Dengarkan Artikel
Oleh Agung Marsudi
SUDAH dua jam duduk sendiri di kursi teras bawah, menghadap ke grumbul bambu, di pinggir sungai Ngipik, lereng Gunung Lawu. Sisa gerimis belum juga tuntas. Masih ada rintik yang menghalangi angin, mengibarkan bendera putih, cerita dari ujung negeri.
Suara kran air tersumbat di kolam kecil samping Malawu Omah Kopi, memanggil tiga capung Jawa mendekat. Empat ekor ayam kampung mbah Slamet berbaris muka belakang, seekor kucing bangun tidur di pojok jendela. Dan pohon pepaya berdiri kokoh, dengan 18 buahnya yang sudah mengkal.
Langit mulai gelap, padahal jam baru menunjukkan pukul 16.20 WIB. Suara kran air tersumbat itu terus mengganggu. Tapi hanya suara itu teman menerkam waktu.
Mendadak ada sinar matahari, yang muncul sesaat di antara celah mendung yang berarak ke arah utara, melewati desa-desa menuju kota. Hanya hitungan menit, setelah itu awan kembali menutupi langit. Matahari tak kuasa menembusnya.
Meski sudah gelap, ayam-ayam mbah Slamet belum juga pulang, masih mengais makanan di bawah dapur Malika, pemilik Malawu Omah Kopi. Sepertinya ada sisa nasi Padang yang sengaja dibuang ke luar jendela.
Memang di bawah, sebelah kursi kayu jati, tempat aku duduk, ada satu meja bulat besar, dan meja-meja bekas ditumpuk, dulu digunakan untuk jualan nasi Padang. Malika dulu masih mahasiswa, ia bunga desa yang lagi mekar ketika kakaknya berjualan nasi Padang di Solo.
📚 Artikel Terkait
Hujan seperti tertahan airmata bencana banjir bandang Sumatera. Suara kran air tersumbat itu tak mau diam. Dua jam resah. Sudahlah.
(Terlintas cerita kenangan, ada yang jatuh dari jendela, tapi tertinggal di Surabaya).
Mio kecil warna biru di depanku, tak mungkin membawaku terbang. Aku laki-laki bingung mencari sesuatu. Belajar kesadaran, dihimpit kemelekatan. Cinta, dan harapan seperti bayang-bayang yang ikut berjalan. Tak berselisih siapa yang harus duluan.
Aku laki-laki bingung yang berprasangka, tentang semesta, katanya cinta sejati bisa tumbuh tanpa memiliki.
Hujan tertahan prasangkaku tentang tuhan. Aku ketinggalan, mengikuti diskusi tentang tuhan, yang dihantukan.
Tuhan yang diperdebatkan. Tuhan yang selalu dikeluarkan dari ruang kelas para pengambil keputusan dan kekuasaan. Tapi ketika musibah datang, mereka dengan instan menyebut nama tuhan.
Tuhannya, daun-daun mahoni, yang tak lupa pada janji, untuk bersemi esok hari, bersolek di Januari.
Solo, 4 Januari 2026
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






