• Latest
Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | Aceh | Potret Online

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam

Februari 2, 2026
file_000000002df47208a071c131700501d7

Negeri yang Melupakan Guru

April 5, 2026
d3468d72-e059-49eb-aefe-2ca7f03c3796

Antara Panggung dan Substansi: Menguji Kualitas Figur Publik di Era Instan

April 5, 2026
Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam - 0fe24566 6737 42e7 bb3b deda43952a5d | Aceh | Potret Online

Eskalasi Global Dalam Peradaban Umat Manusia

April 5, 2026
IMG_0631

Ketika Kafe Menjadi Kampus Kedua: Membaca Ulang Makna Ruang Belajar

April 5, 2026
ab6ebc5e-f845-41d9-b310-36c4dc691b80

Kisah Abu Qilabah, Sahabat Nabi yang Selalu Sabar dan Bersyukur kepada Allah

April 5, 2026
4050db81-90c4-46cd-b70b-284027b35f86

Membaca: Mitos atau Realitas?

April 4, 2026
5bc08f1c-007e-4829-8f0c-c96e52cb63d4

Trump Bilang “Completely Decimated,” Iran Malah Comeback, Dua Pesawat AS Tumbang Sekaligus!

April 4, 2026
IMG_0624

Oligarki Digital

April 4, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Minggu, April 5, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam - 015d1fa7 a1ec 4be9 88ff 085b6c469014 | Aceh | Potret Online

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Februari 2, 2026
in Aceh, Lingkungan, Syariat Islam
Reading Time: 3 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dayan Abdurrahman

Aceh dikenal sebagai negeri syariat. Identitas keislaman hadir kuat dalam simbol, regulasi, dan ruang sosial. Namun di balik wajah religius itu, bentang ekologinya justru menyimpan luka: hutan menyusut, sungai tercemar, ruang hidup menyempit. Pertanyaan mendasarnya bukan tentang iman, melainkan fungsi iman dalam menyelamatkan kehidupan.

Padahal tujuan keimanan adalah keselamatan dunia dan akhirat. Ketika ekologi rusak, keselamatan dunia runtuh—banjir bandang, longsor, kebakaran hutan, rusaknya sumber air, terputusnya jaringan rezeki, usaha terhambat, dan perlahan matinya kehidupan. Keselamatan akhirat tidak mungkin dibayangkan berdiri di atas dunia yang hancur.

Baca Juga:
  • PASIE RAJA: Pantai Sejarah, Jejak Budaya, dan Asa Masa Depan
  • Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang
  • Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Iman yang Tinggal di Kesadaran

Masalah Aceh bukan kekurangan iman, melainkan iman yang berhenti sebagai kesadaran personal. Ia hidup di tutur dan ritus, tetapi jarang menjelma menjadi sistem pengelolaan kehidupan. Kita tahu merusak alam itu salah, namun pengetahuan moral itu tidak berubah menjadi tata ruang yang adil atau kebijakan ekologis yang tegas.

Iman kalah bukan karena nilai, tetapi karena tidak diberi bentuk struktural. Syariat Simbolik dan Keselamatan yang Tereduksi

Syariat di Aceh kuat sebagai identitas, tetapi lemah sebagai arsitektur perlindungan hidup. Ia mengatur tubuh dan perilaku privat, namun jarang hadir dalam perencanaan ruang, izin ekstraksi, dan kebijakan lingkungan. Padahal maqashid syariah adalah menjaga kehidupan, dan ekologi adalah ruang paling konkret dari tujuan itu.

Ketika hutan rusak dan sungai mati, yang runtuh bukan hanya alam, tetapi keselamatan sosial dan ekonomi rakyat.

Baca Juga

5f114ac8-f417-4582-9a30-a83560144a82

Abrasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Ancaman Lingkungan di Aceh

April 2, 2026
IMG_0580

PASIE RAJA: Pantai Sejarah, Jejak Budaya, dan Asa Masa Depan

April 2, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026

Pendidikan Saleh, Negara Tanpa Jembatan

Dayah melahirkan ulama, kampus melahirkan sarjana. Namun negara sering memperlakukan keduanya secara terpisah. Ulama diposisikan di pinggir kekuasaan—hadir sebagai pembaca doa dalam seremoni, sementara keputusan strategis diambil sepenuhnya oleh teknokrat dan elite politik.

Inilah dikotomi yang keliru. Ulama dan sarjana seharusnya sejajar, seimbang, dan saling melengkapi, bukan berjalan di jalur masing-masing. Ketika ulama tidak dilibatkan dalam perumusan kebijakan, syariat kehilangan daya operasional. Ketika sarjana berjalan tanpa etika, pembangunan kehilangan arah moral.

Akibatnya, lahir kebijakan yang sah secara administratif, tetapi rapuh secara etik dan ekologis.

Dikotomi yang Melemahkan

Relasi ulama dan pemerintah sering kali tidak kooperatif. Ulama menjaga jarak karena khawatir kompromi nilai, pemerintah menjaga jarak karena merasa ulama tidak praktis. Keduanya berjalan sendiri-sendiri, saling mencurigai, dan secara tidak sadar menyingkirkan satu sama lain.

Padahal tujuan pembangunan bukan kemenangan satu pihak, melainkan keselamatan bersama. Pembangunan tidak membutuhkan dominasi, tetapi kolaborasi. Tidak saling mengikat untuk menyingkirkan, melainkan saling mengikat untuk melindungi kehidupan.

Pendidikan Masa Depan dan Rekonstruksi Peran

Di sinilah pendidikan masa depan menjadi kunci. Aceh membutuhkan model pendidikan adaptif yang:

menggabungkan pedagogi modern dan pendidikan Islam,

menguasai bahasa global tanpa kehilangan arah spiritual,

melahirkan manusia utuh—fully human.

Manusia seperti inilah yang mampu duduk di ruang kebijakan dengan dua kecakapan sekaligus: berpikir sistemik dan bernalar etik. Dari sini, ulama tidak lagi hanya berdiri di mimbar, dan sarjana tidak hanya berkutat pada angka, tetapi keduanya bertemu dalam satu meja perencanaan.

Menuju Pemerintahan Kolaboratif

Pemerintahan Aceh ke depan tidak boleh meminggirkan ulama ke ranah simbolik, dan tidak boleh membiarkan sarjana berjalan tanpa kompas moral. Yang dibutuhkan adalah model pemerintahan kolaboratif:

ulama terlibat sejak perumusan kebijakan,

sarjana memastikan kebijakan bekerja secara teknis,

negara menjadi ruang gotong royong nilai dan sistem.

Dengan cara ini, iman tidak lagi sekadar legitimasi, tetapi daya arah.

ADVERTISEMENT

Penutup

Kerusakan ekologi Aceh bukan kegagalan iman, melainkan kegagalan membangun sinergi. Selama ulama dan sarjana dipisahkan, selama syariat dipersempit menjadi simbol, dan selama pendidikan tidak melahirkan manusia utuh, keselamatan dunia–akhirat akan terus menjadi slogan.

Mungkin sudah waktunya kita membangun Aceh dengan cara baru:
beriman tanpa kehilangan rasionalitas, modern tanpa kehilangan nurani, dan maju tanpa meninggalkan kehidupan.

SummarizeShare235Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Related Posts

file_000000002df47208a071c131700501d7
Pendidikan

Negeri yang Melupakan Guru

April 5, 2026
d3468d72-e059-49eb-aefe-2ca7f03c3796
Artikel

Antara Panggung dan Substansi: Menguji Kualitas Figur Publik di Era Instan

April 5, 2026
Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam - 0fe24566 6737 42e7 bb3b deda43952a5d | Aceh | Potret Online
Artikel

Eskalasi Global Dalam Peradaban Umat Manusia

April 5, 2026
IMG_0631
Artikel

Ketika Kafe Menjadi Kampus Kedua: Membaca Ulang Makna Ruang Belajar

April 5, 2026
Next Post

Mistral AI Unveils Mixtral 8x22B With Sparse Mixture Design

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com