HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    885 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    885 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka

Redaksi by Redaksi
Februari 13, 2026
in Aceh, Tradisi, Tradisional
Reading Time: 4 mins read
0
Eungkhui Saat Menyemai Benih Padi, Warisan Adat yang Kian Langka
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh: Siti Sarah

Minggu pagi di kampung selalu dimulai dengan bunyi yang sama: desir angin sawah, kokok ayam yang bersahutan, dan langkah-langkah pelan menuju dapur setelah subuh ditunaikan. Pagi itu, seperti biasa, aku menyempurnakan subuh dengan sunat fajar dan zikir yang agak panjang. Ada ketenangan yang tak tergantikan di waktu pagi. Di sela doa-doa yang lirih, aku sudah tahu hari itu bukan pagi biasa.

Sore sebelumnya, Bang Fadhlul—suamiku yang masih terhitung linto baro, pengantin baru yang dalam adat Aceh masih disapa dengan penuh hormat dan harapan—memberi kabar bahwa umong trieng purieh blang paya kajeut tabu bijeh. Sawah kami di Blang Paya sudah siap untuk disemai. 

Sebagai linto baro, kehadirannya di sawah bukan hanya bekerja, tetapi juga membawa nama baik keluarga. Ada semangat, ada harga diri, dan ada doa yang mengiringi setiap langkahnya di lumpur sawah. Sebuah kabar yang bagi sebagian orang mungkin sederhana, tetapi bagi keluarga kami, itu berarti satu hal, aku harus menyiapkan eungkhui-kueengkhui.

Di kampungku, setiap kali linto baro turun ke sawah untuk menyemai benih padi, dara baro lazim menyiapkan makanan khas ini. Eungkhui bukan sekadar penganan dari pisang dan tepung ketan. Ia adalah tanda syukur, doa yang dibungkus kelapa parut, dan jejak adat yang diwariskan turun-temurun.

Malamnya aku telah menyiapkan bahan, pisang yang sudah masak, tepung ketan, gula, dan kelapa. Dapur kayu membuat segalanya sedikit lebih repot. Api harus dijaga, kayu harus disusun rapi agar bara tak cepat padam. Setelah nasi tanak di periuk dan lauk sederhana—telur dadar serta asam kacang kesukaan keluarga—siap tersaji, aku pun mulai meracik adonan eungkhui.

Mamakku yang telah memasuki usia senja duduk memperhatikan. Senyumnya teduh, matanya menyimpan pengalaman panjang sebagai perempuan kampung yang setia menjaga adat. Sesekali ia berpetuah, seperti pagi-pagi sebelumnya.

“Kita perempuan, apa pun pekerjaan kita, tetap harus bangun pagi untuk menjemput rezeki. Malaikat bertebaran membagi rezeki di waktu pagi. Banyak keberkahan di sana.”

Petuah itu sederhana, tetapi selalu menemukan tempatnya di hati.

“Gimana bahan-bahannya, sudah siap semua?” tanyanya.

“Iya, Mak.”

“Kajeut ku u aju.” (sudah bisa kukur kelapa)

“Get, Mak.” (baik Mak)

Baca Juga

Evening street scene with people socializing

Aceh Mengaji Masihkah Menjadi Tradisi?

Maret 23, 2026
Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?

Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?

Maret 22, 2026
Banjir Hidrometeorologi yang Menyisakan Kesengsaraan Panjang

Banjir Hidrometeorologi yang Menyisakan Kesengsaraan Panjang

Maret 22, 2026

Dengan cekatan mamak mengupas pisang, menghancurkannya menggunakan gelas hingga lembut. Tepung ketan, gula, dan sedikit garam ditambahkan. Adonan diaduk perlahan, penuh ketelatenan. Aku menyiapkan dandang pengukus, mengikuti setiap arahan seperti murid yang tak ingin tertinggal satu pelajaran pun.

Adonan dibentuk bulatan sebesar bola pimpong, lalu dipipihkan. Setiap lapisan di saringan dandang dipisahkan dengan kelapa parut agar tak lengket. Kami bekerja tanpa banyak kata. Ada bahasa yang tak terucap di antara kami. Bahasa perempuan yang tahu bahwa menjaga dapur berarti menjaga banyak hal—keluarga, doa, dan marwah serta tradisi leluhur.

Sementara eungkhui masih di atas dapur, aku menyiapkan kopi dan teh untuk sekitar sepuluh orang. Di sawah nanti, para lelaki akan bekerja bersama. Menyemai benih tak pernah dilakukan sendiri. Ada gotong royong, ada tawa, ada cerita yang mengalir di antara lumpur dan harapan.

Ketika matang, eungkhui disusun dalam rantang yang sudah dialasi daun pisang di setiap tingkatnya. Aromanya hangat, berpadu wangi kelapa dan pisang yang manis alami. Aku membawa rantang itu bersama kopi, gelas, dan beberapa lembar daun pisang untuk alas makan.

Tak lama kemudian, Bang Fadhlul berangkat ke sawah. Dari halaman rumah, aku membayangkan ia menebar benih dengan hati riang, dibantu para tetangga. Benih-benih itu akan tumbuh perlahan, seperti doa-doa yang tak pernah putus kami panjatkan.

ADVERTISEMENT

Tradisi menyemai benih dengan eungkhui memang kian jarang dijumpai. Modernisasi pelan-pelan menggeser banyak kebiasaan lama. Makanan praktis menggantikan kudapan tradisi. Gotong royong mulai disibukkan urusan masing-masing. Namun, di keluarga kami, eungkhui masih dipertahankan.

Sebab kami percaya, adat bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengikat identitas. Seperti pepatah Aceh yang kerap diulang orang tua, “Gadoh aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat ta mita.” Hilang anak ada kuburannya, hilang adat ke mana hendak dicari.

Di tengah perubahan zaman, mungkin yang bisa kita jaga bukan hanya hasil panen, tetapi juga cara kita menanamnya. Di situlah adat menemukan maknanya. Kesediaan untuk terus merawat peninggalan kebiasaan tetua. Berharap hari ini masih ada penerus yang mau belajar dan mempertahankan warisan ini.

Gampong Langga, Februari 2026

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 250x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 141x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 131x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077
Antologi Puisi

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322
# Ironi

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
Next Post
Gerakan Self Love, Disiplin Diri Sebagai Benteng Kehidupan

Gerakan Self Love, Disiplin Diri Sebagai Benteng Kehidupan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com