• Latest
Diplomasi Urban dan Peran Menlu RI

Diplomasi Urban dan Peran Menlu RI

Desember 22, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Diplomasi Urban dan Peran Menlu RI

Redaksiby Redaksi
Desember 22, 2025
Reading Time: 4 mins read
Diplomasi Urban dan Peran Menlu RI
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh ReO Fiksiwan

“Para pemimpin Tiongkok telah memanfaatkan kekuatan diplomatik, militer, dan ekonomi untuk menjaga keamanan negara yang rapuh ini di dunia yang penuh permusuhan.” — Sulmaan Wasif Khan(45). Haunted by Chaos(2023)

Diplomasi urban adalah konsep mutakhir yang menekankan peran kota sebagai aktor penting dalam hubungan internasional.

Antonios M. Karvounis dalam City Diplomacy: An Introduction(2024) menegaskan bahwa kota-kota kini memiliki perangkat diplomasi sendiri dan memainkan peran vital dalam menjawab isu global, mulai dari migrasi, kerjasama ekonomi, hingga mitigasi bencana.

Dikutip ia katakan: “Kota-kota telah menjadi aktor penting di panggung dunia, mereka telah mengembangkan aparatus diplomatik dan memainkan peran penting dalam mengamankan masa depan yang berkelanjutan di berbagai isu global utama.”

Refleksi ini menjadi relevan ketika menilai kinerja Menteri Luar Negeri Sugiono, anak angkat Presiden Prabowo, yang dalam hampir lebih dari setahun menjabat tidak pernah tampil dengan pidato publik mengenai perkembangan mutakhir politik luar negeri.

Sebaliknya, ia lebih banyak menggunakan media sosial Instagram untuk memamerkan foto tanpa suara, tanpa narasi kebijakan, sehingga publik dan komunitas diplomatik internasional kehilangan arah komunikasi resmi dari kementerian luar negeri.

Dino Patti Djalal(62), PhD, London School of Economics and Political Science (LSE), Master dari Simon Fraser University (Kanada) dan menjabat sebagai Ketua Organisasi Diplomat Internasional, melalui laman X (Twitter) menyoroti empat kritik utama terhadap Menlu Sugiono.

Pertama, absennya komunikasi publik yang konsisten.

Kedua, lemahnya inisiatif diplomasi dalam menjawab isu regional.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Ketiga, gaya kepemimpinan yang lebih berorientasi pada citra personal ketimbang substansi kebijakan.

Keempat, penggunaan fasilitas mewah seperti mobil dinas Ferrari yang menimbulkan kesan tidak profesional dan jauh dari etos pelayanan publik.

Kritik ini memperlihatkan jurang antara ekspektasi masyarakat terhadap seorang Menlu dengan kenyataan kinerja yang melempem.

Jika ditilik dalam kerangka literatur mutakhir, kelemahan ini semakin jelas dengan merujuk antara lain:

Sulmaan Wasif Khan(45), profesor sejarah internasional di Tufts University, Massachusetts, AS., dalam Haunted by Chaos(2023) menunjukkan bagaimana kebijakan luar negeri Tiongkok dibentuk oleh ketidakpastian dan ancaman regional, yang menuntut respons diplomasi yang tangkas dan visioner.

Chris Miller(41), dalam Chip War: The Fight for the World’s Most Critical Technology(2022), menegaskan bahwa perebutan teknologi semikonduktor adalah arena baru geopolitik yang menuntut keterlibatan aktif para Menlu dalam membangun strategi nasional.

Kini, menurut profesor di Tufts University dan nonresident senior fellow di American Enterprise Institute, computing power(chip) menjadi faktor penentu dalam rivalitas global.

Diplomasi internasional berkualitas harus mampu mengelola perebutan kekuasaan digital ini, bukan sekadar hubungan tradisional antarnegara

ADVERTISEMENT

Namun, dalam konteks Indonesia, Menlu Sugiono justru gagal menampilkan kepemimpinan yang mampu mengantisipasi isu-isu strategis seperti migrasi tenaga kerja ke Cina, kerjasama ekonomi lintas kota, maupun penanggulangan bencana banjir besar yang membutuhkan diplomasi urban sebagai pendekatan baru.

Diplomasi urban menuntut seorang Menlu untuk tidak hanya berfokus pada hubungan antarnegara, tetapi juga membangun jejaring antar kota, pusat industri, dan komunitas transnasional.

Ketika Menlu absen dari panggung publik dan lebih sibuk dengan citra personal, maka diplomasi Indonesia kehilangan momentum untuk beradaptasi dengan tren global.

Kritik Dino Patti Djalal bukan sekadar serangan personal, melainkan refleksi atas kebutuhan mendesak untuk mengembalikan profesionalisme diplomasi Indonesia.

Dalam era di mana kota-kota menjadi aktor global, teknologi menjadi arena perebutan kekuasaan, dan ketidakpastian regional menuntut respons cepat, kinerja Menlu yang melempem adalah kemunduran yang nyata.

Apabila diplomasi urban dijadikan kerangka kerja, maka peran Menlu seharusnya menjadi penghubung antara birokrasi pemerintahan internal dengan jejaring kota dan negara sahabat.

Tanpa itu, Indonesia akan tertinggal dalam percaturan global.

Kritik yang muncul dari Dino dan literatur mutakhir menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia membutuhkan revitalisasi, bukan sekadar pameran foto tanpa suara di IG Menlu, melainkan kepemimpinan yang berani, komunikatif, dan visioner.

coversongs:

Hymns of Diplomacy adalah sebuah track karya Jon of the Shred alias Jonathan Reilly(40), musisi multi-instrumentalis asal Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat.

Makna karya ini berhubungan dengan atmosfer musik eksperimental yang menyoroti ketegangan, negosiasi, dan nuansa “ritual” dalam diplomasi, seolah diplomasi itu sendiri adalah sebuah himne atau liturgi yang penuh simbol dan kekuatan tersembunyi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Ketika Pohon Bicara

Pemerintah VS Rakyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com