Oleh: Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
TikTok @ririeaiko_djaf
(Puisi esai ini terinspirasi dari kisah Chanel Miller, seorang penyintas pelecehan seksual di Universitas Stanford pada 2015. Ia melawan ketidakadilan sistem hukum yang memenangkan reputasi pelaku di atas derita korban.)
—000—
California malam itu,
adalah kanvas kelam
yang disapu angin Pasifik.
Dingin, hitam, dan tak berbisik.
Pohon-pohon palem menjulang seperti penjaga kaku,
membingkai jalanan Palo Alto yang sunyi senyap.
Pesta menderu, namun nurani mendadak kelu.
Menyaksikan satu raga luruh,
perempuan muda tersungkur dalam rapuh,
terhempas di antara sisa sampah yang kumuh, [1]
Saat kemanusiaan dipaksa jatuh bersimpuh.
Dunia berubah menjadi panggung yang dingin.
Lalu, di mana kebenaran hendak ditegakkan,
jika dusta justru lebih lantang diteriakkan?
Mereka menghitung gelas yang tandas oleh jemari,
meratapi gaun yang dianggap menggoda nurani,
seolah martabat adalah barang yang bisa dicuri,
hanya karena kesadaran yang terbang dibawa lari.
Di atas meja hijau,
keadilan tak berdiri.
Ia abu-abu, kadang kelabu,
namanya dipangkas,
disekap dalam diksi yang baru.
“Emily Doe,” begitu bibir-bibir hukum menderu,
sebuah topeng tanpa wajah,
suara yang dibungkam bisu.
Ia menjadi bayang
di balik kertas-kertas kusam,
meredam bara yang membakar
di balik malam yang kelam.
—000—
Timbangan itu miring,
dipeluk erat oleh kuasa,
memilih menjaga harga daripada jiwa yang melata.
Hanya enam bulan bagi perenggut marwah, [2]
sementara sang perempuan kehilangan seluruh arah.
Di sana, keadilan hanyalah sebuah hiasan kata,
saat masa depan sang juara lebih berharga daripada air mata.
Kedamaian dijarah, suara dicuri dalam kelam,
memaksa korban hidup dalam sunyi yang paling dalam.
Masa depan sang juara dianggap mutiara,
sementara hancurnya hati seorang dara
hanya dianggap noktah kecil di tengah samudera.
Namun di dalam sunyi,
pena mulai menari,
menggoreskan perlawanan
di atas luka tak berdarah
Ia tak lagi bersembunyi
di balik nama yang lirih,
ia bangkit menantang badai
yang datang berganti.
Lalu guntur suaranya membelah jagat raya:
“You took away my worth, my privacy, my energy, my time, my safety, my intimacy, my confidence, my own voice, until today.” [3]
Kalimat itu menjelma lentera
di antara lorong yang hampa,
menghantam dinding-dinding tuli
yang menutup telinga.
Ia bukan sekadar angka
dalam map yang berdebu,
ia adalah napas yang menolak untuk dibelenggu.
—000—
Waktu berlalu
rahasia itu mekar menjadi keberanian,
ia menanggalkan anonimitas di tengah keramaian.
“Namaku Chanel Miller,” ucapnya penuh keteguhan, [4]
sebuah deklarasi jiwa yang merebut kembali kepemilikan.
Ia bukan lagi korban yang meratap di balik pintu,
ia adalah penulis yang menata narasinya sendiri.
Satu per satu hukum dipaksa tunduk pada kejujuran yang nyata,
kursi-kursi kekuasaan diguncang satu kata. [5]
Ketika satu perempuan berdiri,
ia sedang memanggil ribuan jiwa
untuk kembali berani.
Sebab kehormatan yang dijarah secara biadab,
hanya bisa pulih saat kebenaran tak lagi disekap.
Catatan:
[1]https://www.theguardian.com/us-news/2019/sep/22/chanel-miller-know-my-name-stanford-sexual-assault-interview](https://www.theguardian.com/us-news/2019/sep/22/chanel-miller-know-my-name-stanford-sexual-assault-interview) (Mengenai penemuan Chanel Miller di area pembuangan sampah kampus).
[2]https://www.bbc.com/news/world-us-canada-36440523](https://www.bbc.com/news/world-us-canada-36440523)
[3] https://www.buzzfeed.com/katiejmbaker/heres-the-powerful-letter-the-stanford-victim-read-to-her-ass (Kutipan asli dari Victim Impact Statement Chanel Miller).
[4] https://www.nytimes.com/2019/09/04/us/stanford-victim-emily-doe-chanel-miller.html (Pengungkapan identitas asli Chanel Miller pada tahun 2019).
(5)https://www.reuters.com/article/us-california-judge-idUSKCN1J12V6](https://www.reuters.com/article/us-california-judge-idUSKCN1J12V6)













© 2026 potretonline.com






Diskusi