POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

24 Tahun Jadi Gen Rahasia, Denada Akui Ressa Anaknya

RedaksiOleh Redaksi
February 2, 2026
24 Tahun Jadi Gen Rahasia, Denada Akui Ressa Anaknya
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Banyak pasangan suami istri tak punya anak. Segala cara ia usahakan demi mendapatkan momongan. Begitu hamil, apa lagi lahiran, ia umumkan ke publik. Berbeda dengan Denada, ia punya anak justru dirahasiakan ke khalayak. Akhirnya, rahasia itu terbongkar oleh pengakuannya sendiri. Simak narasinya sambil seruput Koptagul lagi, wak!

Kebenaran itu rupanya seperti sel kanker jinak yang terlalu lama disembunyikan. Awalnya kecil, tak terasa, lalu tiba-tiba meledak di layar ponsel jutaan orang. Indonesia pun terperanjat. Denada Tambunan, nama yang selama ini dikenal lewat panggung dan sorotan lampu, akhirnya melakukan operasi terbuka pada rahasia genetisnya sendiri. Tanpa bius, tanpa editan berlebihan. Lewat Instagram, laboratorium paling bising abad ini, ia menyatakan sesuatu yang membuat gosip kolaps seperti jaringan tubuh kehabisan oksigen. Ressa Rizky Rosano adalah anak kandungnya.

Pengakuan itu jatuh seperti hasil tes DNA yang dibacakan di ruang publik. Tidak bisa ditawar, tidak bisa diedit. “Saya Denada Tambunan menyatakan, Ressa Rosano adalah anak kandung saya,” ucapnya dengan suara bergetar, Senin 2 Februari 2026. Kalimat itu bekerja seperti impuls listrik pada sistem saraf netizen. Otak publik mendadak aktif, empati dan amarah bereaksi bersamaan. Sementara jari-jari sibuk mengetik vonis moral secepat refleks lutut.

Denada tampil sederhana. Tapi, kesedihannya berlapis-lapis seperti jaringan epitel yang pernah terluka berulang kali. Ia mengakui, Ressa, pemuda 24 tahun asal Banyuwangi, tidak tumbuh dalam dekapan biologis yang semestinya. Alasannya bukan drama sinetron, melainkan faktor internal. Kondisi psikis yang saat itu tidak layak untuk menjalankan fungsi keibuan. Dalam bahasa biologi, ia seperti organ vital yang sedang gagal fungsi, ada, tapi tak mampu bekerja. “Itu kesalahan saya, itu kebodohan saya, itu kekhilafan saya,” katanya, seolah sedang membedah dirinya sendiri di depan cermin yang tak bisa ditutup lagi.

Pengakuan ini sekaligus mengonfirmasi dugaan lama bahwa identitas Ressa disembunyikan seperti gen resesif, ada, tapi ditekan agar tak muncul ke permukaan. Selama 24 tahun, Ressa tumbuh di Banyuwangi, diasuh kerabat. Sementara pengakuan hanya beredar sebagai rumor dalam bentuk bisik-bisik dan spekulasi liar. Hingga akhirnya, tubuh hukum bereaksi. Pada November 2025, Ressa mengajukan gugatan perdata sebesar Rp7 miliar ke Pengadilan Negeri Banyuwangi atas dugaan penelantaran anak. Gugatan itu seperti sinyal inflamasi, menyakitkan, tapi menandakan ada luka serius yang tak bisa lagi diabaikan.

📚 Artikel Terkait

SPPI Tandatangani Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Perlindungan Awak Kapal Perikanan di Taiwan

Kaos Pertama, Langkah Awal yang Tak Terlupakan

Surat Terpendam

Ketika Dunia Bersiap Perang, Indonesia Bersiap dengan Meme dan Joget

Kuasa hukum Denada sempat menyatakan, biaya hidup dan pendidikan rutin dikirim. Namun Ressa menolak direduksi menjadi angka transfer. Yang ia tuntut bukan nutrisi finansial, melainkan pengakuan identitas, status hukum dan moral yang selama ini kosong seperti kromosom yang hilang. Maka ketika Denada akhirnya bicara, publik menyaksikan proses metabolisme emosional yang telat tapi tak terhindarkan.

Denada memohon maaf kepada Ressa, kepada mendiang ibunya Emilia Contessa, kepada adik-adiknya. Ia berharap pintu maaf masih terbuka, meski ia sadar waktu bukan obat yang selalu manjur. Sementara itu, satu variabel biologis masih mengambang, ayah kandung Ressa. Identitasnya tetap misteri, memicu spekulasi seperti mutasi liar di laboratorium netizen. Nama-nama muncul, dicocokkan lewat wajah, lalu gugur satu per satu sebagai cocoklogi murahan.

Drama ini bukan sekadar gosip artis. Ini kisah tentang darah, gen, dan pengakuan yang tertunda. Tentang seorang ibu yang akhirnya berani membaca hasil uji hidupnya sendiri, dan seorang anak yang sejak lama menunggu namanya diakui secara sah. Di negeri ini, kebenaran memang sering datang terlambat, tapi ketika ia datang, ia datang dengan suara keras, seperti detak jantung yang akhirnya kembali terdengar.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 61x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 59x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
148
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00