POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
December 22, 2025
Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

(Puisi esai ini terinspirasi dari kisah nyata seorang pemuda yang memilih bersembunyi di hutan setelah kuliahnya gagal, karena tak sanggup menghadapi rasa malu di hadapan orang tua.)

—000—

Anca tidak pulang.
Ia berhenti di langkah yang seharusnya
mengarah ke rumah.
Ia berbelok,
menanjak bukit tinggi,
mencari tanah yang mau menampungnya.

Hutan menerimanya
tanpa tanya,
tanpa tuntutan,
tanpa perlu tahu
riwayat kegagalannya.

Di bawah pohon yang tua,
Anca duduk memeluk lutut.
Tanah dingin menempel di kulitnya,
namun itu lebih bisa ia tahan
daripada bayangan mata orang tua
yang sedang menunggu pelunasan hutang
selembar keberhasilan
yang harus ia buktikan

Sunyi merambat di sela napasnya.
Ia merasa pulang berarti
datang dengan pembenaran,
dengan angka,
dengan cerita yang sesuai rencana.

Sedangkan yang ia bawa
hanya kegagalan
yang belum sempat ia maafkan.

Ia tak bisa membawa apa-apa
selain rasa malu
yang tumbuh menjadi beban.

Kuliah itu gagal.
Bukan karena ia tak mencoba,
melainkan karena hidup
tak selalu memberi waktu
yang sama pada setiap orang.
Namun penjelasan semacam itu
terasa tak cukup
untuk dibawa pulang.

Di hutan,
tak ada yang menanyakan IPK.
Tak ada yang membandingkan.
Tak ada kalimat
“Seharusnya kamu bisa.”

📚 Artikel Terkait

Muslailati, SPd Dilantik Sebagai Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Pidie Jaya

Wakil Wali Kota Banda Aceh Ajak Masyarakat Voting Brand Charming

Oli Palsu yang Menggegerkan Publik Kalbar

Adakan Edukasi Kebencanaan Pada Anak, Move up Gandeng Tim Tangga Tangguh Bencana.

Hanya suara serangga
yang datang dan pergi
tanpa peduli
gelar apa yang ia miliki.

—000—

Malam turun pelan.
Anca menatap gelap
seperti menatap dirinya sendiri.
Ia tak ingin menghilang,
hanya ingin tak terlihat
oleh orang-orang
yang membuatnya kecil hati.

Di kepalanya,
rumah berputar-putar
dalam dua wajah.
Yang satu:
tempat ia dulu disambut
tanpa syarat.
Yang lain:
ruang sunyi
dengan pertanyaan
yang membuat dadanya runtuh.

Ia takut.
Bukan pada amarah,
melainkan pada kecewa
yang tak diucapkan.
Takut melihat cinta
berubah menjadi tuntutan.

Anca tahu,
orang tuanya bekerja keras.
Ia tahu harapan itu besar.
Justru karena itulah
rasa malunya tak tertanggungkan.
Ia merasa datang
dengan tangan kosong
ke hadapan doa-doa
yang pernah dipanjatkan
atas namanya.

—000—

Di hutan,
ia menangis perlahan.
Air mata itu jatuh
tanpa saksi,
tanpa perlu dijelaskan.
Untuk pertama kalinya,
ia boleh rapuh
tanpa harus kuat.

Ia bertanya pada dirinya sendiri,
apakah gagal berarti selesai?
Atau hanya berarti
ia tersesat sebentar?

Anca tak menulis surat.
Tak meninggalkan pesan.
Ia hanya menunggu
sebuah pelukan hangat
yang membuatnya bisa pulang,
tanpa merasa dirinya sebuah kesalahan.

Jika kelak Anca kembali,
ia tak butuh persidangan.
Ia hanya ingin
pintu yang terbuka,
dan satu kalimat sederhana
yang tak menuntut apa pun

“Masuklah.
Kamu masih punya rumah
saat dunia sedang tak ramah.”

Sebab tak ada anak
yang memilih hutan
jika rumah
masih bisa menjadi
tempat bernaung
bagi hati
yang sedang runtuh.

CATATAN:
(1)https://kabarselebes.id/berita/2025/12/13/kisah-anca-pemuda-dari-banggai-yang-malu-pulang-karena-gagal-kuliah-di-bandung-dan-sembunyi-di-tebing-pangandaran/
(2)https://lampung.tribunnews.com/news/1197412/tertekan-dipaksa-kuliah-pemuda-nekat-tinggal-di-hutan-bertahan-hidup-makan-daun
(3)https://pijarpsikologi.org/blog/antara-tuntutan-dan-harapan-beban-emosional-seorang-anak-pertama

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Banjir Biasa yang Luar Biasa

Marwah Republik atau Keselamatan Rakyat?Ketika Pemda Aceh Membuka Pintu Dunia di Saat Negara Menutupnya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00