POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh Pascadamai: Mengapa Ingatan Kolektif Tak Pernah Benar-Benar Usai

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
January 1, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman,

Pemerhati Perdamaian Aceh

Di hari-hari setelah banjir bandang, Aceh tidak hanya membersihkan lumpur dari rumah-rumahnya. Ia juga sedang membersihkan sesuatu yang jauh lebih berat: perasaan ditinggalkan. Genangan air menyisakan bau, trauma, dan pertanyaan. Di layar ponsel, potongan video beredar cepat—rumah hanyut, jembatan putus, tangis warga—lalu disusul perdebatan lama yang kembali muncul: tentang keadilan, tentang sejarah, tentang negara.

Bencana memang selalu membawa luka. Namun penting dicatat, bencana kali ini tidak sama dengan yang pernah dialami Aceh sebelum damai.

Gempa dan tsunami 2004 adalah tragedi kemanusiaan global. Ia merupakan fenomena alam, takdir ilahi, yang tidak dapat disematkan kesalahan pada siapa pun. Dunia datang membantu, negara membuka diri, dan Aceh menjadi ruang solidaritas internasional. Dalam tragedi itu, manusia bersatu menghadapi alam.

Banjir bandang hari ini berbeda.
Ia bukan sekadar bencana alam, tetapi bencana ekologis buatan manusia.

Hutan yang selama ratusan tahun menjadi penyangga Aceh telah rusak secara sistematis. Alih fungsi kawasan hutan menjadi kebun sawit, pembalakan liar, perambahan yang dilindungi kekuasaan, hingga eksploitasi sumber daya alam—emas, nikel, dan komoditas lainnya—telah mengoyak keseimbangan ekologi. Ini bukan rahasia. Ini kenyataan yang terlihat, tercium, dan kini menghantam rakyat biasa.

Lebih menyakitkan lagi, kerusakan ini tidak terjadi di ruang gelap tanpa negara. Ia berlangsung melalui izin, pembiaran, dan tata kelola yang amburadul. Negara, dalam banyak kasus, bukan hanya gagal mencegah, tetapi ikut memperparah dengan memberikan mandat kepada korporasi, sambil aparat di daerah menutup mata—atau terlibat langsung.

Ketika hutan dirusak, alam mencatat.
Ketika air datang, rakyat yang membayar.

Masyarakat Aceh yang menjadi korban banjir bukanlah mereka yang menikmati kayu, sawit, atau mineral. Mereka tidak pernah duduk di meja izin. Mereka hanya hidup di hilir kebijakan yang mereka tidak pahami, lalu menanggung akibatnya. Dan ketika bencana tiba, mereka kembali merasakan satu perasaan lama: diabaikan.

Di sinilah ingatan kolektif Aceh bekerja.

Aceh memang telah berdamai secara politik sejak MoU Helsinki. Senjata diturunkan, konflik bersenjata dihentikan. Tetapi damai administratif tidak otomatis menutup luka sosial dan ekologis. Apalagi ketika ketidakadilan baru terus bermunculan dalam wajah yang berbeda.

📚 Artikel Terkait

Hitam Putih

Pinto Janir, Sastrawan Multitalenta Meraih Penghargaan SatuPena

TUGAIH MEURUNOE DI RUMOH (PR)

Abu Kruet Lintang; Ulama Kharismatik Aceh yang Istiqamah dan Prinsipil

Hari ini, Aceh dihuni oleh setidaknya tiga generasi dengan pengalaman sejarah yang tidak sama. Pertama, generasi yang hidup dan menderita langsung di masa konflik. Kedua, generasi yang saat damai ditandatangani masih anak-anak—usia sekolah dasar—yang tidak pernah benar-benar memahami apa itu konflik, apa itu damai, dan apa yang sebenarnya diselesaikan. Ketiga, generasi yang lahir sepenuhnya setelah MoU Helsinki, yang tidak memiliki memori personal tentang perang, tetapi tumbuh di tengah narasi yang tidak pernah selesai.

Generasi kedua dan ketiga inilah yang sering disalahpahami.

Mereka tidak mewarisi pengalaman konflik, tetapi mewarisi cerita yang terpotong-potong. Mereka mendengar bisikan di rumah, melihat simbol, menyaksikan sikap hati-hati orang dewasa, dan membaca ulang sejarah melalui media sosial. Algoritma tidak menawarkan rekonsiliasi. Ia hanya menyodorkan emosi yang berulang.

Ketika banjir bandang terjadi akibat kerusakan hutan, lalu bantuan terasa lambat, dan ruang internasional kembali dibatasi, generasi ini mulai menghubungkan titik-titik. Bukan untuk memberontak, melainkan untuk memahami: mengapa penderitaan selalu jatuh ke tempat yang sama?

Sayangnya, negara sering membaca pertanyaan ini sebagai ancaman.

Setiap ekspresi ingatan dicurigai. Setiap simbol dibaca sebagai niat politik. Aparat bersiaga seolah-olah bencana akan otomatis melahirkan perlawanan. Padahal, yang sedang tumbuh bukanlah agenda konflik, melainkan kekecewaan ekologis dan sosial yang tidak pernah diberi ruang penyelesaian.

Islam pun kembali diseret ke dalam pembacaan yang sempit. Padahal dalam konteks Aceh, Islam lebih berfungsi sebagai bahasa moral dan ruang perawatan luka, bukan sebagai ideologi perlawanan. Di meunasah dan dayah, orang Aceh berbicara tentang musibah, keadilan, dan amanah—nilai-nilai yang justru relevan dengan krisis ekologis hari ini.

Namun tulisan ini juga tidak menutup mata terhadap problem internal Aceh. Ada elite lokal yang memanfaatkan ambigu sejarah. Ada aktor yang terus mengulang bahasa konflik lama tanpa kepekaan terhadap konteks generasi baru. Ingatan kolektif bisa menjadi energi moral, tetapi juga bisa menjadi alat manipulasi jika dibiarkan tanpa arah.

Kepada negara Indonesia, tulisan ini adalah seruan koreksi. Menjaga kedaulatan tidak cukup dengan mengirim aparat. Negara harus hadir dalam tata kelola hutan yang adil, transparan, dan berpihak pada rakyat. Jika negara ikut memberi izin yang merusak ekologi, maka negara pula yang bertanggung jawab ketika bencana datang.

Membatasi bantuan internasional di tengah penderitaan ekologis yang nyata hanya akan memperkuat rasa ketidakadilan. Ini bukan soal kedaulatan semata, tetapi soal kemanusiaan.

Kepada TNI dan aparat keamanan, Aceh tidak sedang mencari musuh. Aceh sedang mencari keadilan ekologis dan pengakuan atas penderitaan warganya. Pendekatan yang terlalu keras justru berisiko memperdalam jarak psikologis dengan generasi muda yang tidak pernah mengenal konflik.

Bagi masyarakat Aceh sendiri, tantangan terbesar adalah menjaga agar ingatan tidak berubah menjadi kemarahan yang diwariskan. Generasi yang lahir setelah damai tidak membutuhkan romantisasi masa lalu. Mereka membutuhkan kejujuran sejarah, keadilan hari ini, dan harapan masa depan.

Aceh hari ini berdiri di antara dua realitas: damai yang menyelamatkan nyawa, dan bencana ekologis yang membuka kembali luka lama. Jika perdamaian ingin bertahan, maka keadilan lingkungan tidak boleh diabaikan.

Karena ingatan yang diabaikan tidak pernah mati.
Ia hanya tumbuh diam-diam, menunggu bencana berikutnya untuk kembali bicara.


Dayan Abdurrahman –
Pemerhati Perdamaian Aceh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 54x dibaca (7 hari)
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar
9 Feb 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
197
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Jangan Salahkan Hujan

Jangan Salahkan Hujan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00