• Latest
Demokrasi Sebagai Topeng

Demokrasi Sebagai Topeng

Januari 15, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Demokrasi Sebagai Topeng

Redaksi by Redaksi
Januari 15, 2026
in # Kebijakan Trump, #Ekonomi, Amerika, Politik
Reading Time: 4 mins read
0
Demokrasi Sebagai Topeng
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Venezuela Dan Nafsu Imperium  Atas Sumber Daya  (MembacaVenezuela dalam Bayang-Bayang Kolonialisme Gaya Baru)

Oleh: Dr (Cand) Muhammad Abrar, M.E

Dunia modern gemar menyebut dirinya telah memasuki era pascakolonial. Penjajahan dianggap usai, ketika bendera asing diturunkan dan pemerintahan lokal berdiri di istana-istana nasional. Namun sejarah tidak pernah sesederhana itu. Kolonialisme tidak mati; ia berevolusi. Ia menanggalkan wajah kasar kekerasan fisik dan menggantinya dengan mekanisme yang lebih halus, lebih canggih, dan jauh lebih sulit dikenali. 

Venezuela adalah salah satu panggung tempattransformasi itu dipertontonkan secara telanjang. Dalam wawancara dengan Sky News, Alfred de Zayas mantan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan kritik yang mengguncang narasi arus utama. Ia menegaskan bahwa sikap keras Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro tidak berakar pada kepedulian terhadap demokrasi atau kemanusiaan, melainkan pada kepentingan ekonomi strategis yang sangat besar. 

Pernyataan ini bukan tuduhan emosional, melainkan pembacaan realistis atas  sejarah panjang hubungan antara kekuasaan global dan negara-negara kaya sumber daya. Venezuela bukan sekadar negara dengan instabilitas politik. Ia adalah simpul geopolitik dunia. Di bawah tanahnya tersimpan cadangan minyak terbesar di planet ini. Energi yang selama lebih dari satu abad menjadi darah kehidupan kapitalisme global. 

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026

Selain itu, Venezuela juga memiliki emas, koltan, dan litium mineral strategis yang menentukan masa depan teknologi, industri militer, dan transisi energi global. 

Dalam sistem dunia yang masih digerakkan oleh logika akumulasi, kekayaan semacam ini jarang dipandang sebagai hak bangsa, melainkan sebagai “aset global” yang harus dapat diakses oleh kekuatan dominan.

Di sinilah kolonialisme gaya baru bekerja. Tidak lagi melalui pendudukan langsung, tetapi melalui pengondisian struktural. Ketika suatu negara memilih jalur pembangunan yang tidak sejalan dengan kepentingan pasar global atau kekuatan besar, ia segera diposisikan sebagai “masalah internasional”.  Krisis ekonomi dibingkai sebagai kegagalan rezim. Ketegangan politik dipersepsikan sebagai ancaman stabilitas global, dan penderitaan rakyat digunakan sebagai alasan moral untuk campur tangan.

Narasi demokrasi memainkan peran sentral dalam mekanisme ini. Demokrasi, yang seharusnya menjadi nilai emansipatoris, direduksi menjadi alat legitimasi. Ia tidak lagi berbicara tentang kedaulatan rakyat, melainkan tentang kesesuaian suatu rezim dengan kepentingan geopolitik tertentu. 

Ketika sebuah pemerintahan terpilih secara elektoral tetapi tidak patuh pada arsitektur kekuasaan global, legitimasi politiknya dipertanyakan. Sebaliknya, rezim yang represif dapat ditoleransi selama ia menjamin stabilitas investasi dan aliran sumber daya.

De Zayas menyebut bahwa Amerika Serikat tidak memilih jalur kerja sama yang adil atau perdagangan setara dengan Venezuela. Sebaliknya, yang ditempuh adalah strategi delegitimasi dan tekanan sistemik: sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, dan perang narasi. Inilah bentuk kolonialisme tanpa pendudukan penaklukan melalui kelaparan ekonomi, bukan invasi militer terbuka.

Sanksi, dalam kerangka ini, bukan instrumen netral. Ia adalah senjata politik. Dampaknya tidak jatuh pada elite kekuasaan semata, melainkan menghantam rakyat biasa: akses terhadap pangan, obat-obatan, energi, dan layanan dasar. 

Ironisnya, penderitaan yang dihasilkan oleh sanksi inilah yang kemudian dijadikan bukti kegagalan rezim, sehingga siklus intervensi terus berulang. Kekerasan struktural ini jarang disebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia, karena ia dilakukan atas nama moralitas itu sendiri.

Kasus Venezuela memperlihatkan paradoks besar dunia kontemporer: kemanusiaan sering kali menjadi bahasa legitimasi bagi kebijakan yang justru memperdalam penderitaan manusia. Demokrasi dijadikan topeng etis untuk menutupi kepentingan ekonomi yang tidak pernah netral. Dalam logika imperium, nilai hanya penting sejauh ia berguna.

Pola ini bukan anomali, melainkan bagian dari struktur global. Dari Iran hingga Libya, dari Irak hingga Kongo, sejarah modern dipenuhi contoh bagaimana negara-negara kaya sumber daya mengalami tekanan politik yang dibungkus dengan narasi moral. 

Nama dan konteksnya berubah, tetapi logikanya tetap sama: siapa yang menguasai energi dan mineral, ia menguasai arah dunia. Venezuela, dengan demikian, harus dibaca bukan sebagai kasus deviasi, melainkan sebagai cermin. Ia memantulkan wajah dunia yang belum selesai dengan masa lalunya. 

Dunia yang berbicara tentang kebebasan, tetapi takut pada kedaulatan sejati. Dunia yang memuja demokrasi, tetapi mencurigai pilihan rakyat ketika hasilnya tidak sesuai dengan kepentingan global.

Kolonialisme gaya baru tidak membutuhkan gubernur jenderal atau bendera asing. Ia bekerja melalui lembaga keuangan internasional, rezim sanksi, media global, dan bahasa moral yang terdengar luhur. Ia tidak selalu menghancurkan negara secara langsung, tetapi melemahkannya perlahan hingga negara itu dipaksa tunduk atau runtuh dari dalam.

Pernyataan Alfred de Zayas seharusnya dibaca sebagai peringatan serius. Ia mengajak dunia untuk tidak lagi menelan mentah-mentah narasi kemanusiaan yang dilepaskan dari konteks ekonomi politiknya. Ia menuntut kejujuran: bahwa banyak konflik internasional hari ini bukanlah pertarungan nilai, melainkan pertarungan kepentingan.

Selama kekayaan alam masih dianggap sebagai alasan sahuntuk meniadakan kedaulatan, selama demokrasi masih dijadikan alat selektif, dan selama penderitaan rakyat masih bisa diperdagangkan sebagai legitimasi politik, maka, kolonialisme dalam bentuk apa pun akan terus hidup.

ADVERTISEMENT

Venezuela hari ini adalah pelajaran pahit bagi dunia selatan global. Bahwa menjadi kaya sumber daya di tengah sistem dunia yang timpang sering kali berarti menjadi sasaran. Bahwa kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi adalah ilusi. Dan bahwa demokrasi, ketika berada di bawah bayang-bayang imperium, kerap dipaksa mengenakan topeng yang bukan miliknya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Aceh dan Strategi Perjuangan Baru: Dari Luka Konflik ke Kriris Ekologi

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com