HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Aswan Nasution by Aswan Nasution
Februari 13, 2026
in #Anggaran Pendidikan, #Kemerdekaan, Artikel, Hukum, Negara, Pendidikan insklusif, Pendidikan karakter, Politik, Politik Pendidikan, Sadar hukum, sosial
Reading Time: 3 mins read
0
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution


Beberapa hari lalu, seorang kawan lama mengeluh tentang negara. “Republik ini,” katanya, “seolah-olah hanya punya satu jurus pamungkas: Pasal.” Setiap persoalan, dari yang rumit hingga yang remeh-temeh, dijawab dengan ancaman pidana. Setiap konflik, dari sengketa tanah sampai selisih paham di media sosial, diselesaikan dengan vonis dan penjara. Seolah ketertiban itu bisa lahir dari rasa takut. Padahal, takut adalah pangkal dari banyak kepalsuan.

Baca Juga

632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Kegaduhan dan Seni Mengalihkan Pandangan.

Maret 27, 2026
1001386795_11zon (1)

Kapal Induk “Gratis” Dari Italia?!

Maret 27, 2026


Pikiran itu terus berputar, berulang seperti gema dalam bilik sunyi. Kita sering lupa, pidana itu ultimum remedium, obat terakhir, bukan penawar segala sakit. Ia seharusnya menjadi tanda bahwa semua cara lain sudah mentok, bukan pilihan pertama dalam daftar solusi. Ketika negara sigap mengkriminalisasi setiap persoalan, itu tanda ia sedang bekerja di hilir, bukan di hulu. Seperti pemadam kebakaran yang hanya datang setelah api besar melalap habis, alih-alih mencegah percikan awal.


Kejahatan, sungguh, tidak pernah lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari tanah yang subur oleh ketimpangan, oleh kebodohan yang dipelihara, oleh kemiskinan yang terstruktur rapi. Ia adalah tunas pahit dari pendidikan yang gagal membentuk akal sehat, yang abai membangun karakter, yang luput menanamkan kesadaran kritis. Maka, jika sebuah negara ingin serius mencapai cita-citanya, jawabannya bukan dengan memperbanyak sel-sel penjara. Jawabannya, sesederhana itu, adalah memperkuat pendidikan.


Konstitusi kita, dalam semangat paling mulianya, sudah sangat tegas menggariskan: minimal 20% anggaran negara untuk pendidikan. Bukan untuk memoles citra presiden, bukan untuk kursi-kursi empuk para anggota dewan, tapi untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Ini bukan sekadar angka teknis di lembar anggaran. Ini adalah sebuah pernyataan filosofis, sebuah deklarasi tentang masa depan republik yang ditentukan oleh kualitas manusianya.


Anggaran 20% itu bukan sekadar formalitas, ia adalah janji. Sebuah janji bahwa negara percaya pada kekuatan akal budi, pada nurani yang diasah, pada etika yang ditanam sejak dini. Negara boleh memiliki aparat yang gagah perkasa. Negara boleh mempunyai undang-undang yang setebal kamus. Tapi jika manusianya tidak dibentuk dengan akal sehat, dengan etika, dan dengan kesadaran kritis, hukum hanya akan menjadi alat pemadam kebakaran yang tidak pernah selesai bekerja. Ia akan sibuk memadamkan api yang tak henti-hentinya menyala, karena kayu bakarnya selalu ada, selalu basah oleh ketidakpedulian.


Pendidikan, sebaliknya, membangun kesadaran sebelum pelanggaran terjadi. Ia menanam bibit budi pekerti sebelum kerusakan merajalela. Ia membentuk benteng dalam diri, benteng yang jauh lebih kokoh dari terali besi mana pun. Sebuah negara yang percaya pada pendidikan sedang membangun peradaban. Ia sedang menanam pohon yang akarnya akan menopang masa depan, yang batangnya akan menaungi keadilan, dan buahnya adalah kebaikan bersama.


Sebaliknya, negara yang terlalu percaya pada instrumen pidana, yang gemar mengancam dan menghukum, sebenarnya sedang sibuk menumpuk kegagalan dirinya sendiri. Ia gagal melihat akar masalah. Ia gagal mencegah. Ia gagal mendidik. Ia hanya pandai menghakimi di bagian ujung, setelah semuanya berantakan.


Pertanyaannya sederhana, tapi menusuk ulu hati: Republik macam apa yang sebenarnya ingin kita bangun? Republik yang mendidik, yang sabar membangun akal sehat dan nurani? Ataukah Republik yang menghukum, yang hanya pandai mencambuk dan mengurung, sementara akar masalah terus membusuk di bawah permukaan? Pilihan itu, pada akhirnya, akan menentukan apakah kita akan bergerak maju sebagai peradaban, atau terus terjerembap dalam lingkaran setan ketakutan dan pasal-pasal yang tak pernah menyelesaikan apa-apa.


Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 246x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 230x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 131x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Baca Juga

IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322
# Ironi

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
#Geopolitik

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
Next Post

Bongkar Buku - MADILOG

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com