Dengarkan Artikel
Oleh: Syarifudin Brutu
Di Negeri Gemah Ripah, Tuhan adalah kata benda yang paling sibuk, tapi paling kesepian. Nama-Nya dicetak di atas materai, diteriakkan di corong pengeras suara setiap lima kali sehari, dan dipahat rapi di baris pertama undang-undang. Namun, semua orang tahu, kedudukan-Nya tidak lagi di langit ketujuh. Beliau sudah lama pindah alamat ke bawah tumit Ibu Pertiwi.
Ibu Pertiwi di negeri ini bukan lagi perempuan anggun berbaju kurung yang memegang padi. Ia telah menjelma menjadi raksasa beton dengan riasan wajah dari aspal panas dan napas yang berbau asap knalpot pejabat. Ia memakai sepatu lars baja yang beratnya beribu-ribu ton.
Suatu pagi, di sebuah trotoar yang retak, seorang kakek tua bernama Saleh mencoba menggali tanah dengan kuku-kukunya yang hitam. Ia tidak sedang mencari cacing, ia sedang mencari Tuhan yang kabarnya tertimbun di sana.
”Sedang apa, Kek?” tanya seorang pemuda berseragam dinas yang kebetulan lewat, sambil membetulkan lencana garuda di dadanya yang membusung.
”Mencari keadilan, Cu. Katanya keadilan itu sifat Tuhan, dan di dasar negara kita, Tuhan ada di urutan pertama,” jawab Saleh tanpa menoleh.
Si pemuda tertawa, suaranya kering seperti kertas koran basi. “Kakek salah alamat. Di sini, Tuhan itu urusan administrasi. Kalau mau cari Dia, pergilah ke kantor urusan agama atau rumah ibadah yang megah itu. Tapi kalau mau hidup tenang, tunduklah pada Ibu Pertiwi. Jangan digali tanahnya, nanti Kakek dianggap makar!”
Saleh berhenti menggali. Ia menunjuk ke arah sepatu lars raksasa Ibu Pertiwi yang sedang menginjak sebuah perkampungan kumuh di kejauhan. Di bawah lipatan telapak kaki baja itu, suara doa terdengar lamat-lamat, tercekik oleh deru mesin buldoser.
Di negeri itu, orang-orang lebih takut pada bendera yang tidak berkibar daripada hati nurani yang mati. Mereka lebih fasih menghafal pasal-pasal karet daripada ayat-ayat suci yang mengajarkan kasih. Bagi mereka, membela negara adalah “ibadah” yang paling paripurna, meski harus dengan cara menginjak wajah sesama manusia.
Malamnya, Ibu Pertiwi berpesta. Ia berdansa di atas tanah-tanah sengketa. Setiap kali tumit bajanya menghantam bumi, terdengar bunyi krak, seperti tulang yang patah, atau mungkin seperti suara Tuhan yang sedang meringis kesakitan karena sesak napas.
Tuhan di negeri ini memang Esa, tapi Ia tidak lagi berkuasa. Ia hanya menjadi alas kaki yang empuk agar langkah Ibu Pertiwi menuju “kemajuan” tidak terasa sakit saat menginjak kepala rakyatnya sendiri.
Saleh akhirnya berhenti menggali. Ia sadar, Tuhan memang ada di bawah telapak kaki Ibu Pertiwi. Bukan karena Ia rendah, tapi karena Ia sedang memeluk erat tanah yang paling menderita, sementara orang-orang di atas sana sibuk menyembah berhala bernama Negara.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









