Dengarkan Artikel
Oleh: Syarifudin Brutu
Neraka hari itu sedang tidak kondusif. Suasananya lebih semrawut daripada antrean sembako gratis di depan pendopo gubernur saat mau Pilkada. Suara cambuk api kalah nyaring dibanding suara mesin chainsaw yang tiba-tiba menderu di Lapis Ketiga.
Malaikat Malik, penguasa keamanan yang biasanya dingin dan presisi, hari itu tampak gusar. Beliau sedang melakukan patroli rutin, memeriksa apakah para koruptor sudah cukup matang atau perlu ditambah durasi panggangnya. Namun, saat sedang melangkah dengan gagah di atas jembatan yang lebih tipis dari sehelai rambut, tiba-tiba…
BRUAK!
Malik tersungkur. Wajah sang penjaga neraka yang ditakuti seluruh jin dan manusia itu mencium lantai batu yang membara.
“Woy! Siapa yang naruh benda sialan ini di sini?!” bentak Malik, suaranya menggetarkan pondasi langit ke tujuh.
Sekelompok penghuni neraka dari Aceh yang sedang menjalani hukuman “Mandi Lumpur Banjir Abadi” spontan tertawa terpingkal-pingkal. Mereka lupa kalau mereka sedang disiksa. Bagi orang Aceh, melihat penguasa jatuh itu adalah hiburan paling mewah sejak zaman kolonial.
“Hahaha! Malik kesandung! Hati-hati, Bang! Itu bukan batu sandungan, itu bibit unggul masa depan!” teriak Teuku Gam, seorang petani yang masuk neraka gara-gara mencuri brondolan sawit untuk beli obat anaknya yang asma gara-gara asap pabrik.
Malik berdiri, debu api dibersihkannya dari jubah. Beliau melihat ke bawah. Di sela-sela lantai neraka yang retak karena panas ekstrem, muncul sebuah tunas kecil berwarna hijau mengkilap. Bukan pohon Zaqqum yang berduri dan berbuah kepala setan, melainkan tunas Kelapa Sawit.
“Sawit? Di neraka?” Malik melongo. “Sejak kapan ada izin lingkungan hidup (AMDAL) untuk tanam sawit di sini?!”
“Oalah, Bang Malik baru tahu?” Teuku Gam mendekat sambil memegang gayung berisi lumpur panas. “Itu yang nanam barusan lewat, Bang. Rombongan bapak-bapak pakai baju safari cokelat dan peci hitam yang diselipkan kartu nama. Mereka bilang neraka ini ‘lahan tidur’ yang kurang produktif. Katanya, daripada cuma buat bakar orang, mending dijadikan sentra industri CPO (Crude Palm Oil) Internasional Lintas Alam Gaib.”
Belum selesai Malik mencerna kegilaan itu, dari balik bukit api muncul sebuah helikopter berlambang dinasti yang baling-balingnya terbuat dari uang kertas seratus ribuan. Helikopter itu mendarat darurat karena mesinnya tersumbat jelaga.
Keluarlah seorang pria—kita panggil saja Tuan HGU—dengan wajah licin yang kalau kena cahaya api neraka malah makin mengkilap karena efek skincare dari pajak rakyat.
Tuan HGU turun sambil memegang gulungan kertas besar. “Malaikat Malik? Wah, pas sekali. Kenalkan, saya konsultan percepatan ekonomi akhirat. Ini surat tugas saya. Saya sudah beli hak pengelolaan hutan neraka seluas 2 juta hektar. Kita akan ganti semua pohon berduri ini dengan sawit varietas ‘Anti-Api’. Nanti hasilnya kita ekspor ke planet lain.”
Malik membelalakkan matanya yang merah. “Kamu gila? Ini tempat penyiksaan! Bukan tempat cari cuan!”
Tuan HGU terkekeh, suaranya seperti bunyi struk belanja keluar dari mesin kasir. “Ah, Tuan Malik ini kuno sekali. Siksaan itu kan relatif. Bagi kami, kemiskinan rakyat itu adalah siksaan yang paling estetis. Kami sudah terbiasa membiarkan rakyat Aceh berenang di banjir akhir 2025 kemarin sementara kami rapat di hotel mewah bahas ‘Aceh Green Energy’.
Jadi, kalau neraka ini agak panas dikit, ya anggap saja ini sauna gratis buat para investor.”
📚 Artikel Terkait
Di pojok lain, seorang penghuni neraka dari zaman Nabi Luth yang sedang memikul batu bara merasa minder. “Gila,” bisik si orang Sodom itu. “Kami dulu dihancurkan karena urusan ranjang. Tapi orang-orang berbaju cokelat ini… mereka menghancurkan masa depan seluruh provinsi hanya demi membangun istana di atas rawa yang mereka urug sendiri. Kami ini pendosa amatir, mereka ini… mereka ini ‘Suhu’.”
Teuku Gam menyela percakapan itu sambil menawarkan rokok yang dibakar langsung di lidah seorang koruptor yang sedang menjerit. “Bang Malik, jangan heran. Kami di Aceh sudah biasa sarapan asap pabrik.
Kalau di sini hawanya pengap gara-gara deforestasi neraka, kami mah santai. Di dunia, paru-paru kami sudah dilapisi kerak jelaga. Kami sudah ‘kebal’ sebelum mati.”
“Tapi banjir!” teriak Malik frustrasi. “Kalau hutan neraka ini ditebang buat sawit, nanti kalau ada hujan api, neraka ini bakal banjir lava! Kalian mau tenggelam lagi?!”
Tuan HGU menjawab dengan sangat tenang, “Banjir? Tenang, Tuan Malik. Kami sudah siapkan medianya. Kita tinggal bayar beberapa jin untuk bikin portal berita ‘Neraka News’. Kita buat judul: ‘Banjir Lava adalah Berkat, Tanah Neraka Jadi Lebih Subur’. Atau kalau perlu, kita buat narasi bahwa banjir itu salah rakyat sendiri karena buang sampah sembarangan di kawah belerang. Gampang kan?”
Tiba-tiba, Iblis muncul dari kegelapan. Tapi anehnya, Iblis tidak sedang memegang trisula. Iblis sedang membawa baki berisi kopi sanger dan sepiring gorengan untuk Tuan HGU.
“Lho, Iblis? Kamu ngapain jadi pelayan?” tanya Malik heran.
Iblis menghela napas panjang, wajahnya tampak kuyu dan depresi. “Aku resign, Bang Malik. Aku sudah nggak punya harga diri lagi. Kemarin aku coba goda Tuan HGU ini supaya korupsi, eh dia malah balik nawarin aku saham di perusahaannya. Dia bilang, ‘Blis, kamu itu mainnya receh. Cuma goda orang buat judi. Sini, ikut aku, kita gunduli hutan atas nama izin legal, kita buat banjir, lalu kita salahkan takdir. Itu namanya dosa yang sustainable (berkelanjutan)’.”
Iblis meletakkan bakinya. “Aku menyerah. Manusia dari Rezim Sawit ini lebih jahat daripada aku. Aku hanya menyesatkan jalan. Mereka? Mereka menghilangkan jalannya, menghilangkan hutannya, dan menghilangkan rasa malunya. Aku sujud sajalah pada mereka, siapa tahu aku dapat jatah komisaris di neraka nanti.”
Teuku Gam tertawa sampai batuk-batuk mengeluarkan lumpur. “Dengar itu, Malik! Iblis saja kena mental healthketemu pejabat kita! Kalian para malaikat jangan sok keras.
Di atas sana, saat kami tenggelam sampai atap rumah di Desember 2025, para bandit ini sedang sibuk foto-foto pakai baju dinas di depan tenda pengungsi buat di-post di Instagram dengan caption ‘Aceh Kuat, Aceh Hebat’. Hebat apanya? Hebat bohongnya!”
Suasana makin kacau saat Tuan HGU mulai memasang patok-patok tanah di depan gerbang neraka. “Oke, ini wilayah HGU saya. Yang nggak punya kartu anggota Dinasti, dilarang lewat. Oh ya, Malik, tolong itu para demonstran yang masuk sini dikasih tempat khusus ya, yang nggak ada sinyalnya. Biar mereka nggak bisa bikin thread di X (Twitter) soal kegagalan tata kelola neraka.”
Malik terduduk lemas di samping tunas sawit yang baru tumbuh itu. Beliau baru sadar, bahwa ternyata ada yang lebih menakutkan daripada api neraka: Keserakahan manusia yang dibalut dengan diksi ‘Pembangunan’.
“Jadi,” tanya Malik pelan, “apa rencana kalian selanjutnya?”
Tuan HGU tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang putih hasil pemutihan dari uang rakyat. “Rencananya? Kami akan buat ‘Aceh International Neraka Expo 2026’. Kita undang investor lintas dimensi. Kita tunjukkan bahwa meskipun neraka ini terbakar, tapi secara statistik makro, ekonomi kita sedang tumbuh 5 persen.
Kalau ada yang protes kenapa neraka makin panas? Kita bilang saja itu karena ‘Efek El Nino Dunia Bawah’. Beres kan?”
Teuku Gam menatap Tuan HGU dengan tatapan paling tajam yang pernah dimiliki seorang manusia. “Tuan… di dunia kalian menang. Kalian punya media, kalian punya polisi, kalian punya tentara, kalian punya narasi. Tapi di sini… di sini kalian tidak punya apa-apa selain kebohongan yang kalian telan sendiri.”
“Oh ya?” tantang Tuan HGU. “Lihat sekelilingmu, Gam. Bahkan di neraka pun, saya masih bisa nanam sawit dan bikin Iblis sujud. Kekuasaan itu bukan soal di mana kamu berada, tapi seberapa tebal mukamu untuk berbohong di depan mayat-mayat yang kamu ciptakan sendiri.”
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara gemuruh yang bukan berasal dari siksaan. Itu adalah suara jutaan rakyat yang rumahnya hanyut, yang hutannya hilang, yang suaranya dibungkam media bayaran. Mereka berjalan pelan, membawa kertas-kertas koran yang berisi berita palsu “Aceh Sudah Pulih”.
Mereka tidak membawa senjata. Mereka hanya membawa satu hal: Ingatan.
Karena bagi para penguasa, musuh paling nyata bukan hanya demo mahasiswa, tapi ingatan rakyat yang menolak untuk lupa bahwa di balik kata “Pulih”, ada luka yang masih berdarah. Di balik kata “Baik-baik saja”, ada rakyat yang sedang megap-megap di dalam air lumpur.
Dan di tengah neraka yang mulai berubah jadi perkebunan sawit itu, Malaikat Malik hanya bisa berbisik, “Ya Tuhan… kirimkanlah lebih banyak penyair dan penulis ke dunia. Karena hanya mereka yang bisa menelanjangi iblis-iblis berbaju safari ini sebelum mereka sampai ke gerbangku.”
Di atas tanah Aceh, di akhir 2025 yang kelam, air mungkin sudah surut dari jalanan. Tapi di hati rakyat, banjir amarah baru saja dimulai. Dan sastra, adalah perahu terakhir yang menolak untuk tenggelam dalam lautan kebohongan rezim.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





