POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Februari 2, 2026
in Aceh, Lingkungan, Syariat Islam
0
Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | Aceh | Potret Online

Oleh Dayan Abdurrahman

Aceh dikenal sebagai negeri syariat. Identitas keislaman hadir kuat dalam simbol, regulasi, dan ruang sosial. Namun di balik wajah religius itu, bentang ekologinya justru menyimpan luka: hutan menyusut, sungai tercemar, ruang hidup menyempit. Pertanyaan mendasarnya bukan tentang iman, melainkan fungsi iman dalam menyelamatkan kehidupan.

Padahal tujuan keimanan adalah keselamatan dunia dan akhirat. Ketika ekologi rusak, keselamatan dunia runtuh—banjir bandang, longsor, kebakaran hutan, rusaknya sumber air, terputusnya jaringan rezeki, usaha terhambat, dan perlahan matinya kehidupan. Keselamatan akhirat tidak mungkin dibayangkan berdiri di atas dunia yang hancur.

Baca Juga
Aceh
Musim Sepeda (Jangan) Berakhir?
24 Jun 2021

Iman yang Tinggal di Kesadaran

Masalah Aceh bukan kekurangan iman, melainkan iman yang berhenti sebagai kesadaran personal. Ia hidup di tutur dan ritus, tetapi jarang menjelma menjadi sistem pengelolaan kehidupan. Kita tahu merusak alam itu salah, namun pengetahuan moral itu tidak berubah menjadi tata ruang yang adil atau kebijakan ekologis yang tegas.

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | Aceh | Potret Online
Baca Juga
#Ulama Kharismatik Aceh
Senja Kala Kesultanan Aceh
24 Jun 2025

Iman kalah bukan karena nilai, tetapi karena tidak diberi bentuk struktural. Syariat Simbolik dan Keselamatan yang Tereduksi

Syariat di Aceh kuat sebagai identitas, tetapi lemah sebagai arsitektur perlindungan hidup. Ia mengatur tubuh dan perilaku privat, namun jarang hadir dalam perencanaan ruang, izin ekstraksi, dan kebijakan lingkungan. Padahal maqashid syariah adalah menjaga kehidupan, dan ekologi adalah ruang paling konkret dari tujuan itu.

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam - 64be5061 5e44 46a5 be36 17274eec2493 | Aceh | Potret Online
Baca Juga
Aceh
Banjir Aceh Luka Kolektif setelah Bangkit dari Tsunami
11 Des 2025

Ketika hutan rusak dan sungai mati, yang runtuh bukan hanya alam, tetapi keselamatan sosial dan ekonomi rakyat.

Pendidikan Saleh, Negara Tanpa Jembatan

Dayah melahirkan ulama, kampus melahirkan sarjana. Namun negara sering memperlakukan keduanya secara terpisah. Ulama diposisikan di pinggir kekuasaan—hadir sebagai pembaca doa dalam seremoni, sementara keputusan strategis diambil sepenuhnya oleh teknokrat dan elite politik.

Inilah dikotomi yang keliru. Ulama dan sarjana seharusnya sejajar, seimbang, dan saling melengkapi, bukan berjalan di jalur masing-masing. Ketika ulama tidak dilibatkan dalam perumusan kebijakan, syariat kehilangan daya operasional. Ketika sarjana berjalan tanpa etika, pembangunan kehilangan arah moral.

Akibatnya, lahir kebijakan yang sah secara administratif, tetapi rapuh secara etik dan ekologis.

Dikotomi yang Melemahkan

Relasi ulama dan pemerintah sering kali tidak kooperatif. Ulama menjaga jarak karena khawatir kompromi nilai, pemerintah menjaga jarak karena merasa ulama tidak praktis. Keduanya berjalan sendiri-sendiri, saling mencurigai, dan secara tidak sadar menyingkirkan satu sama lain.

Padahal tujuan pembangunan bukan kemenangan satu pihak, melainkan keselamatan bersama. Pembangunan tidak membutuhkan dominasi, tetapi kolaborasi. Tidak saling mengikat untuk menyingkirkan, melainkan saling mengikat untuk melindungi kehidupan.

Pendidikan Masa Depan dan Rekonstruksi Peran

Di sinilah pendidikan masa depan menjadi kunci. Aceh membutuhkan model pendidikan adaptif yang:

menggabungkan pedagogi modern dan pendidikan Islam,

menguasai bahasa global tanpa kehilangan arah spiritual,

melahirkan manusia utuh—fully human.

Manusia seperti inilah yang mampu duduk di ruang kebijakan dengan dua kecakapan sekaligus: berpikir sistemik dan bernalar etik. Dari sini, ulama tidak lagi hanya berdiri di mimbar, dan sarjana tidak hanya berkutat pada angka, tetapi keduanya bertemu dalam satu meja perencanaan.

Menuju Pemerintahan Kolaboratif

Pemerintahan Aceh ke depan tidak boleh meminggirkan ulama ke ranah simbolik, dan tidak boleh membiarkan sarjana berjalan tanpa kompas moral. Yang dibutuhkan adalah model pemerintahan kolaboratif:

ulama terlibat sejak perumusan kebijakan,

sarjana memastikan kebijakan bekerja secara teknis,

negara menjadi ruang gotong royong nilai dan sistem.

Dengan cara ini, iman tidak lagi sekadar legitimasi, tetapi daya arah.

Penutup

Kerusakan ekologi Aceh bukan kegagalan iman, melainkan kegagalan membangun sinergi. Selama ulama dan sarjana dipisahkan, selama syariat dipersempit menjadi simbol, dan selama pendidikan tidak melahirkan manusia utuh, keselamatan dunia–akhirat akan terus menjadi slogan.

Mungkin sudah waktunya kita membangun Aceh dengan cara baru:
beriman tanpa kehilangan rasionalitas, modern tanpa kehilangan nurani, dan maju tanpa meninggalkan kehidupan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post

Mistral AI Unveils Mixtral 8x22B With Sparse Mixture Design

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah