Oleh, Syamsiah Ismail, M. Pd.
Pengawas TK/SD, Author, Traveler
buksam1969@gmail.com
Lahir pada 21 April 1879 di desa Mayong, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Ketika itu merupakan bagian dari Hindia Belanda. Dialah Raden Ajeng Kartini anak Bupati Jepara; Ddjojo Adhininggrat. 2 Mei 1964 Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia oleh Presiden Soekarno melalui Kepres RI No. 108 Tahun 1964. Sejak itusetiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Sebagai perempuan pejuang kesetaraan laki-laki dan perempuan di bidang pendidikan.
Pendidikan perempuan di Indonesia mulai mengalami kemajuan pesat sejak dibangun Sekolah Dasar Inpres tahun 1973 diresmikan oleh Presiden Soeharto. Program tersebut diluncurkan melalui Intruksi Presiden (Inpres) No.10 tahun 1973. Pencanangan program tersebut memperluas akses pendidikan dasar secara terutama di wilayah desa dan daerah terpencil.
Mengenang Kartini tak sekadar pelopor kesetaraan gender perempuan. Namun, menjadi momen untuk merefleksi gagasan dan perjuangannya yang tak pernah berhenti di dunia pendidikan. Terutama di dunia pendidikan anak yang menjadi pilar atau pondasi generasi penerus. Masa Kartini berkiprah belum dikenal parenting orang tua atau simulasi awal dalam mendidik anak. Ibu tidak terlalu dituntut untuk mendidik atau mengajar baca tulis anaknya.
Tahun 70-an pendidikan bagi perempuan masih dianggap tidak terlalu penting. Penulis masih ingat perbincangan beberapa orang dewasa kala itu, “Ureung inong keupue jak sikula manyang. Buet u dapu cit. Nyang na jak boh-boh peng. Got tablo lampoh atawa blang. Jeut keu ureung kaya di gampong. (Orang perempuan untuk apa sekolah tinggi. Pekerjaan tetap ke dapur juga. Buang-buang uang saja. Lebih baik beli kebun atau sawah. Menjadi orang kaya di kampung).” Perbincangan yang mematahkan semangat untuk sekolah tinggi. Dua kakak penulis ijazah MIN 8 tahun tamat tahun 1972 dan 1975, tak pernah diambilnya di sekolah. Tak guna, tidak bisa melanjutkan sekolah. Sebegitu dalam kecewanya.
Kartini vs Gen Baby Boomers
Ketika duduk di kelas 5 madrasah penulis perang batin setiap kali bertemu dengan petugas Puskesmas berseragam putih. Pada saat itu tersimpan banyak kegelisahan dengan berjubel pertanyaan muncul di benak. Bagaimana menggantungkan cita-cita perawat? Jika Umi hanya seorang petani miskin. Menggarap sawah dua petak pemberian nenek dengan tadah hujan. Mengurus delapan anaknya seorang diri (belum mengenal alat kotrasepsi KB). Pontang panting mengambil upah pekerjaan serabutan asal halal.
Berjuang demi perut sembelit menahan lapar. Tak kenal malu .Tanggung jawab yang bukan kewajibannya. Penulis dan tujuh saudara kehilangan masa kecil seperti teman-teman sebaya. Dituntut berjuang hidup sendiri tanpa dinafkahi oleh bapak pelaku poligami. Bahkan kakak sulung diserahkan pada keluarga bapak tanpa persetujuan umi. Seorang abang dilepas pada keluarga guru ketika tamat madrasah.
Bagi Umi, anak-anaknya cukup mampu baca tulis latin dan baca Al-Quran. Lebih dari pada itu perempuan tani itu menyerah. Masih membekas di ingatan penulis. Bulan terakhir jelang tamat bangku madrasah (1982). Usai salat magreb mengisi baju seadanya dalam plastik kresek. Nekat menembus malam mulai gelap melewati pematang sawah. Sebagai protes tidak melanjutkan sekolah. Seorang kakak yang melihat gelagat penulis, diam-diam mengikuti. Menghadang penulis ketika tiba di jalan desa. Dipaksa pulang jangan menyusahkan Umi. “Kenapa kita miskin anaknya pingin sekolah. Anak-anak orang kaya seberang bukit tidak mau?” Jeritan kakak di bawah redup lampu teplok masih terngiang hingga kini.
Seorang teman tak sempat tamat madrasah. Bukan hal yang menyedihkan. Perempuan masih belia dipaksa menjadi cepat dewasa oleh keadaan. Teman sekelas, bermain lompat tali, bermain petak umpet, dan teman menggembala ternak. Tiba-tiba saja berubah status menjadi istri. Wajah lugu polos menjadi ibu di usia dini. Emosi belum stabil. Pernikahan dini pada masa itu justru dianggap prestasi; anak perempuan cepat laku. Meskipun menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua. Layak dipanggil bapak.
Kartini vs Gen Milenial
Pendidikan pertama diterima anak di rumah. Kini, umumnya orang tua sibuk dengan karir masing-masing. Anak dibiarkan tumbuh bersama teman-temannya. Ada yang lebih buruk lagi cara berpikir sebagian orang tua. Anak laki-laki boleh pergi dan pulang kapan saja. Tak terlalu dipantau seperti anak perempuan.
Dianggap sudah dewasa tahu jalan pulang. Orang tua lupa anak-anaknya kehilangan arah jalan untuk “berpulang” nanti (ke akhirat). Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat anak laki-laki 85 % korban narkoba. Waktu mereka lebih banyak di luar rumah tanpa pantauan orang tua.
Pilar kekuatan emansipasi perempuan bidang pendidikan perjuangan Kartini rusak total. Pergaulan bebas tanpa batas yang dilakukan oleh publik figur mulai tingkat artis, pejabat, hingga kelas menengah ke bawah. Hidup semen leven, kumpul kebo, atau tinggal seatap serumah tanpa menikah menjadi hal yang lazim. Punya anak lahir di luar nikah dianggap keren sebagai pejuang garis merah dua. Publik figur yang kerap diidolakan muda mudi. Mempertontonkan hal ikhwal yang tidak mendidik.
Di masa digital banyak perempuan yang menjadi agen perubahan seperti, profesi guru lewat program guru penggerak. Walaupun menghadapi beban ganda sebagai ibu, terbukti perempuan mampu bersaing di dunia politik, bisnis, dan lainnya. Keaktifan perempuan sebagai penopang ekonomi keluarga sudah banyak dibuktikan. Lahirnya usaha masyarakat kecil dan menengah (UMKM) juga didominasi banyak perempuan. Semua itu realita dari kesetaraan gender.
Gelar akademik dapat diperoleh melalui belajar daring di Universitas Terbuka (UT) yang dikelola oleh pemerintah pusat melalui program Menteri Pendidikan. Peluang belajar jauh lebih mudah diakses di masa digital. Perempuan harus berpendidikan tinggi dan bekerja. Memiliki life skill, berpenghasilan sendiri tanpa bergantung pada pemberian suami. Mengingat kebutuhan hidup yang semakin besar dan gaya hidup makin berat.
Kartini bukan hanya tentang emansipasi wanita. Namun juga, sebagai perempuan pemberani dengan menyuarakan isi hati berupa kegelisahan yang tertulis lewat surat. Nilai budaya luhur bangsa tetap terjaga setia dan diyakini sebagai citra perempuan Indonesia yang tak bisa diabaikan begitu saja. Lambang pakaian kebaya bagi perempuan pada perayaan Hari Kartini 21 April menjadi momentum. Salah satu bukti budaya masih terawat sampai pada masa Kartini modern.
Aceh sendiri memiliki banyak perempuan pejuang gigih melawan musuh. Tak gentar meski dengan senjata tradisional. Jauh sebelum Kartini berjuang dengan alat tulis. Kartini masa kini melawan dengan media digital yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan. Jika salah memanfaatkan, maka tersisalah jejak digital yang tak bisa dihapus permanen. Siapapun perempuan gen Z hingga gen beta nantinya, tentu akan menghadapi tantangan versi generasinya. Semoga akhlak terjaga dunia akhirat pertanggungjawaban akhir dari cerita hidup yang pernah hidup pada masanya.
SELAMAT HARI KARTINI. MAJU MEUCUHUE.
Lhokseumawe, 21 April 2026









Diskusi