POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka

RedaksiOleh Redaksi
February 13, 2026
Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Siti Sarah

Minggu pagi di kampung selalu dimulai dengan bunyi yang sama: desir angin sawah, kokok ayam yang bersahutan, dan langkah-langkah pelan menuju dapur setelah subuh ditunaikan. Pagi itu, seperti biasa, aku menyempurnakan subuh dengan sunat fajar dan zikir yang agak panjang. Ada ketenangan yang tak tergantikan di waktu pagi. Di sela doa-doa yang lirih, aku sudah tahu hari itu bukan pagi biasa.

Sore sebelumnya, Bang Fadhlul—suamiku yang masih terhitung linto baro, pengantin baru yang dalam adat Aceh masih disapa dengan penuh hormat dan harapan—memberi kabar bahwa umong trieng purieh blang paya kajeut tabu bijeh. Sawah kami di Blang Paya sudah siap untuk disemai. 

Sebagai linto baro, kehadirannya di sawah bukan hanya bekerja, tetapi juga membawa nama baik keluarga. Ada semangat, ada harga diri, dan ada doa yang mengiringi setiap langkahnya di lumpur sawah. Sebuah kabar yang bagi sebagian orang mungkin sederhana, tetapi bagi keluarga kami, itu berarti satu hal, aku harus menyiapkan eungkhui-kueengkhui.

Di kampungku, setiap kali linto baro turun ke sawah untuk menyemai benih padi, dara baro lazim menyiapkan makanan khas ini. Eungkhui bukan sekadar penganan dari pisang dan tepung ketan. Ia adalah tanda syukur, doa yang dibungkus kelapa parut, dan jejak adat yang diwariskan turun-temurun.

Malamnya aku telah menyiapkan bahan, pisang yang sudah masak, tepung ketan, gula, dan kelapa. Dapur kayu membuat segalanya sedikit lebih repot. Api harus dijaga, kayu harus disusun rapi agar bara tak cepat padam. Setelah nasi tanak di periuk dan lauk sederhana—telur dadar serta asam kacang kesukaan keluarga—siap tersaji, aku pun mulai meracik adonan eungkhui.

Mamakku yang telah memasuki usia senja duduk memperhatikan. Senyumnya teduh, matanya menyimpan pengalaman panjang sebagai perempuan kampung yang setia menjaga adat. Sesekali ia berpetuah, seperti pagi-pagi sebelumnya.

“Kita perempuan, apa pun pekerjaan kita, tetap harus bangun pagi untuk menjemput rezeki. Malaikat bertebaran membagi rezeki di waktu pagi. Banyak keberkahan di sana.”

Petuah itu sederhana, tetapi selalu menemukan tempatnya di hati.

“Gimana bahan-bahannya, sudah siap semua?” tanyanya.

📚 Artikel Terkait

ISI PADANGPANJANG SEGERA LAKSANAKAN PKKMB

KETIKA MASA KECIL TERENGGUT DEMI BERTAHAN HIDUP KELUARGA

Ibu yang Cerdas di Era Global

HABA Si PATok

“Iya, Mak.”

“Kajeut ku u aju.” (sudah bisa kukur kelapa)

“Get, Mak.” (baik Mak)

Dengan cekatan mamak mengupas pisang, menghancurkannya menggunakan gelas hingga lembut. Tepung ketan, gula, dan sedikit garam ditambahkan. Adonan diaduk perlahan, penuh ketelatenan. Aku menyiapkan dandang pengukus, mengikuti setiap arahan seperti murid yang tak ingin tertinggal satu pelajaran pun.

Adonan dibentuk bulatan sebesar bola pimpong, lalu dipipihkan. Setiap lapisan di saringan dandang dipisahkan dengan kelapa parut agar tak lengket. Kami bekerja tanpa banyak kata. Ada bahasa yang tak terucap di antara kami. Bahasa perempuan yang tahu bahwa menjaga dapur berarti menjaga banyak hal—keluarga, doa, dan marwah serta tradisi leluhur.

Sementara eungkhui masih di atas dapur, aku menyiapkan kopi dan teh untuk sekitar sepuluh orang. Di sawah nanti, para lelaki akan bekerja bersama. Menyemai benih tak pernah dilakukan sendiri. Ada gotong royong, ada tawa, ada cerita yang mengalir di antara lumpur dan harapan.

Ketika matang, eungkhui disusun dalam rantang yang sudah dialasi daun pisang di setiap tingkatnya. Aromanya hangat, berpadu wangi kelapa dan pisang yang manis alami. Aku membawa rantang itu bersama kopi, gelas, dan beberapa lembar daun pisang untuk alas makan.

Tak lama kemudian, Bang Fadhlul berangkat ke sawah. Dari halaman rumah, aku membayangkan ia menebar benih dengan hati riang, dibantu para tetangga. Benih-benih itu akan tumbuh perlahan, seperti doa-doa yang tak pernah putus kami panjatkan.

Tradisi menyemai benih dengan eungkhui memang kian jarang dijumpai. Modernisasi pelan-pelan menggeser banyak kebiasaan lama. Makanan praktis menggantikan kudapan tradisi. Gotong royong mulai disibukkan urusan masing-masing. Namun, di keluarga kami, eungkhui masih dipertahankan.

Sebab kami percaya, adat bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengikat identitas. Seperti pepatah Aceh yang kerap diulang orang tua, “Gadoh aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat ta mita.” Hilang anak ada kuburannya, hilang adat ke mana hendak dicari.

Di tengah perubahan zaman, mungkin yang bisa kita jaga bukan hanya hasil panen, tetapi juga cara kita menanamnya. Di situlah adat menemukan maknanya. Kesediaan untuk terus merawat peninggalan kebiasaan tetua. Berharap hari ini masih ada penerus yang mau belajar dan mempertahankan warisan ini.

Gampong Langga, Februari 2026

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 55x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 50x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
197
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Gerakan Self Love, Disiplin Diri Sebagai Benteng Kehidupan

Gerakan Self Love, Disiplin Diri Sebagai Benteng Kehidupan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00