The End of Ideology (1960) karya Daniel Bell bukan sekadar buku politik; ia adalah otopsi atas fanatisme ideologis abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bell tidak mengatakan bahwa “ide sudah mati”, melainkan bahwa ideologi besar yang total, utopis, dan revolusioner telah kehilangan daya pikatnya di masyarakat industri maju. Dari sana, kita bisa menarik nilai-nilai moral dan sosial yang mendasarinya.
Lalu bagaimana relevansi buku tersebut dengan situasi geopolitik hari ini? Simak ulasan singkatnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 259x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 205x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 148x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 135x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.














