Ia Aceh, lahir dari tanah yang tak suka tunduk. Langkahnya ditempa ombak dan doa panjang. Ia diam bukan karena takut, melainkan sedang menakar kata yang jujur. Lukanya tak dipamerkan, tapi dijadikan arah. Ia tahu adat bukan penutup salah, dan agama bukan alat membenarkan kuasa. Suaranya mungkin satu, namun nuraninya berjamaah. Saat banyak memilih aman, ia Aceh—memilih benar.