• Latest
Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan

Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan

Februari 18, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Februari 18, 2026
Reading Time: 3 mins read
Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko
Penulis buku Suara Kecil Dari Balik Algoritma

“Lidah lebih tajam daripada pedang.”

Barangkali bagi sebagian orang, pepatah itu hanya kalimat lama yang terdengar puitis, tanpa daya guncang apa pun. Sebuah nasihat usang yang sering diucapkan orang tua kepada anak-anaknya agar berhati-hati dalam berbicara.

Namun di sebuah sudut ruang konseling yang dingin, seorang remaja dengan tatapan kosong dan bahu merunduk, menjadikan pepatah itu menjelma nyata. Kata-kata melukainya begitu dalam, menembus, dan menghancurkan masa depannya.

Saya melihat anak itu dalam sebuah unggahan media sosial. Seorang anak duduk kaku didampingi psikolog. Usianya masih belia, usia yang seharusnya lebih sering tertawa daripada terisak. Namun wajahnya seperti kehilangan jiwa. Tidak ada ceria, matanya kosong, tak hidup. Seolah jiwanya tersesat jauh dari tubuhnya sendiri.

Anak itu didiagnosis mengalami gangguan mental. Ia depresi karena dibully, teman-temannya terlalu sering melontarkan kata-kata ejekan tak berdarah, tapi membuatnya patah. Kata-kata merendahkan diulang setiap hari. Bagi pelaku, itu mungkin hanya candaan. Bagi korban, itu adalah palu yang dipukulkan berkali-kali ke harga dirinya yang rapuh.

Psikologi mengenal luka semacam ini sebagai trauma verbal kronis, cedera emosional akibat paparan kata-kata merendahkan yang berulang. Pada anak dan remaja, fase perkembangan identitas diri masih sangat sensitif terhadap penilaian sosial. Otak mereka sedang membangun konsep “siapa aku” dari cermin lingkungan. Ketika cermin itu berisi ejekan dan penghinaan, citra diri yang terbentuk pun retak.

Dari sebuah penelitian yang pernah saya baca, penghinaan sosial yang terus-menerus dapat memicu respons stres kronis pada sistem saraf. Hormon stres meningkat, rasa aman runtuh, dan otak belajar mengaitkan interaksi sosial dengan ancaman. Akibatnya muncul gejala seperti menarik diri, depresi, kecemasan sosial, hingga gangguan harga diri. Dalam kasus berat, anak dapat mengalami learned helplessness, perasaan tak berdaya yang membuatnya percaya bahwa apa pun yang dilakukan tak akan mengubah keadaan.
Terdengar dramatis, tapi menurut saya itu adalah masalah yang sangat penting dan tidak bisa disepelekan.

Tidak semua orang memiliki ketahanan mental yang sama. Ada orang yang ketika dikatakan “jelek” tidak akan peduli dengan kata-kata seperti itu, tetapi ada juga orang yang ketika dikatakan “jelek” akan berpikir dirinya benar-benar jelek, merasa tidak percaya diri, merasa dirinya sangat rendah, hingga diliputi rasa malu dan takut.

Di titik itulah kata-kata menjadi lebih tajam daripada benda apa pun. Luka fisik memiliki tepi dan waktu sembuh. Luka verbal sering tak terlihat dan tak diberi nama. Ia mengendap, menetes pelan, merusak kepercayaan diri sedikit demi sedikit, hingga suatu hari anak itu berhenti percaya bahwa dirinya layak dihargai.

Yang lebih menyayat adalah cara masyarakat dalam memandang masalah kesehatan mental. Kita kerap berkata, “Anak sekarang mentalnya lemah.” Kalimat itu terdengar seperti analisis, padahal sejatinya pembenaran. Kita menempatkan beban pada korban, seolah ia gagal menjadi kuat, sementara kata-kata kejam para pelaku dianggap lumrah, bahkan wajar dalam pergaulan.

Padahal tidak ada jiwa yang lahir dengan ketahanan tanpa batas. Ketahanan mental tumbuh dari pengalaman dihargai, didengar, dan diterima. Ketika lingkungan justru menghadirkan hinaan, yang retak bukan kelemahan bawaan, melainkan harga diri yang diserang terus-menerus.

Membaca kisah anak itu, hati saya berkali-kali runtuh. Betapa banyak di sekitar kita yang masih meremehkan kesehatan mental, menganggap luka batin sebagai hal sepele. Kita lupa bahwa bagi anak, dunia sosial adalah semesta utamanya. Apa yang dikatakan teman sebaya memiliki bobot hampir seberat suara keluarga. Jika di dua ruang itu ia menerima hinaan, maka tak ada lagi tempat aman bagi jiwanya bernaung.

Kita juga sering salah kaprah memaknai “bercanda.” Dalam psikologi sosial, ejekan, perendahan terhadap seseorang termasuk bentuk bullying, jenis perundungan yang merendahkan identitas seseorang, dampaknya tidak kalah berat dibanding bullying fisik atau penampilan.

Di ruang konseling itu, saya membayangkan psikolog sedang berusaha mengumpulkan serpihan harga diri anak tersebut. Prosesnya panjang. Luka verbal berulang mengubah keyakinan inti seseorang: “Aku tidak berharga.” Terapi harus perlahan menanamkan keyakinan baru: “Aku layak dihormati.” Namun pemulihan individu tidak pernah cukup jika lingkungan sosial tetap kejam.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Karena sesungguhnya, kata-kata tidak pernah “hanya kata-kata.” Ia adalah pembentuk realitas batin. Dari kata-kata, anak belajar siapa dirinya. Dari kata-kata, ia memahami apakah dunia menerima atau menolaknya. Setiap ejekan yang kita anggap ringan bisa menjadi batu yang ditambahkan ke beban mental seseorang.

ADVERTISEMENT

Maka mungkin sudah saatnya kita berhenti menyebut korban sebagai lemah. Yang lemah justru budaya yang membiarkan penghinaan menjadi kebiasaan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Di Atas Langit Masih Ada Langit

Di Atas Langit Masih Ada Langit

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com