POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
February 18, 2026
Saat Kata-Kata Menjadi Kekerasan yang Menghancurkan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko
Penulis buku Suara Kecil Dari Balik Algoritma

“Lidah lebih tajam daripada pedang.”

Barangkali bagi sebagian orang, pepatah itu hanya kalimat lama yang terdengar puitis, tanpa daya guncang apa pun. Sebuah nasihat usang yang sering diucapkan orang tua kepada anak-anaknya agar berhati-hati dalam berbicara.

Namun di sebuah sudut ruang konseling yang dingin, seorang remaja dengan tatapan kosong dan bahu merunduk, menjadikan pepatah itu menjelma nyata. Kata-kata melukainya begitu dalam, menembus, dan menghancurkan masa depannya.

Saya melihat anak itu dalam sebuah unggahan media sosial. Seorang anak duduk kaku didampingi psikolog. Usianya masih belia, usia yang seharusnya lebih sering tertawa daripada terisak. Namun wajahnya seperti kehilangan jiwa. Tidak ada ceria, matanya kosong, tak hidup. Seolah jiwanya tersesat jauh dari tubuhnya sendiri.

Anak itu didiagnosis mengalami gangguan mental. Ia depresi karena dibully, teman-temannya terlalu sering melontarkan kata-kata ejekan tak berdarah, tapi membuatnya patah. Kata-kata merendahkan diulang setiap hari. Bagi pelaku, itu mungkin hanya candaan. Bagi korban, itu adalah palu yang dipukulkan berkali-kali ke harga dirinya yang rapuh.

Psikologi mengenal luka semacam ini sebagai trauma verbal kronis, cedera emosional akibat paparan kata-kata merendahkan yang berulang. Pada anak dan remaja, fase perkembangan identitas diri masih sangat sensitif terhadap penilaian sosial. Otak mereka sedang membangun konsep “siapa aku” dari cermin lingkungan. Ketika cermin itu berisi ejekan dan penghinaan, citra diri yang terbentuk pun retak.

Dari sebuah penelitian yang pernah saya baca, penghinaan sosial yang terus-menerus dapat memicu respons stres kronis pada sistem saraf. Hormon stres meningkat, rasa aman runtuh, dan otak belajar mengaitkan interaksi sosial dengan ancaman. Akibatnya muncul gejala seperti menarik diri, depresi, kecemasan sosial, hingga gangguan harga diri. Dalam kasus berat, anak dapat mengalami learned helplessness, perasaan tak berdaya yang membuatnya percaya bahwa apa pun yang dilakukan tak akan mengubah keadaan.
Terdengar dramatis, tapi menurut saya itu adalah masalah yang sangat penting dan tidak bisa disepelekan.

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

AKSI! Pemuda Bergerak, Pelestarian Lingkungan

Merajut Aksara Mimpi

Perjuangan Tanpa Henti Sang Pengemis di Simpang Jambo Tape

Tidak semua orang memiliki ketahanan mental yang sama. Ada orang yang ketika dikatakan “jelek” tidak akan peduli dengan kata-kata seperti itu, tetapi ada juga orang yang ketika dikatakan “jelek” akan berpikir dirinya benar-benar jelek, merasa tidak percaya diri, merasa dirinya sangat rendah, hingga diliputi rasa malu dan takut.

Di titik itulah kata-kata menjadi lebih tajam daripada benda apa pun. Luka fisik memiliki tepi dan waktu sembuh. Luka verbal sering tak terlihat dan tak diberi nama. Ia mengendap, menetes pelan, merusak kepercayaan diri sedikit demi sedikit, hingga suatu hari anak itu berhenti percaya bahwa dirinya layak dihargai.

Yang lebih menyayat adalah cara masyarakat dalam memandang masalah kesehatan mental. Kita kerap berkata, “Anak sekarang mentalnya lemah.” Kalimat itu terdengar seperti analisis, padahal sejatinya pembenaran. Kita menempatkan beban pada korban, seolah ia gagal menjadi kuat, sementara kata-kata kejam para pelaku dianggap lumrah, bahkan wajar dalam pergaulan.

Padahal tidak ada jiwa yang lahir dengan ketahanan tanpa batas. Ketahanan mental tumbuh dari pengalaman dihargai, didengar, dan diterima. Ketika lingkungan justru menghadirkan hinaan, yang retak bukan kelemahan bawaan, melainkan harga diri yang diserang terus-menerus.

Membaca kisah anak itu, hati saya berkali-kali runtuh. Betapa banyak di sekitar kita yang masih meremehkan kesehatan mental, menganggap luka batin sebagai hal sepele. Kita lupa bahwa bagi anak, dunia sosial adalah semesta utamanya. Apa yang dikatakan teman sebaya memiliki bobot hampir seberat suara keluarga. Jika di dua ruang itu ia menerima hinaan, maka tak ada lagi tempat aman bagi jiwanya bernaung.

Kita juga sering salah kaprah memaknai “bercanda.” Dalam psikologi sosial, ejekan, perendahan terhadap seseorang termasuk bentuk bullying, jenis perundungan yang merendahkan identitas seseorang, dampaknya tidak kalah berat dibanding bullying fisik atau penampilan.

Di ruang konseling itu, saya membayangkan psikolog sedang berusaha mengumpulkan serpihan harga diri anak tersebut. Prosesnya panjang. Luka verbal berulang mengubah keyakinan inti seseorang: “Aku tidak berharga.” Terapi harus perlahan menanamkan keyakinan baru: “Aku layak dihormati.” Namun pemulihan individu tidak pernah cukup jika lingkungan sosial tetap kejam.

Karena sesungguhnya, kata-kata tidak pernah “hanya kata-kata.” Ia adalah pembentuk realitas batin. Dari kata-kata, anak belajar siapa dirinya. Dari kata-kata, ia memahami apakah dunia menerima atau menolaknya. Setiap ejekan yang kita anggap ringan bisa menjadi batu yang ditambahkan ke beban mental seseorang.

Maka mungkin sudah saatnya kita berhenti menyebut korban sebagai lemah. Yang lemah justru budaya yang membiarkan penghinaan menjadi kebiasaan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 55x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Di Atas Langit Masih Ada Langit

Di Atas Langit Masih Ada Langit

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00