Jumat, April 17, 2026

Puisi Esai April: Perjuangan Perempuan‎ Marwah Perempuan Yang Menolak Dijarah

April 2026
Oleh: Ririe Aiko



Oleh: Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
TikTok @ririeaiko_djaf


(Puisi esai ini terinspirasi dari kisah Chanel Miller, seorang penyintas pelecehan seksual di Universitas Stanford pada 2015. Ia melawan ketidakadilan sistem hukum yang memenangkan reputasi pelaku di atas derita korban.)

‎—000—

‎California malam itu,
‎adalah kanvas kelam
‎yang disapu angin Pasifik.
‎Dingin, hitam, dan tak berbisik.

‎Pohon-pohon palem menjulang seperti penjaga kaku,
‎membingkai jalanan Palo Alto yang sunyi senyap.
‎Pesta menderu, namun nurani mendadak kelu.
‎Menyaksikan satu raga luruh,
‎perempuan muda tersungkur dalam rapuh,
‎terhempas di antara sisa sampah yang kumuh, [1]

‎Saat kemanusiaan dipaksa jatuh bersimpuh.
‎Dunia berubah menjadi panggung yang dingin.
‎Lalu, di mana kebenaran hendak ditegakkan,
‎jika dusta justru lebih lantang diteriakkan?

‎Mereka menghitung gelas yang tandas oleh jemari,
‎meratapi gaun yang dianggap menggoda nurani,
‎seolah martabat adalah barang yang bisa dicuri,
‎hanya karena kesadaran yang terbang dibawa lari.

‎Di atas meja hijau,
‎ keadilan tak berdiri.
‎Ia abu-abu, kadang kelabu,
‎namanya dipangkas,
‎disekap dalam diksi yang baru.
‎“Emily Doe,” begitu bibir-bibir hukum menderu,

sebuah topeng tanpa wajah,
‎suara yang dibungkam bisu.
‎Ia menjadi bayang
‎di balik kertas-kertas kusam,
‎meredam bara yang membakar
‎di balik malam yang kelam.

‎—000—

‎Timbangan itu miring,
‎dipeluk erat oleh kuasa,
‎memilih menjaga harga daripada jiwa yang melata.
‎Hanya enam bulan bagi perenggut marwah, [2]
‎sementara sang perempuan kehilangan seluruh arah.

‎Di sana, keadilan hanyalah sebuah hiasan kata,
‎saat masa depan sang juara lebih berharga daripada air mata.
‎Kedamaian dijarah, suara dicuri dalam kelam,
‎memaksa korban hidup dalam sunyi yang paling dalam.

‎Masa depan sang juara dianggap mutiara,
‎sementara hancurnya hati seorang dara
‎hanya dianggap noktah kecil di tengah samudera.

‎Namun di dalam sunyi,
‎pena mulai menari,
‎menggoreskan perlawanan
‎di atas luka tak berdarah
‎Ia tak lagi bersembunyi
‎di balik nama yang lirih,

‎ia bangkit menantang badai
‎yang datang berganti.

‎Lalu guntur suaranya membelah jagat raya:
“You took away my worth, my privacy, my energy, my time, my safety, my intimacy, my confidence, my own voice, until today.” [3]

‎Kalimat itu menjelma lentera
‎di antara lorong yang hampa,
‎menghantam dinding-dinding tuli
‎yang menutup telinga.
‎Ia bukan sekadar angka
‎dalam map yang berdebu,
‎ia adalah napas yang menolak untuk dibelenggu.

‎—000—

‎Waktu berlalu
‎rahasia itu mekar menjadi keberanian,
‎ia menanggalkan anonimitas di tengah keramaian.

‎“Namaku Chanel Miller,” ucapnya penuh keteguhan, [4]
‎sebuah deklarasi jiwa yang merebut kembali kepemilikan.
‎Ia bukan lagi korban yang meratap di balik pintu,
‎ia adalah penulis yang menata narasinya sendiri.

Satu per satu hukum dipaksa tunduk pada kejujuran yang nyata,
‎kursi-kursi kekuasaan diguncang satu kata. [5]
‎Ketika satu perempuan berdiri,
‎ia sedang memanggil ribuan jiwa
‎untuk kembali berani.

Sebab kehormatan yang dijarah secara biadab,
‎hanya bisa pulih saat kebenaran tak lagi disekap.

‎Catatan:
[1]https://www.theguardian.com/us-news/2019/sep/22/chanel-miller-know-my-name-stanford-sexual-assault-interview](https://www.theguardian.com/us-news/2019/sep/22/chanel-miller-know-my-name-stanford-sexual-assault-interview) (Mengenai penemuan Chanel Miller di area pembuangan sampah kampus).
‎[2]https://www.bbc.com/news/world-us-canada-36440523](https://www.bbc.com/news/world-us-canada-36440523)
[3] https://www.buzzfeed.com/katiejmbaker/heres-the-powerful-letter-the-stanford-victim-read-to-her-ass (Kutipan asli dari Victim Impact Statement Chanel Miller).
‎[4] https://www.nytimes.com/2019/09/04/us/stanford-victim-emily-doe-chanel-miller.html (Pengungkapan identitas asli Chanel Miller pada tahun 2019).
‎(5)https://www.reuters.com/article/us-california-judge-idUSKCN1J12V6](https://www.reuters.com/article/us-california-judge-idUSKCN1J12V6)

Tentang Penulis
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist