Besar bagi Kemerdekaan Indonesia. Kemendikdasmen
Media Dakwah. (2020/2022). Cara Mohammad Natsir Mengokohkan NKRI. Media Dakwah
Perpustakaan Pusjarah Polri. Artikel Sejarah PRRI dan Pergolakan Daerah. Pusjarah Polri
Prokabar. (2018). PKI Membonceng Penumpasan PRRI, Orang Minang Dibantai. Prokabar
Ruangguru. Biografi Tan Malaka: Bapak Republik yang Terlupakan. Ruangguru
Tempo (Kepustakaan Populer Gramedia). Seri Tokoh Tempo: Tan Malaka.












