Dengarkan Artikel
Oleh Ria Fachria
Inong Literasi
(Berdasarkan penuturan dari Iza)
Hujan turun sangat deras beberapa hari ini. Aku dan anak-anak sedang bermain di halaman rumah ketika melihat air mulai meninggi. Aku pun masuk ke dalam dan menemui Mamak.
“Mak, di luar air tinggi sekali.”
Mamak hanya mengangguk. Aku melihat Mamak mulai mengangkat beberapa barang ke atas lemari.
“Kita harus beres-beres, Iza. Kumpulkan barang-barang penting dan letakkan di atas lemari,” perintah Mamak.
Tidak butuh waktu lama, air pun mulai masuk ke dalam rumah. Aku melihat Ayah mengambil tangga dan menyandarkannya ke dinding.
“Simpan sebagian lagi ke loteng. Khawatir lemari tidak cukup kuat menahan barang,” kata Ayah.
Ayah mengangkat barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam plastik, lalu naik ke tangga dan meletakkannya di loteng rumah.
Air yang masuk semakin tinggi, sudah mulai sepinggangku. Ayah mengajak kami mengungsi ke sekolah terdekat yang memiliki lantai dua.
Ketika menuju sekolah, kami harus melewati hujan badai.
“Mak, Iza takut,” ujarku sambil memeluk lengan Mamak.
“Nggak usah takut. Gedung sekolah di depan rumah kita tinggi dan kuat. Kita pasti aman di sana,” Mamak berusaha menenangkanku.
Hujan yang turun semakin menambah kelam malam itu. Aku ingat betul malam tersebut. Angin tanpa ampun meniup tubuh kami dalam gelap. Namun kami harus meninggalkan rumah secepatnya. Gerakan kami tak boleh kalah oleh air yang semakin tinggi, seakan turun tanpa penghalang dari langit.
Malam menjadi gelap gulita karena lampu sudah mulai padam. Kami sekeluarga, beserta kakakku yang sedang mengandung, harus segera menyelamatkan diri.
Ya, kakakku harus diamankan secepatnya.
Tiba di gedung sekolah, sudah banyak penduduk desa yang berkumpul. Kami bergegas naik ke lantai dua. Aku yakin air takkan mampu naik hingga ke sana karena gedung ini cukup tinggi.
📚 Artikel Terkait
Kami menaiki anak tangga dengan cepat agar segera mencapai lantai dua. Biarlah malam ini kami menghabiskan waktu di sini sambil menunggu air surut.
Aku sebenarnya belum makan malam. Namun perutku sudah tak mampu merasakan lapar karena rasa takut yang terus menghantui.
Kami semua duduk diam dalam gelap. Yang terdengar hanyalah suara petir, angin, dan hujan. Suara-suara itu seakan bekerja sama menunjukkan kemarahannya.
Tak ada yang bisa tidur malam itu. Yang ada hanya suasana yang sangat mencekam.
Ayah keluar dari ruang kelas yang menjadi tempat kami bernaung. Dari sana beliau melihat rumah kami yang berada tepat di depan sekolah. Rumah itu sudah hampir tenggelam. Air sudah hampir mencapai loteng.
Pelan-pelan aku mengikuti Ayah dari belakang. Wajah beliau tampak sendu memandang arah rumah kami, rumah yang selama ini menjadi tempat kami menghabiskan waktu bersama. Malam itu akan menjadi malam yang panjang dan mimpi buruk.
“Ayah, rumah kita,” ujarku lirih.
Ayah hanya mengangguk pelan. Tatapannya tak lepas dari rumah kami.
Tiba-tiba dari dalam terdengar suara kakakku merintih. Sebenarnya kakak sedang menunggu hari kelahiran. Kami pun tak pernah menduga akan terjadi bencana seperti ini.
Ayah masuk menjumpai kakak dan Mamak.
“Sepertinya kita harus membawa kakak ke tempat yang aman,” kata Mamak pada Ayah.
“Kalau begitu, Ayah akan mencari bantuan untuk mengevakuasi kakak keluar dari desa,” ujar Ayah.
Ayah pun berjalan cepat meninggalkan kami.
“Ayah, jangan pergi,” panggilku.
“Ayah harus pergi, Iza. Kakakmu butuh bantuan. Sebentar lagi dia akan melahirkan,” kata Ayah sambil memegang bahuku.
“Tapi di luar hujan deras dan air sangat tinggi. Iza khawatir terjadi sesuatu,” ujarku, berusaha meyakinkan Ayah.
Barangkali masih ada cara lain. Namun apa daya, jaringan komunikasi sudah terputus, kata Ayah. Kami tak bisa menghubungi siapa pun di luar sana untuk meminta bantuan. Kami tertutup dari dunia luar.
Ayah pun berjalan menuruni tangga. Aku memantau beliau dari atas hingga sosoknya menghilang dalam gelap. Aku tak tahu ke mana arah langkahnya, suasana malam membuatku tak mampu melihat jelas.
“Ayah, hati-hati!” teriakku dari atas gedung sekolah.
Setelah Ayah pergi, air semakin naik hingga mencapai lantai dua. Kami pun naik ke genteng sekolah. Kasihan kakakku. Benar kata Ayah, kakak harus segera dikeluarkan dari desa.
Hingga malam berganti pagi, air belum juga surut. Hujan sesekali masih turun. Kami di atas genteng kepayahan menjaga kakak dalam gelap dan dingin. Perut kami mulai berbunyi karena diabaikan sejak semalam.
Tiba-tiba gedung sekolah terasa bergerak turun. Dari kejauhan, aku mendengar orang-orang berteriak meminta kami turun dan pindah ke tempat lain.
Gedung semakin berguncang.
“Apakah ini gempa?” pikirku.
Orang-orang pun bergegas turun satu per satu. Dengan susah payah, aku dan Mamak membantu kakak berjalan.
Kami berpindah tempat dengan sangat hati-hati dalam derasnya air banjir yang mengalir seperti sungai.
Meunasah menjadi tujuan kami. Letaknya tak jauh dari sekolah. Namun di meunasah pun air sudah masuk. Kami berpindah perlahan dari genteng sekolah menuju meunasah. Di sanalah kami menunggu, menunggu hujan reda, menunggu banjir surut, dan menunggu seseorang datang menolong kami keluar dari bencana ini.
“Ayah, bagaimana kabarmu?” lirihku dalam hati.
Air mataku jatuh mengingat Ayah. Dari genteng meunasah, aku melihat sekolah tempat kami bernaung tadi roboh perlahan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






