• Latest
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup - 9e121d66 0ad0 4850 9bd0 71a6fdf78f88 | Malaysia | Potret Online

Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup

Februari 11, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup - 1001348646_11zon | Malaysia | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup - 1001353319_11zon | Malaysia | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup - 1001361361_11zon | Malaysia | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Februari 11, 2026
in Malaysia, Pemuisi Malaysia, seni, Seniman
Reading Time: 3 mins read
0
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup - 9e121d66 0ad0 4850 9bd0 71a6fdf78f88 | Malaysia | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Banyak followers ngeluh, tulisan saya tak ada yang menyenangkan. Korupsi mulu, utang negara, mental pejabat. Sekali-kali yang menyenangkanlah. Siap. Kali ini saya mau mengenang seniman Melayu yang selalu hidup dengan karya-karya monumentalnya. Simak narasinya sambil seruput kopi sedikit gula aren, wak!

Namanya Tan Sri Dr P Ramlee. Nama lahirnya panjang dan gagah, Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh. Bukan sekadar seniman. Dia itu paket lengkap edisi langka, “all in one” sebelum istilah multitasking jadi kebanggaan LinkedIn. Lahir 22 Maret 1929 di Sungai Pinang, George Town, Penang, saat tanah itu masih bernama Straits Settlements di bawah British Malaya. Ayahnya pelaut asal Aceh, ibunya orang Penang. Darah perantau, jiwa seni, nasibnya? Ditakdirkan jadi legenda.

Baca Juga
  • Senerai Puisi Zaleha Mat Ail
  • Pelukis Kaligrafi Cina Muslim Malaysia akan Meriahkan Pameran IMLF Dua di Padang

Masa kecilnya bukan diisi main PlayStation, tapi main musik. Bahkan saat pendudukan Jepang, ketika hidup sedang pahit-pahitnya, ia sudah tampil di band-band lokal Penang. Anak muda lain mungkin sibuk bertahan hidup, dia sibuk mengasah nada. Seolah Tuhan berbisik, “Kau bukan cuma lahir, Ramlee. Kau akan mengguncang layar.”

Tahun 1945 ia masuk dunia hiburan sebagai penyanyi dan musisi. Tahun 1948 pindah ke Singapura, gabung Malay Film Productions (Shaw Brothers) di Jalan Ampas. Dari situ, sejarah Melayu modern mulai ditulis dengan kamera dan gitar. Nama panggung “P. Ramlee” diambil dari “Puteh” nama ayahnya. Hormat pada akar, lalu melesat ke langit.

Baca Juga
  • PROSES KREATIF TEATER TERLIHAT MUDAH
  • “ Bekas Luka” Garapan Solehah Hasanah Mencabik-cabik Batin Penonton Teater di Gedung Hoerijah Adam ISI Padang Panjang

Tahun 1950-an sampai 1960-an? Itu zamannya P. Ramlee merajai layar. Ia bukan cuma aktor. Ia sutradara. Ia penulis skenario. Ia komposer. Ia fenomena. Total lebih dari 66 film dibintangi, 35 film disutradarai, dan sekitar 350 lagu dikomposisi. Itu bukan CV, itu kitab suci perfilman Melayu.

Sebut saja Pendekar Bujang Lapok (1959), Do Re Mi, Tiga Abdul (1964), Hang Tuah (1956), Ibu Mertuaku (1962), Antara Dua Darjat (1960), Labu dan Labi (1962), Madu Tiga (1964), sampai Penarek Becha (1955). Komedi? Ada. Drama? Banjir. Kritik sosial? Halus tapi menusuk. Isu kemiskinan, cinta beda kelas, nilai tradisional, semua dibungkus tawa dan air mata. Dia bikin orang ketawa, lalu tiba-tiba sadar hidup ini getir.

Baca Juga
  • Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan
  • Malaysia Hebat, Raih Dua Gelar di Thailand Open

Di dunia musik, jangan ditanya. “Getaran Jiwa” saja sudah cukup bikin generasi tua mendadak melamun ke masa muda. “Dendang Perantau”, “Engkau Laksana Bulan”, “Joget Pahang”, “Di Mana Kan Ku Cari Ganti”, “Azizah”, “Bunyi Guitar” itu bukan lagu, itu memori kolektif Asia Tenggara. Tahun 1956, ia menang Best Musical Score di Asia-Pacific Film Festival untuk Hang Tuah. Internasional, wak. Bukan kaleng-kaleng.

Kehidupan pribadinya? Penuh warna. Tiga kali menikah dengan Junaidah Daeng Harris, Noorizan Mohd Noor, lalu Saloma pada 1961. Bersama Saloma, ia jadi pasangan ikonik. Namun seperti banyak legenda, hidup tak selalu ramah. Setelah pindah ke Kuala Lumpur tahun 1964 dan bergabung dengan Merdeka Film Productions, badai finansial datang. Kariernya meredup. Dunia hiburan berubah. Zaman berganti.

Pada 29 Mei 1973, usia baru 44 tahun, serangan jantung di Setapak, Kuala Lumpur, menutup tirai hidupnya. Terlalu cepat. Terlalu muda. Seperti bintang yang meledak sebelum waktunya.

Tapi legenda tidak mati. Gelar Tan Sri ia terima pada 1965. Ia diakui sebagai “Bapa Dunia Filem Melayu.” Film-filmnya tetap tayang tiap Lebaran. YouTube penuh wajahnya. Lagu-lagunya masih diputar di radio tua sampai Spotify modern.

Ada orang terkenal karena viral. Ada orang abadi karena karya. P. Ramlee? Ia tak sekadar hidup dalam sejarah. Ia adalah sejarah itu sendiri.

“Bang, kenapa lagu Madu Tiga ciptaan beliau terkenal di kita ya?”

“Ahmad Dhani ada meng-cover lagu beliau. Itu sebabnya terkenal dan banyak terinspirasi.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Mengenang P. Ramlee, Seniman Melayu yang Selalu Hidup - 2cc0dcdb 5c9a 41e0 9401 1538375c2a74 | Malaysia | Potret Online

Mengapa Meulaboh Begitu Menghormati Teuku Umar Johan Pahlawan?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com