POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
February 11, 2026
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Banyak followers ngeluh, tulisan saya tak ada yang menyenangkan. Korupsi mulu, utang negara, mental pejabat. Sekali-kali yang menyenangkanlah. Siap. Kali ini saya mau mengenang seniman Melayu yang selalu hidup dengan karya-karya monumentalnya. Simak narasinya sambil seruput kopi sedikit gula aren, wak!

Namanya Tan Sri Dr P Ramlee. Nama lahirnya panjang dan gagah, Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh. Bukan sekadar seniman. Dia itu paket lengkap edisi langka, “all in one” sebelum istilah multitasking jadi kebanggaan LinkedIn. Lahir 22 Maret 1929 di Sungai Pinang, George Town, Penang, saat tanah itu masih bernama Straits Settlements di bawah British Malaya. Ayahnya pelaut asal Aceh, ibunya orang Penang. Darah perantau, jiwa seni, nasibnya? Ditakdirkan jadi legenda.

Masa kecilnya bukan diisi main PlayStation, tapi main musik. Bahkan saat pendudukan Jepang, ketika hidup sedang pahit-pahitnya, ia sudah tampil di band-band lokal Penang. Anak muda lain mungkin sibuk bertahan hidup, dia sibuk mengasah nada. Seolah Tuhan berbisik, “Kau bukan cuma lahir, Ramlee. Kau akan mengguncang layar.”

Tahun 1945 ia masuk dunia hiburan sebagai penyanyi dan musisi. Tahun 1948 pindah ke Singapura, gabung Malay Film Productions (Shaw Brothers) di Jalan Ampas. Dari situ, sejarah Melayu modern mulai ditulis dengan kamera dan gitar. Nama panggung “P. Ramlee” diambil dari “Puteh” nama ayahnya. Hormat pada akar, lalu melesat ke langit.

Tahun 1950-an sampai 1960-an? Itu zamannya P. Ramlee merajai layar. Ia bukan cuma aktor. Ia sutradara. Ia penulis skenario. Ia komposer. Ia fenomena. Total lebih dari 66 film dibintangi, 35 film disutradarai, dan sekitar 350 lagu dikomposisi. Itu bukan CV, itu kitab suci perfilman Melayu.

Sebut saja Pendekar Bujang Lapok (1959), Do Re Mi, Tiga Abdul (1964), Hang Tuah (1956), Ibu Mertuaku (1962), Antara Dua Darjat (1960), Labu dan Labi (1962), Madu Tiga (1964), sampai Penarek Becha (1955). Komedi? Ada. Drama? Banjir. Kritik sosial? Halus tapi menusuk. Isu kemiskinan, cinta beda kelas, nilai tradisional, semua dibungkus tawa dan air mata. Dia bikin orang ketawa, lalu tiba-tiba sadar hidup ini getir.

📚 Artikel Terkait

T.A. Sakti, PRIA DI TUMPUKAN HIKAYAT

Tragedi Minyak Goreng Di Negeri Indatu

Di Depan Pintu yang Tak Pernah Terbuka

Juwita yang Pergi dalam Sunyi

Di dunia musik, jangan ditanya. “Getaran Jiwa” saja sudah cukup bikin generasi tua mendadak melamun ke masa muda. “Dendang Perantau”, “Engkau Laksana Bulan”, “Joget Pahang”, “Di Mana Kan Ku Cari Ganti”, “Azizah”, “Bunyi Guitar” itu bukan lagu, itu memori kolektif Asia Tenggara. Tahun 1956, ia menang Best Musical Score di Asia-Pacific Film Festival untuk Hang Tuah. Internasional, wak. Bukan kaleng-kaleng.

Kehidupan pribadinya? Penuh warna. Tiga kali menikah dengan Junaidah Daeng Harris, Noorizan Mohd Noor, lalu Saloma pada 1961. Bersama Saloma, ia jadi pasangan ikonik. Namun seperti banyak legenda, hidup tak selalu ramah. Setelah pindah ke Kuala Lumpur tahun 1964 dan bergabung dengan Merdeka Film Productions, badai finansial datang. Kariernya meredup. Dunia hiburan berubah. Zaman berganti.

Pada 29 Mei 1973, usia baru 44 tahun, serangan jantung di Setapak, Kuala Lumpur, menutup tirai hidupnya. Terlalu cepat. Terlalu muda. Seperti bintang yang meledak sebelum waktunya.

Tapi legenda tidak mati. Gelar Tan Sri ia terima pada 1965. Ia diakui sebagai “Bapa Dunia Filem Melayu.” Film-filmnya tetap tayang tiap Lebaran. YouTube penuh wajahnya. Lagu-lagunya masih diputar di radio tua sampai Spotify modern.

Ada orang terkenal karena viral. Ada orang abadi karena karya. P. Ramlee? Ia tak sekadar hidup dalam sejarah. Ia adalah sejarah itu sendiri.

“Bang, kenapa lagu Madu Tiga ciptaan beliau terkenal di kita ya?”

“Ahmad Dhani ada meng-cover lagu beliau. Itu sebabnya terkenal dan banyak terinspirasi.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 136x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 116x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 92x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 88x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 76x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
194
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
92
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Mengapa Meulaboh Begitu Menghormati Teuku Umar Johan Pahlawan?

Mengapa Meulaboh Begitu Menghormati Teuku Umar Johan Pahlawan?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00