POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Cerpen

Menunggu Dalam Gelap

Redaksi by Redaksi
Januari 19, 2026
in #Cerpen, #Korban Bencana, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan
0
Menunggu Dalam Gelap - bd360a2a 02f7 48d0 a3ad 3c736ad62f05 | #Cerpen | Potret Online

Oleh Ria Fachria
Inong Literasi

(Berdasarkan penuturan dari Iza)

Baca Juga
  • Menunggu Dalam Gelap - 1d97a0c8 86e3 4c63 a6a9 c659bc0243b5 | #Cerpen | Potret Online
    Aceh
    Tsunami 2004: Mengenang Tragedi, Meniti Masa Depan
    26 Des 2024
  • Menunggu Dalam Gelap - c846b84c 908e 4bf9 8ac8 c3f4d88eb3ac | #Cerpen | Potret Online
    #Sumatera Utara
    Pelajaran Pahit dari Banjir Aceh–Sumut–Sumbar: Mengapa Hutan Kita Hancur dan Negara Gagal Belajar
    06 Des 2025

Hujan turun sangat deras beberapa hari ini. Aku dan anak-anak sedang bermain di halaman rumah ketika melihat air mulai meninggi. Aku pun masuk ke dalam dan menemui Mamak.

“Mak, di luar air tinggi sekali.”

Baca Juga
  • Menunggu Dalam Gelap - 1001035820_11zon | #Cerpen | Potret Online
    #Cerpen
    Nyanyian Terakhir Cenderawasih
    14 Nov 2025
  • Menunggu Dalam Gelap - 2025 05 12 13 40 22 | #Cerpen | Potret Online
    #Cerpen
    Perasan Jeruk Nipis Seasam Hidupku
    12 Mei 2025

Mamak hanya mengangguk. Aku melihat Mamak mulai mengangkat beberapa barang ke atas lemari.

“Kita harus beres-beres, Iza. Kumpulkan barang-barang penting dan letakkan di atas lemari,” perintah Mamak.

Baca Juga
  • Menunggu Dalam Gelap - 64be5061 5e44 46a5 be36 17274eec2493 | #Cerpen | Potret Online
    Aceh
    Banjir Aceh Luka Kolektif setelah Bangkit dari Tsunami
    11 Des 2025
  • Menunggu Dalam Gelap - 1001281065_11zon | #Cerpen | Potret Online
    #Cerpen
    Sandaran yang Patah
    16 Feb 2026

Tidak butuh waktu lama, air pun mulai masuk ke dalam rumah. Aku melihat Ayah mengambil tangga dan menyandarkannya ke dinding.

“Simpan sebagian lagi ke loteng. Khawatir lemari tidak cukup kuat menahan barang,” kata Ayah.

Ayah mengangkat barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam plastik, lalu naik ke tangga dan meletakkannya di loteng rumah.

Air yang masuk semakin tinggi, sudah mulai sepinggangku. Ayah mengajak kami mengungsi ke sekolah terdekat yang memiliki lantai dua.

Ketika menuju sekolah, kami harus melewati hujan badai.

“Mak, Iza takut,” ujarku sambil memeluk lengan Mamak.

“Nggak usah takut. Gedung sekolah di depan rumah kita tinggi dan kuat. Kita pasti aman di sana,” Mamak berusaha menenangkanku.

Hujan yang turun semakin menambah kelam malam itu. Aku ingat betul malam tersebut. Angin tanpa ampun meniup tubuh kami dalam gelap. Namun kami harus meninggalkan rumah secepatnya. Gerakan kami tak boleh kalah oleh air yang semakin tinggi, seakan turun tanpa penghalang dari langit.

Malam menjadi gelap gulita karena lampu sudah mulai padam. Kami sekeluarga, beserta kakakku yang sedang mengandung, harus segera menyelamatkan diri.

Ya, kakakku harus diamankan secepatnya.
Tiba di gedung sekolah, sudah banyak penduduk desa yang berkumpul. Kami bergegas naik ke lantai dua. Aku yakin air takkan mampu naik hingga ke sana karena gedung ini cukup tinggi.

Kami menaiki anak tangga dengan cepat agar segera mencapai lantai dua. Biarlah malam ini kami menghabiskan waktu di sini sambil menunggu air surut.
Aku sebenarnya belum makan malam. Namun perutku sudah tak mampu merasakan lapar karena rasa takut yang terus menghantui.

Kami semua duduk diam dalam gelap. Yang terdengar hanyalah suara petir, angin, dan hujan. Suara-suara itu seakan bekerja sama menunjukkan kemarahannya.
Tak ada yang bisa tidur malam itu. Yang ada hanya suasana yang sangat mencekam.

Ayah keluar dari ruang kelas yang menjadi tempat kami bernaung. Dari sana beliau melihat rumah kami yang berada tepat di depan sekolah. Rumah itu sudah hampir tenggelam. Air sudah hampir mencapai loteng.

Pelan-pelan aku mengikuti Ayah dari belakang. Wajah beliau tampak sendu memandang arah rumah kami, rumah yang selama ini menjadi tempat kami menghabiskan waktu bersama. Malam itu akan menjadi malam yang panjang dan mimpi buruk.

“Ayah, rumah kita,” ujarku lirih.

Ayah hanya mengangguk pelan. Tatapannya tak lepas dari rumah kami.
Tiba-tiba dari dalam terdengar suara kakakku merintih. Sebenarnya kakak sedang menunggu hari kelahiran. Kami pun tak pernah menduga akan terjadi bencana seperti ini.

Ayah masuk menjumpai kakak dan Mamak.
“Sepertinya kita harus membawa kakak ke tempat yang aman,” kata Mamak pada Ayah.

“Kalau begitu, Ayah akan mencari bantuan untuk mengevakuasi kakak keluar dari desa,” ujar Ayah.

Ayah pun berjalan cepat meninggalkan kami.

“Ayah, jangan pergi,” panggilku.

“Ayah harus pergi, Iza. Kakakmu butuh bantuan. Sebentar lagi dia akan melahirkan,” kata Ayah sambil memegang bahuku.

“Tapi di luar hujan deras dan air sangat tinggi. Iza khawatir terjadi sesuatu,” ujarku, berusaha meyakinkan Ayah.

Barangkali masih ada cara lain. Namun apa daya, jaringan komunikasi sudah terputus, kata Ayah. Kami tak bisa menghubungi siapa pun di luar sana untuk meminta bantuan. Kami tertutup dari dunia luar.

Ayah pun berjalan menuruni tangga. Aku memantau beliau dari atas hingga sosoknya menghilang dalam gelap. Aku tak tahu ke mana arah langkahnya, suasana malam membuatku tak mampu melihat jelas.

“Ayah, hati-hati!” teriakku dari atas gedung sekolah.

Setelah Ayah pergi, air semakin naik hingga mencapai lantai dua. Kami pun naik ke genteng sekolah. Kasihan kakakku. Benar kata Ayah, kakak harus segera dikeluarkan dari desa.

Hingga malam berganti pagi, air belum juga surut. Hujan sesekali masih turun. Kami di atas genteng kepayahan menjaga kakak dalam gelap dan dingin. Perut kami mulai berbunyi karena diabaikan sejak semalam.

Tiba-tiba gedung sekolah terasa bergerak turun. Dari kejauhan, aku mendengar orang-orang berteriak meminta kami turun dan pindah ke tempat lain.
Gedung semakin berguncang.

“Apakah ini gempa?” pikirku.

Orang-orang pun bergegas turun satu per satu. Dengan susah payah, aku dan Mamak membantu kakak berjalan.
Kami berpindah tempat dengan sangat hati-hati dalam derasnya air banjir yang mengalir seperti sungai.

Meunasah menjadi tujuan kami. Letaknya tak jauh dari sekolah. Namun di meunasah pun air sudah masuk. Kami berpindah perlahan dari genteng sekolah menuju meunasah. Di sanalah kami menunggu, menunggu hujan reda, menunggu banjir surut, dan menunggu seseorang datang menolong kami keluar dari bencana ini.

“Ayah, bagaimana kabarmu?” lirihku dalam hati.

Air mataku jatuh mengingat Ayah. Dari genteng meunasah, aku melihat sekolah tempat kami bernaung tadi roboh perlahan.

Previous Post

Perang Moderen, Teknologi dan Kegawatdaruratan Nasional

Next Post

Untuk Pertama Kali Ada Orang Mengaku Gembong Korupsi di Negeri Ini

Next Post
Menunggu Dalam Gelap - f1ab135d b788 449b 9776 2355f5ee795a | #Cerpen | Potret Online

Untuk Pertama Kali Ada Orang Mengaku Gembong Korupsi di Negeri Ini

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah