POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh Kembali Menangis: Pengkhianatan Ekologis di Tanah Rencong

RedaksiOleh Redaksi
December 30, 2025
Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhammad Abrar

Aceh kembali menangis. Kali ini bukan karena desing peluru yang pernah mengoyak malam-malam sunyi, bukan pula karena derap sepatu lars tentara yang meninggalkan trauma panjang, dan bukan juga karena amukan tsunami yang datang sebagai bencana alam terbesar dalam sejarahnya. Aceh hari ini menangis karena bencana ekologis yang lahir dari keserakahan manusia keserakahan yang bekerja perlahan, sistematis, dan dilegalkan.

Air bah datang menyapu rumah-rumah rakyat, ladang penghidupan, serta harapan yang selama ini dirajut dengan kesabaran. Banjir bukan lagi sekadar peristiwa alam, melainkan cermin dari rusaknya relasi manusia dengan lingkungan. Sungai meluap bukan karena hujan semata, tetapi karena hutan telah kehilangan fungsinya sebagai penjaga kehidupan. Bukit-bukit yang dahulu menjadi benteng alam kini telanjang, tak lagi mampu menahan amarah air.

Di balik bencana ini, berdiri para cukong kayu, pengusaha sawit ilegal, dan korporasi yang rakus, yang membabat hutan tanpa nurani. Mereka menebang pohon-pohon tua yang selama ratusan tahun menjaga keseimbangan tanah rencong, menjadikan alam sebagai objek eksploitasi, bukan amanah yang harus dijaga. 

Lebih menyakitkan lagi, praktik ini kerap berlangsung dengan perlindungan kekuasaan ketika korporasi dan pejabat saling “bermain mata”, hukum kehilangan wibawanya, dan rakyat kehilangan perlindungan.

📚 Artikel Terkait

Merajut Toleransi di Tengah Keberagaman

Menolak Lupa: Orang Rantai Perjuangan Anak Bangsa

Catatan Ringkas Sejarawan dan Fiksiwan Dari NDC Manado

Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

Hutan Aceh yang dahulu hijau dan kokoh kini terkoyak oleh kepentingan ekonomi jangka pendek. Bukit-bukit dijarah, tanah dibelah, dan ekosistem dihancurkan atas nama investasi dan pertumbuhan. Yang menikmati keuntungan adalah segelintir elit, sementara yang menanggung akibatnya adalah rakyat kecil mereka yang rumahnya terendam, sawahnya rusak, dan masa depannya semakin tak pasti.

Bencana ekologis ini adalah bentuk pengkhianatan baru terhadap Aceh. Jika dahulu Aceh dikhianati dalam janji politik dan keadilan sejarah, hari ini Aceh dikhianati melalui pembiaran perusakan lingkungan. Negara yang seharusnya menjadi penjaga terakhir justru kerap hadir terlambat, atau lebih buruk lagi, absen dalam pencegahan. Penegakan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, sementara perusak alam terus bergerak tanpa rasa takut.

Tangisan Aceh hari ini bukan hanya ratapan korban banjir, tetapi jeritan bumi yang telah lama dipaksa diam. Ia adalah peringatan keras bahwa pembangunan tanpa etika akan selalu berakhir pada bencana. Bahwa keadilan ekologis bukan pilihan, melainkan syarat mutlak bagi keadilan sosial.

Namun, di tengah puing-puing dan lumpur, rakyat Aceh kembali menunjukkan keteguhannya. Mereka saling membantu, saling menguatkan, dan bertahan dengan martabat. Meski harapan berkali-kali disapu air bah, Aceh belum menyerah. Yang dituntut Aceh bukan belas kasihan, melainkan keadilan, keadilan yang menindak perusak alam, menghentikan kolusi kekuasaan dan korporasi, serta memulihkan kembali hubungan manusia dengan alamnya.

Aceh menangis hari ini agar esok tidak terus-menerus berkabung. Tangisan ini adalah seruan moral: hentikan keserakahan, tegakkan hukum, dan kembalikan alam Aceh sebagai rumah yang aman bagi generasi yang akan datang.

Muhammad Abrar lahir di Seuneubok Pidie, Aceh, pada 2 Desember 1999. Saat ini penulis berstatus sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) pada Program Studi Perbankan Syariah, FEBI, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, serta mahasiswa Program Doktor (S3) Ekonomi Syariah di Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Penulis aktif mengembangkan kompetensi akademik melalui berbagai sertifikasi dan kegiatan kepenulisan ilmiah. Berlandaskan motto “With hardship, there is ease” (QS. Al-Insyirah: 6), penulis berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Saat ini penulis berdomisili di Kota Banda Aceh, simak aktivitas kesehariannya di Instagram @muhammadabrar0212 dan dapat dihubungi melalui email: abrarmhmmd271@gmail.com

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Kenangan yang Tak Pernah Pergi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00