Oleh Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I
Penyuluh Agama Islam KUA TAPAKTUAN, Aceh Selatan
Perjuangan seorang perempuan sering kali tidak terdengar gaduh, namun dampaknya begitu luas. Ia hadir dalam bentuk kesabaran seorang ibu, keteguhan seorang anak perempuan, hingga kegigihan seorang perempuan yang terus belajar meski keadaan tidak selalu berpihak.
Sejak kecil, banyak perempuan sudah dibiasakan untuk mandiri—bangun lebih awal, membantu orang tua, dan tetap tegar meski lelah menyapa. Di balik kelembutannya, tersimpan daya juang yang tidak kalah dari siapa pun.
Momentum Hari Kartini mengajak kita untuk tidak sekadar mengenang, tetapi juga merenungkan kembali makna perjuangan perempuan dalam kehidupan modern. Sosok Raden Ajeng Kartini telah mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia memperjuangkan pendidikan dan martabat perempuan, sesuatu yang justru sejalan dengan ajaran Islam yang telah lebih dahulu memuliakan perempuan.
Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama dalam amal dan pahala:
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Ayat ini menjadi penguat bahwa perjuangan perempuan tidak sia-sia. Setiap tetes keringat, setiap air mata, dan setiap doa yang terucap memiliki nilai di sisi Allah. Bahkan hal-hal kecil yang sering dianggap remeh—seperti mengurus rumah, mendidik anak, atau membantu sesama—semuanya bernilai ibadah jika dilandasi iman.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya ilmu bagi semua, tanpa terkecuali:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”(HR. Ibnu Majah)
Di sinilah letak kekuatan perempuan—ketika ia berilmu, ia bukan hanya membangun dirinya, tetapi juga generasi setelahnya. Bayangkan, satu perempuan berilmu bisa “menghasilkan” satu keluarga yang berilmu. Ibaratnya seperti paket lengkap: satu orang belajar, bonusnya satu rumah jadi cerdas. Kalau ini diskon, mungkin semua orang langsung borong!
Sedikit kita selipkan senyum, karena memang perjuangan perempuan kadang penuh warna. Misalnya, seorang ibu yang bisa memasak sambil menggendong anak, sambil menjawab pertanyaan anak yang tak ada habisnya: “Ibu, kenapa langit biru?” “Ibu, kenapa ayam tidak pakai sepatu?” Di saat yang sama, ia juga masih sempat mengingatkan: “Jangan lupa shalat!” Kalau ini bukan multitasking tingkat tinggi, entah apa lagi namanya.
Atau gambaran klasik: perempuan itu sering disebut lemah, tapi anehnya bisa kuat saat diskon besar datang. Dari yang awalnya bilang “cuma lihat-lihat”, tiba-tiba pulang dengan tiga kantong belanja. Ini bukan sekadar belanja, ini strategi ekonomi keluarga versi diam-diam! Namun di balik itu, ada kecerdasan mengatur kebutuhan rumah tangga dengan penuh pertimbangan.
Dalam Islam, kemuliaan perempuan juga ditegaskan melalui perannya sebagai ibu. Rasulullah ﷺbersabda:
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. Ahmad)
Hadis ini bukan sekadar ungkapan, tetapi penghargaan tertinggi atas pengorbanan perempuan . Seorang ibu rela begadang, rela lelah, bahkan sering mengalah demi kebahagiaan anak-anaknya. Kadang ia makan paling akhir, tidur paling malam, tapi bangun paling awal. Kalau ada “pahlawan tanpa tanda jasa” dalam kehidupan nyata, maka ibu adalah juaranya.
Maka, memperingati Hari Kartini bukan hanya soal mengenang sejarah, tetapi juga melanjutkan semangatnya. Memberikan ruang pendidikan bagi perempuan, menghargai peran mereka, dan mendukung setiap langkah kebaikan yang mereka lakukan adalah bagian dari perjuangan itu sendiri.
Akhirnya, kita menyadari bahwa perempuan bukan hanya tentang kelembutan, tetapi juga tentang keteguhan. Mereka mungkin tidak selalu berada di depan panggung, tetapi tanpa mereka, panggung kehidupan ini tidak akan berjalan dengan baik. Maka hormatilah, dukunglah, dan doakanlah mereka—karena di balik senyum seorang wanita, sering tersimpan cerita perjuangan yang luar biasa.
























Diskusi