Dengarkan Artikel
Oleh Novita Sari Yahya
Satire Elegan tentang Gagasan, Kekuasaan, dan Sejarah yang Sering Terlihat Serius Padahal Gugup
Penjegalan Modern dan Tradisi Lama.
Upaya menjegal gagasan dengan menghubungi berbagai pihak penyelenggara sebenarnya bukan hal baru. Ia hanya berganti kostum. Dulu memakai seragam dan stempel resmi, sekarang cukup dengan telepon, pesan singkat, atau bisik-bisik yang terdengar penting. Metodenya berubah, mentalitasnya tidak.
Ada keyakinan aneh yang masih bertahan: bahwa dengan menghalangi satu acara, satu panggung, atau satu forum, maka pemikiran seseorang akan berhenti bergerak. Padahal, sejak kapan ide meminta izin untuk tumbuh? Sejak kapan gagasan tunduk pada jadwal acara?
Jika setiap program yang saya rancang kembali kepada saya sebagai perancangnya, maka upaya penjegalan hanya akan menjadi cerita lelucuan. Bukan tragedi, melainkan komedi kecil dalam sejarah pemikiran.
Panggung dan Keyakinan Berlebihan tentang Pengaruh.
Ada orang-orang yang terlalu percaya diri pada kemampuannya menjatuhkan. Mereka membayangkan dirinya sebagai aktor utama dalam drama besar. Padahal, sering kali perannya hanya figuran yang terlalu berisik.
Panggung dianggap pusat segalanya. Tanpa panggung, seseorang dianggap tidak ada. Logika ini mungkin masuk akal bagi dunia hiburan, tetapi tidak bagi dunia pemikiran. Gagasan tidak mati hanya karena mikrofon dimatikan. Justru sering tumbuh subur dalam sunyi.
Ironisnya, keyakinan berlebihan terhadap pengaruh inilah yang justru membuat tindakan penjegalan tampak konyol. Seolah-olah dengan memindahkan kursi dan spanduk, pikiran manusia ikut terlipat dan disimpan.
Buku Panduan dan Ketakutan terhadap Teks.
Setiap ajang yang saya rancang selalu disertai buku panduan. Di sanalah pemikiran dirumuskan dengan rapi. Dan di situlah sering kali masalah dimulai.
Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan paling mudah gugup bukan terhadap teriakan, melainkan terhadap teks. Teriakan bisa dibungkam, tetapi teks bisa disalin. Buku bisa disita, tetapi gagasan di dalamnya sudah terlanjur berpindah kepala.
Maka tidak heran jika buku panduan sering diremehkan. Dianggap tidak fotogenik, tidak viral, dan tidak bisa dipamerkan. Namun justru karena itu, ia berbahaya bagi mereka yang alergi pada proses berpikir.
Orde Baru dan Seni Menjadi Takut terhadap Pikiran.
Pada masa Orde Baru, ketakutan terhadap pemikiran mencapai tingkat yang nyaris absurd. Negara yang tampak gagah dengan barisan tentara dan aparat keamanan justru gemetar menghadapi buku, diskusi, dan pamflet.
Buku-buku dilarang beredar, bukan karena meledak, tetapi karena dibaca. Diskusi dibubarkan, bukan karena kerusuhan, tetapi karena terlalu banyak bertanya. Nama-nama penulis dicatat seolah-olah mereka senjata biologis.
Yang lebih konyol, larangan sering kali dilakukan tanpa membaca isinya. Cukup dengan mendengar judul, mendengar nama pengarang, atau mendengar rumor. Logika yang bekerja sederhana: jika orang berpikir terlalu keras, negara bisa pusing.
Tan Malaka dilarang, Pramoedya dipenjara, Sjahrir dicurigai, Hatta diawasi. Seolah-olah republik ini akan runtuh hanya karena kalimat-kalimat yang disusun rapi.
Represi yang Terlihat Perkasa tetapi Sebenarnya Gugup.
Represi Orde Baru sering tampil megah, tetapi di baliknya menyimpan kegugupan intelektual. Aparat bisa membubarkan diskusi, tetapi tidak pernah benar-benar mengalahkan ide yang dibahas.
Ada cerita tentang buku yang disita dari rak toko, lalu diperbanyak secara fotokopi dan dibaca diam-diam di kampus. Ada diskusi yang dibubarkan sore hari, tetapi dilanjutkan malam harinya di rumah kecil dengan pintu tertutup.
Inilah satire sejarah: semakin keras represi dilakukan, semakin besar rasa ingin tahu yang tumbuh. Kekuasaan ingin mengontrol pikiran, tetapi justru mengajarkan masyarakat cara berpikir lebih cermat dan hati-hati.
Warisan Intelektual yang Tidak Bisa Dipenjarai.
📚 Artikel Terkait
Dari sejarah itulah saya belajar bahwa warisan intelektual tidak pernah bisa dipenjara. Ia bisa ditekan, dipersempit, bahkan diejek, tetapi tidak bisa dihapus.
Menjadi cicit Yahya Datoek Kajo, cucu Dr. Sagaf Yahya, dan anak Dr. Enir Reni Sagaf Yahya bukan soal kebanggaan .Itu adalah tanggung jawab untuk tidak tunduk pada ketakutan terhadap pikiran.
Mereka hidup di masa ketika berpikir bisa dianggap berbahaya. Namun justru karena itu, mereka berpikir dengan lebih jujur. Saya memilih menjaga tradisi itu, meski zaman telah berganti.
Media Sosial dan Represi Gaya Baru.
Jika Orde Baru menakuti buku, zaman sekarang menakuti angka. Jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar diperlakukan seperti kebenaran mutlak. Yang tidak ramai dianggap tidak penting.
Ini bentuk represi yang lebih halus. Tidak melarang, tetapi menenggelamkan. Tidak membungkam, tetapi mengalihkan perhatian. Gagasan tidak dilarang, hanya dibuat seolah-olah tidak relevan.
Namun sama seperti masa lalu, metode ini juga menyimpan kekonyolan. Angka bisa dibeli, popularitas bisa diatur, tetapi pemikiran tetap mencari jalannya sendiri.
Apresiasi Independen sebagai Antitesis Ketakutan.
Karena itu, pengakuan dari lembaga independen menjadi penting. Ia bekerja di luar hiruk-pikuk kekuasaan dan popularitas. Sertifikat, forum ilmiah, dan kritik akademik mungkin tidak ramai, tetapi ia jujur.
Semakin independen sebuah lembaga, semakin kecil peluangnya untuk panik terhadap pikiran. Ia tidak merasa terancam oleh perbedaan. Justru hidup dari perdebatan.
Pageant, Diskursus, dan Kecurigaan yang Berulang.
Pageant sering dicurigai karena ia terlihat. Namun justru di situlah nilai diskursusnya. Ketika sebuah pageant memancing pertanyaan, kritik, dan perdebatan, ia sedang bekerja sebagai ruang sosial.
Zamrud Khatulistiwa tidak dimaksudkan sebagai ruang dialog. Dan seperti semua ruang dialog, ia akan selalu membuat sebagian orang gelisah.
Penutup: Sejarah Selalu Menertawakan yang Takut.
Jika Orde Baru telah mengajarkan satu hal, itu adalah ini: kekuasaan yang takut pada pikiran akan selalu terlihat konyol dalam sejarah. Buku-buku yang dilarang justru menjadi klasik. Nama-nama yang dibungkam justru dikenang.
Saya tidak terlalu khawatir dengan penjegalan hari ini. Sejarah memiliki selera humor yang tajam. Ia tahu mana yang layak diingat, dan mana yang hanya pantas menjadi catatan kaki.
Dan waktu, seperti biasa, tidak pernah memihak pada mereka yang takut berpikir.
Daftar Pustaka
Anderson, Benedict. (1991). Imagined Communities. London: Verso.
Bourdieu, Pierre. (1993). The Field of Cultural Production. New York: Columbia University Press.
Cribb, Robert. (2000). Historical Atlas of Indonesia. Honolulu: University of Hawai‘i Press.
Habermas, Jürgen. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere. Cambridge: MIT Press.
Hatta, Mohammad. (1982). Mendayung di Antara Dua Karang. Jakarta: Bulan Bintang.
Malaka, Tan. (2000). Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. Jakarta: Pustaka Rakyat.
Pramoedya Ananta Toer. (1995). Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Jakarta: Hasta Mitra.
Sjahrir, Sutan. (2009). Renungan Indonesia Merdeka. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Siegel, James T. (1998). A New Criminal Type in Jakarta. Durham: Duke University Press.
Novita sari yahya
Proses penulisan buku refleksi perjalanan politik kebangsaan Indonesia
Penulis buku Ibu Bangsa Wajah Bangsa merupakan 110 artikel yang sudah di muat media nasional dan lokal. Buku terdiri dari 650 halaman. Di jual dengan harga Rp. 200.000.
Semua hasil penjualan buku untuk mendukung gerakan literasi program rumah pengasuhan anak dan pendidikan keluarga.
Penulis buku Romansa cinta 23 antologi cerpen bersertifikat penulis terpilih atau penulis terbaik lomba nasional
Penulis 100 antologi puisi bersertifkat penulis terpilih atau penulis terbaik lomba nasional dan internasional
CP pemesanan buku 089520018812
Lagu Indonesia ku
Pencipta lagu Gede Jerson berdasarkan puisi Indonesia terhormat karya Novita sari yahya
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






