Dengarkan Artikel
Oleh: Ririe Aiko
(Puisi esai ini terinspirasi dari kisah nyata seorang pemuda yang memilih bersembunyi di hutan setelah kuliahnya gagal, karena tak sanggup menghadapi rasa malu di hadapan orang tua.)
—000—
Anca tidak pulang.
Ia berhenti di langkah yang seharusnya
mengarah ke rumah.
Ia berbelok,
menanjak bukit tinggi,
mencari tanah yang mau menampungnya.
Hutan menerimanya
tanpa tanya,
tanpa tuntutan,
tanpa perlu tahu
riwayat kegagalannya.
Di bawah pohon yang tua,
Anca duduk memeluk lutut.
Tanah dingin menempel di kulitnya,
namun itu lebih bisa ia tahan
daripada bayangan mata orang tua
yang sedang menunggu pelunasan hutang
selembar keberhasilan
yang harus ia buktikan
Sunyi merambat di sela napasnya.
Ia merasa pulang berarti
datang dengan pembenaran,
dengan angka,
dengan cerita yang sesuai rencana.
Sedangkan yang ia bawa
hanya kegagalan
yang belum sempat ia maafkan.
Ia tak bisa membawa apa-apa
selain rasa malu
yang tumbuh menjadi beban.
Kuliah itu gagal.
Bukan karena ia tak mencoba,
melainkan karena hidup
tak selalu memberi waktu
yang sama pada setiap orang.
Namun penjelasan semacam itu
terasa tak cukup
untuk dibawa pulang.
Di hutan,
tak ada yang menanyakan IPK.
Tak ada yang membandingkan.
Tak ada kalimat
“Seharusnya kamu bisa.”
📚 Artikel Terkait
Hanya suara serangga
yang datang dan pergi
tanpa peduli
gelar apa yang ia miliki.
—000—
Malam turun pelan.
Anca menatap gelap
seperti menatap dirinya sendiri.
Ia tak ingin menghilang,
hanya ingin tak terlihat
oleh orang-orang
yang membuatnya kecil hati.
Di kepalanya,
rumah berputar-putar
dalam dua wajah.
Yang satu:
tempat ia dulu disambut
tanpa syarat.
Yang lain:
ruang sunyi
dengan pertanyaan
yang membuat dadanya runtuh.
Ia takut.
Bukan pada amarah,
melainkan pada kecewa
yang tak diucapkan.
Takut melihat cinta
berubah menjadi tuntutan.
Anca tahu,
orang tuanya bekerja keras.
Ia tahu harapan itu besar.
Justru karena itulah
rasa malunya tak tertanggungkan.
Ia merasa datang
dengan tangan kosong
ke hadapan doa-doa
yang pernah dipanjatkan
atas namanya.
—000—
Di hutan,
ia menangis perlahan.
Air mata itu jatuh
tanpa saksi,
tanpa perlu dijelaskan.
Untuk pertama kalinya,
ia boleh rapuh
tanpa harus kuat.
Ia bertanya pada dirinya sendiri,
apakah gagal berarti selesai?
Atau hanya berarti
ia tersesat sebentar?
Anca tak menulis surat.
Tak meninggalkan pesan.
Ia hanya menunggu
sebuah pelukan hangat
yang membuatnya bisa pulang,
tanpa merasa dirinya sebuah kesalahan.
Jika kelak Anca kembali,
ia tak butuh persidangan.
Ia hanya ingin
pintu yang terbuka,
dan satu kalimat sederhana
yang tak menuntut apa pun
“Masuklah.
Kamu masih punya rumah
saat dunia sedang tak ramah.”
Sebab tak ada anak
yang memilih hutan
jika rumah
masih bisa menjadi
tempat bernaung
bagi hati
yang sedang runtuh.
CATATAN:
(1)https://kabarselebes.id/berita/2025/12/13/kisah-anca-pemuda-dari-banggai-yang-malu-pulang-karena-gagal-kuliah-di-bandung-dan-sembunyi-di-tebing-pangandaran/
(2)https://lampung.tribunnews.com/news/1197412/tertekan-dipaksa-kuliah-pemuda-nekat-tinggal-di-hutan-bertahan-hidup-makan-daun
(3)https://pijarpsikologi.org/blog/antara-tuntutan-dan-harapan-beban-emosional-seorang-anak-pertama
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






