• Latest
Di Balik Romantisme Hujan: Diskusi Kajian Semiotika dan Feminis Cerpen Fileski di Madiun

Di Balik Romantisme Hujan: Diskusi Kajian Semiotika dan Feminis Cerpen Fileski di Madiun

Februari 15, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Di Balik Romantisme Hujan: Diskusi Kajian Semiotika dan Feminis Cerpen Fileski di Madiun

Redaksiby Redaksi
Februari 15, 2026
Reading Time: 2 mins read
Di Balik Romantisme Hujan: Diskusi Kajian Semiotika dan Feminis Cerpen Fileski di Madiun
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Shalihah Ramadhanita

Kajian semiotika dan feminis terhadap cerpen “Perempuan yang Datang ketika Hujan” karya Fileski dipaparkan oleh Shalihah Ramadhanita dalam forum diskusi sastra–seni rupa yang diselenggarakan RuSa TerBang Project pada 14 Februari 2026 di I-Club Madiun.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya komunitas untuk menghidupkan kembali ruang dialog intelektual seni dan sastra, sekaligus mempertemukan seniman, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat umum dalam diskusi terbuka.

Acara berlangsung dalam format bedah karya dan forum dialog interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan analisis, tetapi juga terlibat dalam sesi tanya jawab, pertukaran gagasan, serta refleksi bersama tentang makna karya sastra dan relevansinya dengan realitas sosial. Diskusi ini juga menjadi ruang perjumpaan antara komunitas seni dan pemangku kepentingan kebudayaan lokal dalam membangun ekosistem kebudayaan yang lebih dinamis.

Dalam pemaparannya, Shalihah menyoroti representasi perempuan dalam cerpen melalui pendekatan semiotika dan kritik sastra feminis. Menggunakan teori semiotika Roland Barthes,

ia menjelaskan bahwa hujan tidak hanya berfungsi sebagai peristiwa alam, tetapi menjadi simbol kesedihan, kerinduan, dan kenangan, sekaligus membangun mitos tentang cinta pertama yang abadi. Tokoh Jasmin diposisikan sebagai simbol perempuan ideal yang dibentuk melalui ingatan tokoh laki-laki, bukan sebagai individu yang memiliki suara sendiri.

Baca Juga

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Maret 25, 2026
Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM

Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM

Desember 27, 2025

Memperkuat Identitas Bangsa Lewat Bahasa dan Sastra di Sekolah

Desember 1, 2025

Analisis juga menunjukkan adanya oposisi representasi perempuan: figur perempuan dalam kenangan digambarkan suci dan ideal, sementara perempuan yang hadir melalui aplikasi kencan dilekati citra tubuh dan seksualitas. Menurut Shalihah, konstruksi tersebut mencerminkan makna budaya yang dibentuk oleh ruang sosial dan prasangka masyarakat, bukan sifat alamiah perempuan.

Dari perspektif kritik feminis, kajian ini merujuk konsep male gaze dari Laura Mulvey yang menjelaskan bagaimana perempuan direpresentasikan sebagai objek pandangan laki-laki.

Dalam cerpen, tokoh perempuan dinilai terutama melalui sudut pandang tokoh “aku”sehingga berfungsi sebagai cermin emosi dan pengalaman batin tokoh laki-laki. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Simone de Beauvoir tentang perempuan sebagai the Other dalam struktur patriarkal.

Kajian tersebut juga menyoroti adanya standar moral ganda terhadap perempuan, yang dipuji ketika diasosiasikan dengan kesucian namun dipandang negatif ketika berada dalam ruang sosial yang dilekati makna seksual. Dalam kesimpulannya, Shalihah menegaskan bahwa cerpen ini membuka refleksi kritis tentang bagaimana identitas perempuan dibentuk oleh cara pandang patriarkal.

Perempuan dalam cerita diposisikan sebagai objek emosi dan hasrat, bukan sebagai subjek yang utuh, sehingga pembaca diajak mempertanyakan konstruksi sosial yang membatasi identitas perempuan.Shalihah Ramadhanita (1998) adalah seniman, peneliti, dan pengkaji seni yang berfokus pada kajian seni rupa, kuratorial, dan kritik budaya. Ia menyelesaikan studi magister pengkajian seni pertunjukan dan seni rupa di Universitas Gadjah Mada, dengan minat kajian meliputi semiotika, kritik seni, dan perspektif feminis dalam studi visual dan sastra

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Menghidupkan Cerita Lewat Animasi AI: Kreativitas yang Bertumbuh Bersama Teknologi

Menghidupkan Cerita Lewat Animasi AI: Kreativitas yang Bertumbuh Bersama Teknologi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com