• Latest
Budaya Menulis dan Membaca Yang Loyo Sementara Mimpi Hadiah Nobel Sudah Digantungkan di Langit - 42fe8929 d098 474e 9fcb c9041d8b7c46 | Budaya membaca | Potret Online

Budaya Menulis dan Membaca Yang Loyo Sementara Mimpi Hadiah Nobel Sudah Digantungkan di Langit

Januari 18, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Budaya Menulis dan Membaca Yang Loyo Sementara Mimpi Hadiah Nobel Sudah Digantungkan di Langit

Jacob Ereste by Jacob Ereste
Januari 18, 2025
in Budaya membaca, Budaya Menulis, Indonesia, Literasi
Reading Time: 3 mins read
0
Budaya Menulis dan Membaca Yang Loyo Sementara Mimpi Hadiah Nobel Sudah Digantungkan di Langit - 42fe8929 d098 474e 9fcb c9041d8b7c46 | Budaya membaca | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Jacob Ereste

Kesadaran dan pemahaman terhadap gairah membaca masyarakat, diakui dan dipahami oleh banyak orang, akibat gerakan aktivitas dan semua bentuk pekerjaan pekerjaan yang semakin cepat. Juga telah menjadikan bagian dari bidang pekerjaan pelayanan jasa yang mulai mencari bentuk, agar dapat menjadi sumber penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup dan penghidupan yang layak serta pantas menjadi unggulan bidang pekerjaan di masa depan.

Maka itu,  jasa pengantaran orang dan barang terus berkembang pesat menjadi penawar riak gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang tidak lagi menjadi topik masalah pokok bagi kaum buruh, maupun bagi organisasi buruh. Biasanya sebagai alasan untuk melakukan aksi mogok dan unjuk rasa seperti yang marak terjadi pada tahun 1980 hingga tahun 2 000. Kini soal PHK tidak lagi cukup menggetarkan gerak perlawanan kaum buruh maupun organisasi buruh. Sebab bangunan dari pemecah gelombang dari PHK telah mampu diredam oleh gojek dan ojek yang bisa dilakukan dengan mudah hanya dengan memiliki kendaraan bermotor roda dua. Apalagi untuk mereka yang memiliki kendaraan roda empat yang dapat dilakukan dengan cara sambilan, sementara mencari dan menunggu kesempatan kerja yang baru.

Kecuali itu, sejumlah kaum buruh yang menjadi korban PHK akibat kondisi ekonomi di Indonesia yang semakin memburuk, tidak kunjung pulih sejak enam tahun silam. Ini acap disebut sebagai imbas dari korban Covid-19, tidak sedikit yang memilih membuka usaha sendiri seperti warung makan dan minuman dadakan yang tampak semarak berjejer disepanjang jalan dan jalan di perkampungan.  Meski dengan kondisi yang tidak terlalu banyak bisa digarap menjadi andalan hidup di masa depan.

Sebab persaingan tampak begitu kuat dan keras untuk dihadapi dengan daya beli masyarakat yang letoy dan sangat lemah seperti tidak berdaya diterpa badai ekonomi yang buruk. Lemahnya daya masyarakat yang terus melemah entah sampai kapan akan berakhir.

Inilah sebabnya sejumlah program pemerintah yang bisa meringankan beban hidup masyarakat — seperti makan bergizi gratis, keringanan atau bahkan bantuan membebaskan biaya sekolah anak-anak hingga subsidi transportasi untuk masyarakat di perkotaan layak uluran tangan malaikat yang datang dari surga membawa berita kegembiraan yang perlu, serta layak dikembalikan melalui do’a yang ditiupkan ke langit.

Begitulah kisah dan cerita ikhwal gairah membaca warga bangsa Indonesia menjadi kendor. Lebih ironis lagi para pegiat media sosial di Indonesia — justru menjadikan suguhan visual sebagai sarana paling efektif dan efisien yang bisa digunakan secara maksimal pada era generasi milenial atau gen-z sekarang ini. Mereka justru mengekploitasi gairah membaca yang melempem itu melalui tampilan visual (gambar dan pidato singkat) yang tidak memberi motivasi untuk lebih merenungkan suatu masalah. Sehingga terkesan sebatas kilasan info semata, yang kemudian gampang untuk dilupakan. itulah pula sebabnya media sosial di Indonesia pun jadi marah dan meriah menyajikan gambar, visualisasi sekilas seperti yang termuat dalam YouTube dan sejenisnya yang tak sampai mengajak pemirsa melakukan perenungan, analisis dan berpendapat. Kecuali hanya menjadi penonton belaka. Akibatnya, gairah dan daya baca warga bangsa Indonesia pun — yang harus cerdas seperti amanah UUD 1945 — semakin menjadi jauh seperti panggang dari api.

Lalu, dalam kondisi kemalasan warga masyarakat yang enggan membaca dan semakin doyan menonton tampilan media sosial dalam sajian dan tampilan visual, justru semakin dimanjakan dengan berbagai suguhan dan tampilan atas nama kesukaan dan kemudahan yang diinginkan oleh warga masyarakat.

Konsekuensinya memang dari daya kritis yang mandek — atau bahkan dapat dikatakan menurun ini,  kualitas manusia Indonesia bisa makin tertinggal dari bangsa asing.  Justru semakin menguasai ilmu dan pengetahuan untuk mendominasi masa depan dengan bentuk peradaban yang sesuai dengan suka cita mereka.

Konsekuensinya pun, budaya suku bangsa Indonesia yang sangat diharap mampu menjadi patron budaya masa depan di dunia dengan segenap nilai-nilai spiritual yang luhur berkepribadian khas bangsa Timur, bisa semakin terdesak dan tersudut. Tidak mampu menempati posisi terdepan sebagai garda terdepan dari peradaban manusia yang mewarnai bumi.

Akibat lanjut dari kecenderungan keengganan membaca warga masyarakat di jaman percepatan (perlombaan) informasi online ini bagi penulis yang tidak bermental pejuang, akan ikut larut — kalau tidak bisa dikatakan ikut menyerah pada kondisi dan situasi kemerosotan kualitas manusia ini. Sehingga jera atau menyerah kalah dalam himpitan budaya teknologi cepat-saji yang serba ingin praktis dan gampang, seperti yang membius para pejabat di negeri ini yang mabuk korupsi.

Kecuali itu pun, budaya menulis bangsa Indonesia tak hanya terancam tenggelam — karena tidak tumbuh dan tidak berkembang, tapi juga mati dan punah dari bumi. Sementara bangsa Indonesia sendiri masih tetap bermimpi untuk meraih hadiah nobel yang bergengsi di dunia intelektual ini. Jadi ibarat pungguk merindukan rembulan. Budaya menulis dan membaca yang loyo, sementara mimpi tentang hadiah nobel sudah terlanjur digantungkan di langit. Agaknya, demikian kondisi dan situasi budaya intelektual kita yang semakin tidak selaras, tidak berbanding lurus dengan semangat gerakan kebangkitan spiritual bangsa kita untuk memimpin dunia, membangun peradaban untuk semua bangsa.

Banten, 18 Januari 2025

Share234SendTweet146Share
Jacob Ereste

Jacob Ereste

Next Post
Budaya Menulis dan Membaca Yang Loyo Sementara Mimpi Hadiah Nobel Sudah Digantungkan di Langit - 6e3753fe e496 44a0 8cd9 e68c6250f6a4 | Budaya membaca | Potret Online

EPISODE GURITA TUA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com