• Latest
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup

Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup

Februari 11, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Februari 11, 2026
Reading Time: 3 mins read
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Banyak followers ngeluh, tulisan saya tak ada yang menyenangkan. Korupsi mulu, utang negara, mental pejabat. Sekali-kali yang menyenangkanlah. Siap. Kali ini saya mau mengenang seniman Melayu yang selalu hidup dengan karya-karya monumentalnya. Simak narasinya sambil seruput kopi sedikit gula aren, wak!

Namanya Tan Sri Dr P Ramlee. Nama lahirnya panjang dan gagah, Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh. Bukan sekadar seniman. Dia itu paket lengkap edisi langka, “all in one” sebelum istilah multitasking jadi kebanggaan LinkedIn. Lahir 22 Maret 1929 di Sungai Pinang, George Town, Penang, saat tanah itu masih bernama Straits Settlements di bawah British Malaya. Ayahnya pelaut asal Aceh, ibunya orang Penang. Darah perantau, jiwa seni, nasibnya? Ditakdirkan jadi legenda.

Masa kecilnya bukan diisi main PlayStation, tapi main musik. Bahkan saat pendudukan Jepang, ketika hidup sedang pahit-pahitnya, ia sudah tampil di band-band lokal Penang. Anak muda lain mungkin sibuk bertahan hidup, dia sibuk mengasah nada. Seolah Tuhan berbisik, “Kau bukan cuma lahir, Ramlee. Kau akan mengguncang layar.”

Tahun 1945 ia masuk dunia hiburan sebagai penyanyi dan musisi. Tahun 1948 pindah ke Singapura, gabung Malay Film Productions (Shaw Brothers) di Jalan Ampas. Dari situ, sejarah Melayu modern mulai ditulis dengan kamera dan gitar. Nama panggung “P. Ramlee” diambil dari “Puteh” nama ayahnya. Hormat pada akar, lalu melesat ke langit.

Tahun 1950-an sampai 1960-an? Itu zamannya P. Ramlee merajai layar. Ia bukan cuma aktor. Ia sutradara. Ia penulis skenario. Ia komposer. Ia fenomena. Total lebih dari 66 film dibintangi, 35 film disutradarai, dan sekitar 350 lagu dikomposisi. Itu bukan CV, itu kitab suci perfilman Melayu.

Sebut saja Pendekar Bujang Lapok (1959), Do Re Mi, Tiga Abdul (1964), Hang Tuah (1956), Ibu Mertuaku (1962), Antara Dua Darjat (1960), Labu dan Labi (1962), Madu Tiga (1964), sampai Penarek Becha (1955). Komedi? Ada. Drama? Banjir. Kritik sosial? Halus tapi menusuk. Isu kemiskinan, cinta beda kelas, nilai tradisional, semua dibungkus tawa dan air mata. Dia bikin orang ketawa, lalu tiba-tiba sadar hidup ini getir.

Di dunia musik, jangan ditanya. “Getaran Jiwa” saja sudah cukup bikin generasi tua mendadak melamun ke masa muda. “Dendang Perantau”, “Engkau Laksana Bulan”, “Joget Pahang”, “Di Mana Kan Ku Cari Ganti”, “Azizah”, “Bunyi Guitar” itu bukan lagu, itu memori kolektif Asia Tenggara. Tahun 1956, ia menang Best Musical Score di Asia-Pacific Film Festival untuk Hang Tuah. Internasional, wak. Bukan kaleng-kaleng.

Kehidupan pribadinya? Penuh warna. Tiga kali menikah dengan Junaidah Daeng Harris, Noorizan Mohd Noor, lalu Saloma pada 1961. Bersama Saloma, ia jadi pasangan ikonik. Namun seperti banyak legenda, hidup tak selalu ramah. Setelah pindah ke Kuala Lumpur tahun 1964 dan bergabung dengan Merdeka Film Productions, badai finansial datang. Kariernya meredup. Dunia hiburan berubah. Zaman berganti.

Pada 29 Mei 1973, usia baru 44 tahun, serangan jantung di Setapak, Kuala Lumpur, menutup tirai hidupnya. Terlalu cepat. Terlalu muda. Seperti bintang yang meledak sebelum waktunya.

Baca Juga

96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
Membaca Bencana Dari Kanvas Digital

Membaca Bencana Dari Kanvas Digital

Maret 1, 2026
Apa Kabar Pelukis Indonesia

Apa Kabar Pelukis Indonesia

Maret 18, 2026

Tapi legenda tidak mati. Gelar Tan Sri ia terima pada 1965. Ia diakui sebagai “Bapa Dunia Filem Melayu.” Film-filmnya tetap tayang tiap Lebaran. YouTube penuh wajahnya. Lagu-lagunya masih diputar di radio tua sampai Spotify modern.

Ada orang terkenal karena viral. Ada orang abadi karena karya. P. Ramlee? Ia tak sekadar hidup dalam sejarah. Ia adalah sejarah itu sendiri.

“Bang, kenapa lagu Madu Tiga ciptaan beliau terkenal di kita ya?”

“Ahmad Dhani ada meng-cover lagu beliau. Itu sebabnya terkenal dan banyak terinspirasi.” Ups

ADVERTISEMENT

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Mengapa Meulaboh Begitu Menghormati Teuku Umar Johan Pahlawan?

Mengapa Meulaboh Begitu Menghormati Teuku Umar Johan Pahlawan?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com