Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Membaca Sastra Perempuan Indonesia dari 1965 hingga Pascareformasi**
Pendahuluan
Sastra Indonesia modern kerap menghadirkan perempuan sebagai pusat cerita, tetapi jarang menempatkan mereka sebagai subjek sejarah yang utuh. Tokoh perempuan hadir dalam kisah cinta, pengkhianatan, rumah tangga, dan kesetiaan, namun penderitaan mereka sering diperlakukan sebagai persoalan personal semata. Luka perempuan dipersempit menjadi urusan emosi, bukan akibat dari struktur sosial dan politik yang membentuk kehidupan mereka sejak awal.
Padahal, pengalaman perempuan Indonesia tidak pernah lahir di ruang kosong. Tubuh perempuan sejak lama menjadi medan kuasa: diatur oleh negara, dikontrol oleh keluarga, dan ditafsirkan oleh budaya patriarki. Sejarah politik Indonesia terutama peristiwa 1965 dan Mei 1998 tidak hanya menciptakan perubahan rezim, tetapi juga meninggalkan luka mendalam dalam kehidupan perempuan. Kehilangan suami, anak, rasa aman, dan martabat adalah kenyataan yang dialami secara konkret, bukan metafora.
Tulisan ini membaca cerpen-cerpen bertema romansa dan luka perempuan, termasuk Menyembuhkan Luka demi Kedua Putraku, sebagai bagian dari upaya mengembalikan dimensi politik ke dalam sastra perempuan Indonesia. Sastra tidak hanya dibaca sebagai ekspresi perasaan, tetapi sebagai kesaksian atas sejarah yang sering menyingkirkan suara perempuan.
Sastra Perempuan dan Kecenderungan Depolitisasi
Banyak karya sastra perempuan Indonesia memilih jalur aman dengan menampilkan kisah cinta yang gagal, rumah tangga yang retak, atau luka akibat perselingkuhan. Tema-tema ini sah dan penting, tetapi sering dilepaskan dari sebab-sebab struktural yang melahirkannya. Perselingkuhan, misalnya, kerap diposisikan sebagai konflik moral individual, seolah tidak berkaitan dengan budaya patriarki yang memberi ruang luas bagi dominasi laki-laki, termasuk legitimasi sosial terhadap poligami dan ketimpangan kuasa ekonomi.
Akibatnya, sastra perempuan kerap berhenti pada ratapan emosional. Luka menjadi estetika, bukan kesaksian. Perempuan digambarkan kuat karena mampu memaafkan, bukan karena berani memahami sumber ketidakadilan yang menimpanya. Dalam konteks ini, depolitisasi bukan berarti penghapusan politik secara sadar, melainkan pengaburan hubungan antara pengalaman personal dan struktur kekuasaan.
Padahal, luka perempuan Indonesia memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan kebijakan negara, kekerasan politik, dan konstruksi sosial tentang gender. Ketika sastra mengabaikan hubungan ini, ia berisiko mengulang penyingkiran yang sama seperti yang dilakukan sejarah resmi.
Orde Baru dan Domestikasi Perempuan
Pernyataan bahwa Orde Baru mengembalikan perempuan ke “kasur, sumur, dan dapur” bukan sekadar ungkapan simbolik. Ia merujuk pada kebijakan sistematis yang mengurung perempuan dalam peran domestik demi stabilitas politik. Melalui ideologi yang dikenal sebagai Ibuisme Negara, perempuan didefinisikan sebagai istri pendukung karier suami dan ibu penghasil generasi yang taat pada negara.
Keberhasilan perempuan tidak diukur dari kapasitas intelektual atau kontribusi publiknya, melainkan dari kepatuhan, kesabaran, dan pengorbanan di ranah domestik. Organisasi perempuan progresif yang kritis terhadap negara dibubarkan dan difitnah pasca-1965. Sebagai gantinya, negara membentuk dan menguatkan organisasi seperti Dharma Wanita dan PKK yang menanamkan nilai kepatuhan, bukan keberanian berpikir.
Media, buku pelajaran, dan kebijakan hukum turut memperkuat gagasan bahwa kodrat perempuan adalah melayani. Dalam iklim seperti ini, partisipasi politik perempuan direduksi. Perempuan boleh hadir, tetapi tidak didorong untuk mengubah. Mereka ditempatkan sebagai pelengkap, bukan subjek sejarah.
Mei 1998: Luka Politik dalam Tubuh Perempuan
📚 Artikel Terkait
Peristiwa Mei 1998 sering dikenang sebagai krisis ekonomi dan kejatuhan rezim Orde Baru. Namun bagi banyak perempuan, peristiwa itu adalah tragedi personal yang meninggalkan luka seumur hidup. Kehilangan suami, anak, kekasih, serta rasa aman tidak selalu tercatat dalam narasi besar sejarah, tetapi hidup dalam ingatan tubuh dan keseharian perempuan.
Dalam cerpen-cerpen seperti Romansa Cinta, Dalam Kesetiaanku Mencintaimu, dan Kenangan Ketika Hujan, latar 1998 tidak hadir sebagai kisah heroik, melainkan sebagai kesunyian yang panjang. Dua perempuan menangisi anak laki-laki dan kekasihnya. Seorang istri menyimpan duka bahkan sebelum Mei meledak, seolah tragedi telah lama mengendap di dalam rumah tangga.
Kesedihan ini bukan melodrama. Ia adalah bentuk kesaksian. Sastra menjadi ruang di mana perempuan mencatat pengalaman sejarah dari sudut yang sering diabaikan: ruang domestik, ruang batin, dan ruang kehilangan.
Maskulinitas Toksik dan Normalisasi Pengkhianatan
Domestikasi perempuan melahirkan konstruksi maskulinitas yang timpang. Laki-laki ditempatkan sebagai pusat otoritas, sementara perempuan dilatih untuk memahami, memaafkan, dan bertahan. Dalam banyak cerita, perselingkuhan dan pernikahan kedua tidak diperlakukan sebagai kekerasan emosional, melainkan sebagai sesuatu yang “dimaklumi” oleh budaya, keluarga, bahkan institusi agama.
Dalam cerpen Terluka Diriku atas Perselingkuhanmu dan Menyembuhkan Luka demi Kedua Putraku, perempuan yang menolak pengkhianatan justru diposisikan sebagai pihak yang egois atau tidak bersyukur. Beban moral diletakkan di pundak perempuan, sementara struktur yang memungkinkan pengkhianatan itu sendiri jarang dipersoalkan.
Di sinilah sastra bekerja sebagai ruang perlawanan yang sunyi. Tokoh perempuan tidak berteriak, tetapi bertahan. Mereka tidak membalas dengan kekerasan, melainkan dengan kemandirian dan keteguhan.
Menyembuhkan Luka demi Kedua Putraku: Tubuh, Kuasa, dan Ketahanan
Cerpen Menyembuhkan Luka demi Kedua Putraku menghadirkan sosok perempuan yang memilih bertahan bukan demi cinta pada suami, melainkan demi hak asuh dan masa depan anak-anaknya. Ia hidup dalam rumah yang sama dengan lelaki yang telah menikah lagi, terpisah kamar dan terpisah batin.
Ia menghadapi tekanan budaya patriarki, legitimasi sosial terhadap poligami, serta relasi kuasa ekonomi dan politik. Namun ia tidak runtuh. Ia membangun karier, menempuh pendidikan doktoral, memperluas jaringan sosial, dan menata ulang martabat dirinya.
Pengasuhan dalam cerpen ini bukan bentuk kepasrahan, melainkan strategi bertahan hidup. Prestasi menjadi bahasa perlawanan yang paling sunyi, tetapi paling menghantam. Ia menunjukkan bahwa perempuan tidak harus membalas kekerasan dengan amarah, melainkan dengan keteguhan dan kemandirian.
Sastra sebagai Kesaksian dan Perlawanan
Sastra perempuan yang berani menautkan luka personal dengan struktur politik adalah sastra yang jujur pada sejarah. Ia tidak menjadikan perempuan sekadar korban, tetapi subjek yang berpikir, memilih, dan bertahan. Dengan menghadirkan pengalaman perempuan dalam lanskap Orde Baru, Mei 1998, dan budaya patriarki kontemporer, sastra menjadi arsip emosional bangsa.
Ia mencatat apa yang sering dihapus dari buku sejarah resmi: air mata di ruang tamu, kesepian di kamar tidur, dan keteguhan seorang ibu yang bertahan demi anak-anaknya.
Penutup
Sastra Indonesia membutuhkan lebih banyak karya yang berani menghubungkan cinta dengan politik, luka dengan kekuasaan, dan tubuh perempuan dengan sejarah bangsa. Cerpen-cerpen dalam Romansa Cinta menunjukkan bahwa romansa tidak pernah netral. Ia selalu berada dalam medan ideologi.
Menyembuhkan Luka demi Kedua Putraku adalah kisah tentang perempuan yang tidak runtuh meski dikhianati. Ia menyembuhkan luka bukan dengan melupakan, melainkan dengan membangun hidup baru yang bermartabat. Dalam diamnya, ia melawan.
Daftar Pustaka.
- Wieringa, Saskia E. Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia. Jakarta: Kalyanamitra, 2010.
https://media.neliti.com/media/publications/45060-ID-gerakan-perempuan-bagian-gerakan-demokrasi-di-indonesia.pdf - Blackburn, Susan. Women and the State in Modern Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press, 2004.
https://www.cambridge.org/core/books/women-and-the-state-in-modern-indonesia/ - Suryakusuma, Julia. Ibuisme Negara: Konstruksi Sosial Keperempuanan Orde Baru. Jakarta: Komunitas Bambu, 2011.
- Robinson, Kathryn. Gender, Islam, and Democracy in Indonesia. London: Routledge, 2009.
https://www.routledge.com/Gender-Islam-and-Democracy-in-Indonesia/Robinson/p/book/9780415459833
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu mesin waktu cinta.
https://youtu.be/g89QVYZuxfA?si=iNAeXbh6PKdUqQLD
Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan pusi mesin waktu cinta karya Novita sari yahya
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






